
"Huh? Kenapa anak ini ada di sini?" ketus Emily, ditangannya ia menyeret sebuah koper berukuran kecil.
Wanita bertubuh elok, baju yang dikenakannya sopan. Mengira akan disambut oleh sang suami, kala ia pulang setelah sekian lama. Ia memperkirakan suaminya sedang memenuhi kebutuhan biologisnya bersama wanita lain, sekedar membayangkan saja sudah membuat dadanya terbakar.
Bukannya senang bisa melihat kembali anak yang telah dia tinggalkan beberapa bulan, Emily mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar itu. Memilih duduk tumpang kaki di atas sofa ruang depan, ia merogoh ponselnya dan segera membuka blokiran kontak suaminya sendiri.
Dua pesan sudah dikirimkan olehnya, belum terdengar balasan, Emily melihat kembali aplikasi pesannya, sama sekali belum dibaca si penerima pesan.
KLAK
Emily meyakini bahwa itu adalah suaminya, ia beranjak bangun untuk menyambut kedatangannya. Emily melebarkan bibirnya yang merah itu membentuk sebuah senyuman, benar itu Jamie.
"Honey ..." sambut Emily yang masih memakai sepatu hak tinggi menghampiri Jamie.
Pria yang baru tiba dengan menggenggam beberapa kantong di tangannya, terbelalak melihat wujud yang dia pikir hantu, bisa terlihat begitu jelas menyerupai istrinya. Emily dengan percaya diri mengira suaminya tertegun karena ia mengenakan pakaian elegan namun sederhana sesuai selera Jamie.
"Emily ... jika dia Emily yang asli, artinya dia benar-benar habis tersambar petir?" batin Jamie.
"Kamu habis darimana? Kenapa aku tak bisa menghubungimu?" ujar sang istri betulan.
"Entahlah, mungkin aku tak sengaja menekan tombol blokir pada kontak mu waktu aku tidur." Jamie melewati istrinya begitu saja, ditaruhnya barang-barang ditangannya ke sembarang tempat.
"Jamie," Emily membalikan badannya, tangannya melipat. "Aku lelah, ingin istirahat. Pindahkan anak itu dari kamar kita sekarang juga, bed cover nya biar aku yang menggantinya." Nada suaranya berubah dingin.
Jamie menutupi tawanya dengan jari-jari sangarnya, kali ini ia baru percaya kalau itu adalah istrinya yang asli. Jamie ingin membahas semua masalah sebenarnya, tapi dirinya juga lelah dan membutuhkan istirahat.
"Kamu bisa pakai kamar tamu, tak usah repot-repot mengganggu anakku," dinginnya tanpa menoleh sedikitpun.
Otaknya memang lelah dan butuh istirahat, tapi hatinya sungguh membara ingin mengeluarkan seluruh amarah malam itu juga.
__ADS_1
"Anak itu anakku juga! Kau sengaja bilang begitu karena aku pergi meninggalkan kalian?!" protes emily, emosinya semudah itu terpancing.
Jamie tak meresponnya lagi, pria itu malah pergi menuju kamarnya. Dengan cepat Emily mencegahnya, ia belum selesai bicara. Dicengkeram tangan yang lebih besar dari tangan mungilnya.
Jamie menghela napas. "Kita berdua lelah, ada hari esok, kita bisa membicarakannya selagi aku masih belum berubah pikiran. Manfaatkan kesempatan itu baik-baik, Emily." Dilepaskan cengkraman wanita itu.
Belum menyerah, dipeluknya erat-erat pria itu dari belakang. Pipinya mengusap lembut punggung Jamie bersamaan dengan keluarnya kata-kata manis dari mulutnya.
"Tidakkah kamu merindukanku, Honey?" Tangan Emily meraba-raba perut dan dada suaminya dari luar, mencoba menggodanya dengan cara lain.
Akan tetapi, cara itu hanya ampuh jika dilakukan pada pacar gelapnya. Jamie tak terpengaruh sedikitpun, justru ia melepaskan kembali sentuhan dari wanita itu, dengan tatapan jijik.
"Hm? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau datang ke sini karena merindukan keluargamu atau takut akan perceraian?" Jamie masuk ke dalam dan menutup pintunya.
Emily mencoba mendorong dua pintu besar di depannya, namun tak bisa, Jamie menguncinya dari dalam.
***
Terasa sangat canggung bagi Melody, mendatangi rumah Daniel disaat keluarga mereka lengkap. Di depan pintu rumah, ia diam melongo memikirkan, apa keperluannya di sana jika Emily sudah kembali, apakah ia akan jadi pembantu mereka? Melody hanya bisa menuruti perintah bosnya ketika diminta datang.
