Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 36 Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, salah seorang ibu-ibu komplek menyodorkan sepiring kue bolu rumahan buatannya pada Felicia. Ditawarkan mampir ke dalam rumah, tapi wanita berbadan besar itu sengaja mampir hanya untuk memberikan makanan itu. Felicia tak bisa menolak.


Warga di kompleksnya teramat murah hati, terkadang menyisihkan sebagian makanan mereka, katanya. Entah apa makanan itu sebenarnya adalah sisa yang sayang mereka buang, apapun itu Felicia dan keluarga selalu bersyukur.


Gadis itu membuka pintu kamar kakaknya, membawa sepiring camilan yang baru dia dapat. Melody pagi ini bukan bangun karena terbangun, tapi karena memang belum menyempatkan waktu mengistirahatkan kepala.


"Dari bu Damar," ucapnya, diletakkan piring itu ke samping komputer pribadi Melody.


Melody melirik adiknya lebih awal, lalu beralih pandangan pada makanan yang dia sajikan. Tangannya terlihat ragu mengambil satu potong kue, tapi dia memakannya dengan cepat. Satu gigitan, tinggal separuh yang tersisa, ia mengunyah perlahan.


"Besok juga basi ini, Fel," ujar Melody, menghabiskan separuhnya.


Tak perlu diberitahu, Felicia sudah memiliki satu buah ditangannya, dia sudah merasakan sendiri. Hanya mengangguk sebagai balasan. Meski berkata seperti itu, keduanya tetap lahap memakan sisa makanan orang lain.


"Bungkus, bawa ke sekolah. Sekalian buat Rudy juga."


Melody melipat tangannya ke meja, menenggelamkan wajahnya di sana. Sebelum terlambat, Felicia mencegah Melody tidur di atas kursi.


"Pindah dulu, di kamar aku aja, ya?" tawar sang adik.


Kasur di kamar Melody sudah lama tak dipakaikan sprei lagi, Melody memilih tidur di ruang televisi. Karena itu Felicia menawarkan kamarnya yang sprei kasurnya halus dan selalu bersih.


Melody mengoceh, "adikku lagi baik cantik ya, kalau ada setan' nya jelek seperti kulit kentang." Matanya sudah sipit sekali.


Ia berjalan menuju kamar adiknya. Setelah dibilang seperti itu, Felicia jelas tak terima dan menarik kata-katanya kembali.


"Gak jadi! Gak usah! Jangan tidur di kamarku, hey!" teriak gadis itu.


Melody merebahkan dirinya di atas kasur yang sangat empuk dan nyaman itu. Sementara dengan perasaan emosi, Felicia menyusul dan mencoba menarik selimut yang dipakai kakaknya. Tak berhasil, tenaga Melody lebih kuat darinya.

__ADS_1


"Kamu gak pernah liat dalaman kentang? Dia sangat lembut, tidak kasar di mulut. Kamu tak kesusahan memasak atau memakannya. Bagian tersulit hanya mengupas saja, itupun tak akan membuatmu terluka," ocehan Melody sebelum memejamkan matanya.


Felicia malas mendengarnya, tidak penting. Dia menyerah dan segera mengais tasnya saja, sudah waktunya berangkat ke sekolah. Tak lupa mengemas kue untuknya dan adik kecilnya, ke dalam kotak makan.


Tanpa menyadari, bukan persoalan kentang yang Melody bicarakan.


Di kamar Felicia, Melody terlelap. Seperti yang biasa dia lewati di setiap tidurnya, hanya kegelapan. Kesadarannya mulai kembali, ia mengamati keadaan dengan telinganya. Karena sedari tadi terdengar bising orang-orang mengobrol di rumahnya.


Siapa orang itu?


Lebih tepatnya, siapa mereka. Nyawa terkumpul, Melody menajamkan pendengarannya. Nada suara wanita tak dikenal, bukan pula logat ibu-ibu di kompleksnya. Firasatnya tak baik.


