
Kronologis kejadiannya adalah, anak perempuan itu tak sengaja menabrak tubuh Rudy dari belakang, akibatnya dia terjungkal.
Tampak pria itu menghampiri Jamie, menyapanya dengan akrab seperti seorang teman. Pria itupun meminta maaf atas kegaduhan putrinya pada Jamie. Usai urusannya dengan Jamie dia berjalan mendekati Melody.
Tak diragukan lagi pria itu adalah teman Jamie, Melody mengubah ekspresi wajahnya menjadi se-ramah mungkin. Jika dia teman Jamie, Melody bisa saja direkomendasikan bekerja di sana.
Pria itu mengulurkan tangan, lalu memperkenalkan dirinya setelah jabat tangannya diterima, "Selamat siang, maaf atas perlakuan putri saya dia jadi seperti itu sejak sepeninggal mendiang ibunya. Oh dan juga, nama saya Jonathan."
Menatap lekat Melody. Bukan hanya terpikat oleh kecantikannya, yang dia lihat dalam diri Melody adalah aura hangat keibuan. Pantas wanita ini dijadikan seorang pengasuh, pikirnya.
Melody melengkungkan senyuman manisnya, niat hati ingin meninggalkan kesan baik. Agar tercipta relasi yang bisa membantu kelangsungan hidupnya di masa mendatang.
"Saya Melody. Sudah jangan dipikirkan." Melody melirik sekilas ke arah Jamie, menyunggingkan senyum lagi.
Wajah Jamie terlihat datar saja, Melody kembali mengarah pada lelaki di depannya. Ia penasaran, kenapa jabat tangannya tak kunjung lepas. Telapak tangan Melody rasanya sudah lengket karena tak ada udara.
Setelah cukup lama menatap Melody, pria bernama lengkap Jonathan Ryan Orlando ini seperti menahan tawanya. Dia melepas jabat tangan, berbalik kembali menghadap Jamie.
"Haha, maaf maaf, hanya heran saja kenapa istrimu tidak cemburu kau menerima pengasuh secantik ini," ujar Jonathan.
"Sayang sekali kami harus cepat-cepat pulang, Daniel harus meminum obatnya." Jamie menarik lengan putranya ke sisinya.
"Benarkah?" Jonathan berjalan mendekati putrinya, mengatakan, "Jena, ayo minta maaf."
Jena menolak mentah-mentah perintah ayahnya. Tak merasa bersalah sedikitpun, untuk apa dia berlutut di depan orang lain? Hampir memancing emosi jonathan, ia teringat sedang berada di tempat umum.
"Jangan dipaksakan, meminta maaf bukan keharusan melainkan kesadaran sendiri." Melody membungkukkan badannya mensejajarkan kepalanya dengan anak perempuan itu, ia tersenyum tipis.
"Jena harus belajar menyadari kesalahan, bukan diajari mengatakan kata maaf saat dihakimi bersalah." Tangannya mengusap lembut rambut keriting Jena.
Entah apa hanya pandangan Melody saja, kedua manik mata Jena berbinar-binar. Waktu berjalan setiap detiknya, Melody bergegas bangkit dan pamit pada ayah beranak satu itu karena Jamie sudah mengatakan akan pulang saat itu juga.
Kelelahan bermain, Daniel berakhir di pangkuan Melody, dari balik punggung Melody ia bisa melihat anak bernama Jena itu mematung di tempat, matanya terpaku Melody. Bukan hanya dia, Jonathan pun memandang ke arah yang sama.
"Daniel lekas sembuh, ya," ucap Jonathan berdalih, dari kejauhan.
Daniel tidak suka dengan tatapan mereka, terlihat jelas mereka menyukai Melody.
__ADS_1
Dia menggerutu dalam hati, "cuma karena Melody bertingkah sok keren, mereka jadi menyukainya, dasar lebay!!"
Tanpa membuka satupun celah untuk penyakit tuberkulosis yang menimpa tubuh Daniel, Jamie menyiapkan satu paket obatnya di mobil. Karena jam bisa saja terlewat kapanpun.
Dosis obat yang dikonsumsi Daniel berkurang, hanya beberapa langkah lagi menuju kebebasan. Daniel menunggu-nunggu hari itu tiba, tapi dia sendiri tak tahu pasti, siapa yang akan memeluknya di hari kesembuhannya nanti? Siapa orang yang paling berbahagia menyambut kesembuhan dirinya?
Apakah Emily?
Atau jangan-jangan Melody?
Daniel sedikit mendambakan perasaan Melody bukan hanya karena uang.
Ia membatin, "bolehkah Dany mengharapkan kasih sayang yang lebih, dari seorang pengasuh? Walaupun bunda Dany masih hidup?"
Bak supir pribadi, tak ada yang menemani Jamie di jok depan. Sekilas pak supir melirik cermin tengah, terpantul pemandangan sesosok wanita dengan anak-anak yang tertidur di kedua sisinya.
Semua duduk saling menyender di jok belakang. Natasya bersandar pada Daniel, Daniel bersandar pada bahu kiri pengasuhnya dan Rudy bersandar pada bahu kanan kakaknya.
Jalanan ramai namun damai. Saking menikmati suasana, perjalanan terlalu cepat berlalu, Melody dengan berat hati membangunkan anak-anak yang sudah terlanjur tidur pulas.
