
Ekspresi Daniel berubah sumringah, lima jarinya ia angkat tinggi ke hadapan Melody, lalu direspon oleh Melody dengan memberinya tos. Tetapi senyumannya tak berlangsung lama.
Kemunculan Emily yang tiba-tiba karena ia berniat mengambil makan siangnya, Emily meramu nasi dan lauk pauk yang dia suka di atas piring. Dia tak duduk dan berjalan kembali menuju kamar seusai mendapat makan siangnya.
Seraya melewati Melody ia berbisik, "asuh dia selama di luar atau dalam pengawasanku, jika anak itu berani dekat-dekat atau menyentuhku berarti kau tak becus mengurusnya."
Berlawanan arah, Emily pergi ke kamarnya, Melody berjalan ke arah meja makan. Jamie memerhatikan gerak-gerik Emily, penasaran akan yang dibisikkan olehnya.
Melody mengambilkan obat Daniel, Jamie menyusul berdiri disampingnya dan bertanya, "dia bilang apa?"
Daniel tak dapat mendengarkan dari jarak antara kursi makan dan tempat obatnya disimpan, Melody menjawab, "jaga Daniel baik-baik, begitu ...."
Dibawa obat-obatan itu ke meja makan, Melody tersenyum. "Waktunya minum obat," seru nya.
Daniel meminum obatnya satu persatu, seorang diri namun tetap diawasi oleh Jamie dan Melody. Nyonya rumah itu kembali, terlupa membawa segelas air putih. Wanita itu terhenti melihat Daniel meminum obat, dia menghampirinya.
"Kamu sedang apa Dany?" ujar Emily, tatapannya seperti tidak suka.
Anak itu berhenti meminum obatnya, bertanya-tanya apakah sang bunda tak suka jika dia meminum obatnya seperti itu. Jika benar bundanya mengkhawatirkannya, maka dia akan senang.
"Haluskan obatnya sekarang juga, kamu bisa tersedak dan masuk rumah sakit. Bagaimana mau cepat sembuh, kalau kau banyak tingkah?" tutur Emily, matanya melotot ke arah Daniel.
Melody yang melihat tatapan mata itu geram, ia mengambil dan meremukkan obat Daniel kasar. Berbeda dengan Jamie yang berada di belakang punggung Emily tak bisa melihat raut wajah istrinya yang menakuti Daniel.
"Tunggu Melody. Daniel belum mengiyakan," ucap Jamie.
Melody melepas jari-jarinya dari obat yang tengah dia haluskan. Tak salah, Melody menghaluskan obat menggunakan jari saja diluar kemasannya tentu saja.
__ADS_1
"Lanjutkan saja Melody, Dany tidak mau tersedak," suara Daniel gemetar.
Sekali lagi Melody menurut seperti anjing pada majikan-majikannya. Emily menoleh ke arah Jamie, menyeringai. Lalu wanita itu kembali ke kamarnya setelah mendapat segelas air.
Sebetulnya Daniel lebih suka meneguk bulat obatnya, terasa lebih mandiri baginya dan mengurangi waktu yang terbuang hanya untuk meremukkan sebegitu banyaknya obat. Jamie memberinya kesempatan, tapi entah mengapa Daniel selalu ciut nyali di depan bundanya.
"Kalau begitu terus, sampai kapanpun kamu tak akan pernah punya pendirian," tegur Jamie.
Jamie tak suka menghabiskannya waktunya percuma, ia tetap pergi bekerja, masuk di siang hari. Beruntung Jamie cukup dekat dengan seorang pendiri yang membayar otak Jamie untuk perusahaan konstruksinya. Bukan perusahaan biasa, Brian Dondarion menjalin banyak koneksi dengan perusahaan-perusahaan besar di dunia.
Meski demikian, Brian tetap memberi Jamie peringatan bagi bawahannya yang walau tak pernah libur tapi ia masuk seenaknya.
"Memang saya harusnya berunding dengan Emily semalam, tapi itu akan mempengaruhi kualitas tidur. Bukankah kesehatan saya penting bagi perusahaan anda, Bos?" terang Jamie.