"... kenapa kamu lebih memilih hidup melarat dan tak terurus di sini? Jangan kuatir, mama mampu membayarkan bimbel untukmu yang jauh lebih berkualitas."


Bola mata Melody membeku. "Wanita itu ...?"


Entah mengapa Felicia kekeuh menolak, Melody risih mendengar pemaksaan kehendak dari wanita itu. Wanita yang mengabaikan anak kandungnya sendiri saat mantan suaminya meninggal.


"Haruskah aku bersyukur?"


Melody ingin segera memangkas pembicaraan mereka, tapi dia masih penasaran apa yang membuatnya ingin bicara tanpa membangunkan dirinya.


"Kamu hanya akan jadi orang yang gagal jika bersama orang gagal. Mama tidak ingin kamu hanya mengandalkan suami seperti mama, mama ingin kamu sukses dan memiliki kekayaanmu sendiri." Wanita bernama Sania itu menaikkan nada suaranya.


"Lihat wajahmu ini," Sania memegang dagu putrinya dengan jari-jarinya.


"Jelek sekali, tidak pernah dirawat, anak itu cuma mementingkan penampilannya sendiri. Makan tak diatur, tidak mampu membeli sebuah apel pun," lanjutnya.


Api kecil ditiup angin, siapa yang bisa menahan amarahnya? Melody membuka pintunya kasar, keluar dari kamar itu artinya sama dengan memasuki ruang tamu. Ia bertatap muka langsung dengan wanita yang bibirnya terus mengeluarkan hujatan.

__ADS_1


"Anda yang jelek, kenapa saya yang disalahkan?" kata-kata ini sayangnya hanya bisa terpendam di hati.


Melody memaksakan senyum, tapi wanita kisaran usia 40-an itu menatapnya tajam, tak menyembunyikan ketidaksukaannya. Melody tetap merendahkan suaranya di depan orang yang lebih tua darinya.


"Felicia? Kenapa gak bilang kalau ada tamu?" ujar Melody.


Hendak dijawab oleh Felicia, Sania mengalihkannya dengan berkata, "itu saja, kamu bisa kabarkan mama kapanpun jika pikiranmu berubah."


Tubuhnya terangkat dan tak lama kemudian beranjak dari rumah itu. Melody sudah menjadi distraksi hanya sekedar menunjukkan diri. Melody tak butuh menahannya, wanita itu sudah sepantasnya angkat kaki dari rumahnya.


Raut wajah Felicia berubah, garis-garis tercetak di dahinya, bola matanya yang terlihat tak bersahabat memaku pada Melody sejenak. Kata-kata Sania memengaruhinya.


Apa yang dikatakan wanita berstatus sebagai ibu kandungnya itu?


"Dia bilang apa?"


Bukannya menjawab, Felicia bangkit, melewati Melody begitu saja dan membanting keras pintu kamarnya. Semakin liar imajinasi Melody membayangkan apa yang dikatakan wanita itu pada adiknya.


...****************...


Di tempat lain, seorang anak yang menjanjikan nilai sempurna pada ibunya gelisah. Kedua orangtuanya yang menemaninya secara langsung, bersama keluarga yang sudah lama tidak berkumpul itu, Daniel membisu anteng di pangkuan ayahnya.


Perjalanan pulang bahkan sama bisu nya. Sang ayah merasa bersalah, karena mengira tak mampu membina keluarga yang baik untuk putra semata wayangnya.


Dahinya menempel di jendela, matanya terus bergeser mengikuti kendaraan lain yang terlewat. Emily mengamati gerak-gerik putranya, jelek sekali akting anak itu.


Ada sesuatu dengan nilainya.


Sampai tak berani menatap Emily.

__ADS_1


Jamie menebak hal yang sama, dirinya tak pernah menekan Daniel walau hanya untuk lulus. Tak ada yang bisa menekannya selain Emily.


__ADS_2