Melody bersiap mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, tapi tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam. Tampak wajah seorang wanita yang dia temui bergandengan dengan Tristan di supermarket kemarin. Melody memaksakan wajahnya agar tersenyum se-ramah mungkin di depan nyonya rumah itu.
"Sudah berapa lama kau berdiam diri disitu? Cepat masuk!" perintah Emily, ia kembali ke dalam tanpa menunggu Melody.
"Maaf, Kak." Melody dengan cepat masuk, sambil membungkukkan badannya sekali.
Sejak dulu Emily memang sedikit galak pada Melody, mirip-mirip dengan neneknya Daniel. Tapi ia punya wajah yang cukup tebal untuk meminta Melody mengasuh anaknya sewaktu masih menjadi pacar Glenn.
Melody membungkukkan badannya sekali lagi kepada Jamie yang tengah membereskan bekas sarapan mereka. Tak terlihat batang hidung Daniel di ruangan itu, Melody mencarinya sendiri. Tak ada basa-basi sedikitpun, suasana begitu dingin dan bisu.
__ADS_1
Dibuka perlahan pintu kamar bertuliskan nama Daniel Marcelino Gray di papan yang tergantung. Melody tak melihat pemilik kamar itu di kasurnya, ia melihat sekeliling. Daniel tengah tengkurap di lantai memegang buku tebal, menggunakan cahaya matahari yang masuk melalui jendela sebagai pencahayaannya. Di sisinya ada beberapa buku tebal lain yang asing di mata Melody.
"Itu oleh-oleh dari bunda, Daniel?" tanya Melody.
Daniel tersentak, dengan cepat terduduk dan menoleh ke arah asal suara itu. Ia memanggilnya dengan antusias, sembari melambai-lambai tangannya. Melody dengan patuh memenuhi panggilan tuan kecilnya.
Melody melihat buku-buku di sana satu persatu, semuanya berkaitan dan harus dibaca secara bertahap agar bisa memahami secara sempurna. Dilihat dari isinya, Melody menebak semuanya tak jauh dari perekonomian dan bisnis.
Tampak buku-buku itu disukainya, mempelajari hal baru tak pernah membuatnya bosan, karena ia merasa tertantang untuk menguasainya terlebih jika tingkat kesulitannya tinggi. Daniel dengan semangat menjabarkan isi salah satu bab dari buku ilmiah yang baru ia baca pada pengasuhnya.
Melody dengan sekuat tenaga menahan mulutnya agar sebisa mungkin tidak memuntahkan pengetahuannya ketika Daniel gagal memahami sesuatu.
"Bea dan cukai itu masing-masing? Atau tidak terpisahkan?" gumam Daniel, menanyakan pendapat Melody.
"Diam lah, bisakah kita membahas yang lain saja?" ujar Melody dalam hati, lalu terpikir ide di kepalanya.
Melody menepuk tangannya sekali. "Kenapa Daniel baca buku di sini? Tidak sarapan dengan ayah bunda? Obatnya sudah belum?" tanyanya beruntun.
"Sudah, dari sejak Dany bangun, bunda tak mau makan bersama Dany, katanya Dany makan di kamar saja." Wajahnya mulai memerah.
"Karena kamar Dany sudah karuan terkena virus yang ada di tubuh Dany, Dany tak boleh menularkan penyakit Dany di meja makan," lirihnya, tubuhnya bungkuk menunduk.
Matanya berkaca-kaca. Tapi beberapa detik kemudian, alih-alih berlanjut menangis tersedu-sedu, suasana hatinya berubah drastis saat itu juga, dia mengusap-usap matanya hingga kering.
"Oleh karena itu Daniel jangan bolos minum obat, agar bunda mau memeluk Dany lagi, tidur dengan Dany lagi, makan bersama Dany lagi," tutur Melody menyemangatinya.
Ia memilih berhenti menghibur Daniel selayaknya anak kecil, karena tak mempan, tubuhnya kecil tapi sudah merasakan rasa sakit fisik maupun batin.
Daniel tak hanya sekedar melewati hari-harinya dengan bermain dan tidur layaknya anak-anak, pengetahuan dan kecerdasan tak henti-hentinya menjabarkan segala alasan dibalik sebuah peristiwa, meski hanya peristiwa kecil. Terkadang kenyataan bisa menjadi sangat menyakitkan baginya.
__ADS_1