Di bawah senja, dua sahabat karib itu duduk di puncak gedung yang pernah mati di masa paling menyedihkannya, mereka hidupkan kembali. Modal uang dan nyali tak kalah besar dari kedua pihak, dikembalikan beribu ribu kali lipat dari keberhasilan yang berada diluar ekspektasi.
Yang amat jauh jika terjatuh mungkin tubuhnya tak akan utuh lagi. Brian mampu mematahkan prinsip individualisme Jamie, buktinya ia berhasil menjadikannya partner karir dan kehidupan pribadinya.
Hanya Brian seorang yang mengetahui fakta bahwa keponakannya menjadi selingkuhan Emily dua tahun lalu. Jamie membungkam mulut Brian yang penuh amarah ingin membocorkan perselingkuhan itu, menggunakan surat pengunduran diri.
"Rian," panggil Jamie.
Brian menyahut dengan wajah datar, "ya."
"Berapa lama seorang wanita bisa berpaling pada pria lain setelah putus cinta?" Jamie langsung pada intinya.
Brian melotot mendengarnya. Dia membuat kencan buta untuk sahabatnya agar menceraikan Emily, gagal berkali-kali. Siapa wanita ini? pikirnya.
__ADS_1
"Aku sedang tidak membicarakan siapa-siapa, jangan tanya siapa wanita yang ku maksud," sambung Jamie.
Kecewa, Brian membuang napasnya dengan kasar. Ia tak sepenuhnya percaya, tapi kata-kata itu menunjukkan bahwa Jamie tak mau membahas orangnya.
"Beragam, aku sendiri tak bisa mengkalkulasikan nya. Tapi jika seorang wanita tertarik pada pria lain, dia bisa melupakan mantannya atau pacarnya atau suaminya sekalipun," jelas Brian.
Benarkah jika Emily sudah melupakan pria itu dan mulai mencintainya? Entah mengapa, ucapan itu terdengar memiliki makna lain. Wanita yang dibahas adalah istrinya, sekilas dia malah terpikir akan wanita lain dengan kasus yang sama.
Jamie tak membalas, artinya jawaban dari Brian sudah memuaskan baginya. Berhubung matahari sudah tenggelam sepenuhnya, mereka kembali masuk dan menyelesaikan sisa pekerjaan agar segera pulang.
Jamie pulang ke rumah ketika sudah larut, jam makan pun sudah lewat. Khusus di malam ini Emily memasakkan makan malam, Jamie sudah berpesan padanya untuk membawakan Melody makan malam saat ia pulang.
Selepas membersihkan tubuhnya, ia pergi melihat Daniel di kamarnya. Daniel masih terjaga, tubuhnya berbaring di atas kasur sambil memeluk buku. Wajahnya terlihat murung. Jamie melangkahkan kakinya mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Di usap jidat lebar putranya itu.
"Bunda menyuruh Melody mengurus Dany, karena tak mau berdekatan dengan Dany, kan?" lirih Daniel, menyerahkan buku tebal di pelukannya pada Jamie.
Diambilnya buku itu, Jamie menghela napasnya.
"Ayah minta maaf."
"Kenapa Ayah yang minta maaf?" protes Daniel, spontan ia bangun dan duduk karena Jamie melantur.
Yang meminta maaf pun tak tahu pasti, untuk apa dia meminta maaf. Mungkin karena ia merasa tak becus membina rumah tangga nya, sehingga anak malang ini menjadi korban keegoisan mereka.
Atau mungkin karena Jamie terlambat menyadari, Daniel tumbuh tanpa perhatian dari mereka. Jamie yang sibuk meluluhkan hati Emily di awal pernikahan mereka membuat Jamie tak begitu memperhatikan anaknya sendiri.
Emily? Baginya, Daniel adalah anak yang dilahirkan karena sebuah paksaan. Hatinya sudah terbuka untuk Jamie, tapi Daniel masih menjadi luka baginya.
__ADS_1