Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 52 I Don't Give a Shit


__ADS_3

Melody kedatangan tamu yang cukup jarang dia temui, Melody dan satu orang tamunya tengah duduk di ruang tamu kecil yang hanya muat 4 orang.


Ingat Bu Damar yang pernah memberi keluarga Melody sepiring kue bolu? Tetangga satu ini kepo nya bukan main, langsung menginterogasi langsung pada yang bersangkutan ketimbang mendengar gosip sana-sini.


Melody senang dengan perilaku terbuka seperti itu, terserah tanggapan apa nantinya yang akan Bu Damar berikan. Berdebat langsung jauh lebih baik. Karena dia tak bisa membela harga dirinya jika dia sendiri tak bergabung dalam obrolan-obrolan yang menjelekkan dirinya.


"Wanita ****** tadi itu emang jahat banget dorong kamu sampe jatoh, tapi kita cuma bisa berharap dia gak akan sekejam itu ke anak kandungnya sendiri, kan?" tutur Bu Damar yang membuat Melody tercengang.


Memang sih, semua orang tahu seluk-beluk keluarga kami. Tapi Bu Damar ini, mengatakan '******' pada seorang wanita seperti dia sudah mengenalnya dari dulu!


"Iya, Bu Damar saya juga ngarepnya begitu, hehe," balas Melody sembari tertawa canggung.


Cara duduknya menjadi rapi, merapatkan kedua kaki putihnya yang hanya dibalut oleh celana pendek dan ketat. Menarik bajunya untuk menutup paha hanya akan membuatnya terlihat seperti telanjang kaki.


"Saya cuma mau bilang kalau kamu punya masalah jangan di pendem," ujar Bu Damar. Wajahnya tanpa ekspresi sama sekali, ia bangkit dari duduknya.


"Kamu bisa cerita sama saya. Menurut saya sih, diomongin satu kompleks lebih baik daripada tidak ada yang peduli sama sekali," tambahnya.


"Bu Damar ngaco, ah!" sanggah Melody, bersiap mengantar tamunya yang akan segera pulang.


...****************...


Kediaman keluarga Gray


Cuaca cerah di pagi hari mengobarkan semangat para remaja di hari-hari terakhir liburan panjang mereka, fasilitas yang mewah dan serba ada memanjakan cucu-cucu kesayangan. Seperti yang diharapkan Lena.


Pantulan bola berwarna oranye melayang dan masuk tepat ke dalam jaring, sorakan memuaskan dari pemenang di kala itu menjengkelkan Ferry.


Wasit dadakan mereka pun sudah malas duluan karena saking membosankan nya, ia tak lain adalah si kecil Daniel. Meninggalkan pertandingan tanpa pamit, Rafa dan Ferry hanya saling menaikkan bahu satu sama lain kemudian melanjutkan permainan mereka tanpa ada yang menghitung.


"Hua ... "


Samar-samar terdengar suara tangisan anak kecil saat Daniel berjalan di taman halaman rumah, dugaannya sumber suara itu berasal dari rumah sebelah yang hampir sama besarnya dengan rumah Lena tapi dengan halaman yang lebih kecil.


Intuisinya mengajak Daniel mengintip ke dekat pagar. Tubuh pendek mengharuskan Daniel menaiki tembok pagar untuk bisa melihat ke sisi sebelahnya.

__ADS_1


Dengan penuh kehati-hatian anak itu memijakkan kaki ke atas tembok, tangannya berpegang pada besi pagar tinggi. Berhasil, ia mampu melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau yang menangis di sana adalah Rudy. Daniel juga melihat seorang gadis yang tak pernah dia temui, sepertinya sepantaran dengan si kembar.


"Daniel, Daniell?!" panggil seorang wanita tua berulang-ulang.


Daniel menoleh ke belakang, terlihat neneknya berdiri di teras rumah. Lena pun menemukan anak yang dia panggil, jantungnya seperti mau copot mendapati Daniel berdiri di pagar besi.


"Ya ampun! Dany ...!!!" omelnya, seraya berjalan dengan tergesa-gesa. "Turun cepat!"


"Tidak bisa Oma ..." balas Daniel, memicingkan matanya saat menyadari tembok yang dia naiki cukup tinggi.


"Bagaimana kalau tidak ada oma? Makin lama Dany bisa kepanasan dan jatuh pingsan! Dany mau oma jantungan?" Lena mengangkat tubuh Daniel dan menurunkannya ke tanah.


"Tadi oma ditelpon sama ayah Dany," kata Lena.


Daniel bersemangat menanyakan, "ayah bilang apa Oma?"


Tangan kecilnya dituntun oleh jari-jari neneknya yang berkeriput, kulit tangannya mengendur. Mereka menaiki anak tangga untuk sampai di teras rumah.


"Dany menginap sehari lagi di sini, nanti siang ayah akan mengantarkan obat Daniel ke rumah oma." Lena mendudukkan tubuhnya di atas kursi kayu yang ada di teras rumah.