Perjalanan yang singkat, baru saja jalan beberapa menit sudah sampai saja, jelas karena mereka mempersingkat waktu dengan tidur. Berbeda dengan dua orang dewasa yang terjaga di perjalanan mereka.
Melody berhenti di depan pintu, ia tak mengenali satu bungkusan paper bag yang dijinjing Rudy.
"Apa itu," tanyanya.
"Dari om Jamie," balas Rudy dengan santainya.
Melody menangkapnya dengan kecepatan 0,5 detik jika Jamie membelikan Rudy sesuatu tanpa sepengetahuan dirinya, karena ia sadar diri akan menolak keras jika mengetahuinya. Ia tersenyum geli.
Digandengnya bahu besar sang adik, sembari masuk ke dalam rumah. Melody menaruh semua belanjaannya. Baru saja membuang napas panjangnya, Felicia entah datang dari mana membuka pintu kamarnya, hendak masuk ke dalam.
Derik pintu terdengar nyaring, senyum pahit Felicia menyambut .
"Bagaimana? Sudah puas-"
...****************...
__ADS_1
"... bersenang-senang?" ujar Emily bernada tinggi, ia jatuhkan tubuhnya pada dinding.
Tangan kanannya, memegang sebotol minuman keras, mengabaikan siapa atau umur berapa yang datang. Daniel memanggilnya dengan suara pilu.
"Bunda ...."
Bukan pemandangan yang bagus, Jamie mengais tubuh anaknya dan berjalan melewati Emily. Digantikan pakaian Daniel olehnya.
"Dany tadi lihat kan, bunda sedih? Ayah tenangkan bunda dulu, Dany tidur saja, oke?" ujar sang ayah.
Lalu mengecup kening putranya yang sudah dia baringkan di atas kasur. Ia keluar dari kamar putranya. Meski dibilang begitu, mata anak itu tak kunjung tertutup juga.
Tak nampak Emily dimana pun saat Jamie keluar, padahal botol minumannya tertinggal bebas di atas meja makan. Segera Jamie mengamankan benda beling berwarna hijau itu ke dalam lemari tempat seharusnya berada.
Jamie tiba di depan kamar pribadinya, dia buka pintu yang menghalangi jalurnya memasuki ruangan. Di hari menjelang sore yang cerah ini, ruangannya tak dimasuki cahaya setitik pun. Gorden tebal menutup sumber cahaya matahari.
Akan tetapi lilin-lilin beraroma menerangi beberapa sudut ruangan. Di salah satu sudut tampak punggung seorang wanita tanpa sehelai benang pun, menyulut api kecil yang kemudian dia pakai untuk menyalakan lilin.
Wanita tersebut berbalik, Terlihat jelas lekuk tubuh polos istrinya. Jamie tak bergeming sedikitpun, maju sejengkal pun tidak. Tanpa menunggu lama, Emily mengambil langkah pertama.
Dia kecup bibir pria yang sudah lama tidak menyentuhnya. Lahap sekali Emily menyantap suaminya. Namun, Jamie sendiri boro-boro aji mumpung, membalas ciuman saja tidak.
Kesal, Emily menarik tangan Jamie dan menempatkannya di atas kasur. Kini tinggi mereka sama, karena Jamie terduduk. Cahaya di area ranjang mereka sedikit lebih terang.
Jamie dapat melihat wajah bengkak Emily, rambutnya kusut seperti habis dijambak dan noda hitam maskara menghiasi pipinya. Ia menyapu pipi basah Emily, lalu membalas ciuman yang dia lewatkan sebelumnya. Emily hendak memimpin, tapi Jamie tak memberinya ruang untuk itu.
Hari yang panas terlewat begitu saja, Jamie melepas pelukan yang melilit tubuhnya. Ia keluar dari kain tebal nan lebar yang melindungi tubuh polosnya dari hawa dingin.
Petang sudah berganti malam, ia tebak Daniel sudah bangun. Maka tak ada yang lebih penting dari obat rutin yang sama sekali tidak boleh terlewat.
Jamie memakai pakaiannya kembali, sembari mendengarkan curahan hati wanita yang masih berlindung di bawah selimut. Perasaan simpatik lah yang mendorong Jamie memenuhi hasrat istrinya. Dia harap itu bisa sedikit meringankan depresi yang dialami Emily.
"Aku memang terkutuk, terlahir di keluarga paling brengsek. Pola pikir si tua bangka itu memang tidak akan pernah berubah, kolot dan tolol. Bagaimana bisa orang tolol sepertinya memimpin sebuah perusahaan?! Disaat aku berniat membangun karirku sendiri di tempat lain, dia malah menikahkan dan menjebak putrinya sendiri di dalam keluarga konyol ini!!"
Tidak diindahkan oleh Jamie, biar wanita itu mengoceh sendiri.
"Aku benci, benci, benci!! Harusnya mereka semua mati saja!"
__ADS_1
Jamie berjalan ke arah pintu. Ia merasa bodoh, keluarga kecil yang dia sayangi tak lebih dari pengganggu dan kekang bagi Emily.
"Yang bodoh itu aku, mengira dia benar-benar berubah dan mulai mencintaiku," batinnya.