Harusnya dia pulang hari ini dan bermain bersama sahabatnya, Natasya. Bermain dengan anak-anak di rumah neneknya tidak seseru bersama Natasya. Ia juga sudah kangen pada Melody.


"Oma juga belum tahu, Dany tanyakan saja secara langsung nanti."


...****************...


BRAKK!


Pintu terbanting keras karena kedatangan Emily. Gaunnya masih yang sama dengan semalam, matanya melotot menahan amarah. Jamie di dalam kamar tak heran mengapa istrinya marah, ia jelas sadar telah meninggalkannya di pesta bersama Lena.


"Kau ...!! Beraninya kau meninggalkan aku di pesta untuk berselingkuh dengan wanita rendahan ini!" bentak wanita itu, tangannya menyodorkan ponselnya.


Menunjukkan apa yang dia lihat di handphone-nya. Foto buram yang tak jelas, tapi Jamie tahu betul foto itu adalah dia bersama Melody di dalam kelab semalam. Rupanya bukan karena ditinggalkan, tak diragukan lagi si bocah Tristan yang mengirimkan foto itu.


"Lalu?" tantangnya, "kau mau apa? Cerai?" nadanya amat santai.

__ADS_1


Emily tersentak mendengar kata-kata cerai keluar lagi dari mulut Jamie.


"Perselingkuhan tak akan pernah bisa termaafkan. Tapi aku pernah berbuat kesalahan yang sama dan kamu memaafkan ku, aku akan memaafkan mu. Tapi kamu harus-"


"Maaf?" Jamie menyela perkataan Emily, "bukan aku yang membutuhkan belas kasihan."


Emily tertegun, amarah yang meluap-luap berganti menjadi resah. Mungkinkah Jamie mengetahui rahasianya, Emily bertanya-tanya di dalam kepalanya.


"Aku tidak akan menunggu persetujuan atau perubahan sikapmu lagi, aku muak membuat diriku terlihat lebih bodoh lagi. Pergi temui pacarmu, kita akan berpisah lagipula." Jamie bangkit dan memusatkan tatapan dinginnya pada Emily.


"Jamie ..." Emily mulai menitikkan air matanya, "aku tidak mengerti, apa yang kau maksud?"


Jamie menekan suaranya, "I don't give a **** about you anymore."


Se-kecewa apapun Jamie, tidak memengaruhi tanggung jawabnya pada Emily sebagai suami sahnya. Membawa Emily pulang dengan sopan ke rumah orangtuanya, adalah bentuk kekecewaan terbesarnya. Karena dia tak akan memberi bentuk toleransi sekecil apapun.


Hanya bisa mengisi perjalanan dengan tangisan, semua pakaian dan barang milik Emily yang tersimpan di rumah apartemennya sudah terkemas dalam koper besar, nyaris memenuhi bagasi.


Mobil berbelok ke sisi kiri, terhenti di depan pagar besi yang tinggi. Sekuriti di sana tampak ragu membukakan gerbang mereka, sebab tak mengenal mobil baru yang Jamie pakai. Turunnya kaca mobil membuat para penjaga di sana terkesiap. Segera mereka mendorong sekuat tenaga agar gerbang terbuka secepatnya, ternyata Jamie yang mengendarai mobil itu.


Para pelayan membukakan dua pintu besar rumah tempat Emily dibesarkan dahulu, seorang wanita yang sudah tua renta mengikuti dari belakang.


"Astaga, ada apa ini?" tanya sang nyonya rumah, "Mely, kamu tidak apa-apa?" panggilan sayangnya pada Emily.


"Maafkan saya Nyonya Mendes, saya pulangkan Mely ke rumah Nyonya. Saya bukan pengecut, saya hanya tidak yakin Mely akan diterima dengan baik di kediaman ibunya. Nyonya juga mengerti akan hal itu," jelas Jamie.


"Saya juga akan menemui orangtuanya malam ini." Jamie menghela napasnya sejenak, badannya membungkuk menyejajarkan kepalanya dengan wanita yang dia hormati.


Dengan mata yang tertunduk ke bawah, hatinya tulus melanjutkan, "kepada Nyonya Mendes yang sudah membesarkan dan menyayangi Emily, saya mohon maaf karena ketidakmampuan saya dalam membangun rumah tangga yang baik bagi cucu kesayangan Anda."


Seperti semula, Emily meninggalkan rumah neneknya karena dinikahi oleh Jamie. Kini Jamie mengembalikan Emily. Amelia Kyle Mendes, wanita yang berhadapan dengan Jamie saat ini tercengang oleh keputusan Jamie. Juga turut merasakan kesedihan yang dialami cucunya, Amelia ikut mengalirkan air mata di pipinya yang sudah keriput.


Barang sedikitpun Amelia tak tahu kusutnya benang rumah tangga cucu kesayangannya. Tak bisa diluruskan kembali, meskipun bisa Jamie sudah habis kesabarannya, ia memilih mengguntingnya.


Ketika hendak kembali, Emily meneriakinya, "egois! Kau pria paling egois di dunia ini! Aku membencimu!"

__ADS_1


__ADS_2