
Jamie terlihat membawa sebuah nampan berisi sepiring makanan di atasnya, karena Melody sudah dibayar untuk mengasuh Daniel maka ia berkewajiban membantu masa perawatan anak yang diasuhnya.
Dia menghampiri Jamie, dan menawarkan diri membawakan nampan itu pada Daniel. Jamie menolak, tapi tak melarang Melody ikut bersamanya ke dalam kamar Daniel.
Wanita itu malah murung, karena gagal mendapatkan alasan agar bisa masuk ke dalam sana, ia tak mau secara sengaja masuk ke kamar itu. Jamie malah bersikeras agar Melody ikut saja. Yang mana pada akhirnya Melody tetap menolak ajakannya.
"Ya sudah, ambil ini," titah Jamie, menyodorkan nampannya.
Dengan penuh hati-hati Melody membawa nampan itu menuju kamar Daniel. Hatinya berbunga-bunga, dari ekspresinya saja Jamie bisa melihatnya. Pria itu turut memantau, sampai Melody masuk dan pintu tertutup.
Merasa Melody akan lama dan bisa berbaikan saat itu, Jamie segera beranjak untuk melakukan pekerjaan lain. Tetapi dengan cepat suara pintu kembali terbuka, Jamie menoleh. Melody keluar dari kamar itu dengan ekspresi lebih murung dari sebelumnya. Wanita itu menggelengkan kepalanya pada Jamie dan pria itu menghela napasnya.
Di dalam sana, Daniel tidak longgar kecewa hanya karena dibawakan makan yang mana itu sudah menjadi tugas sehari-hari Melody.
Ia justru hanya asyik bermain bersama Natasya, meskipun Natasya sebenarnya jenuh. Sedari tadi ia hanya duduk mengobrol dengan Daniel, tak menggambar maupun bermain yang lain.
"Kamar Daniel membosankan sekali, boneka tak ada, robot-robotan tidak ada," keluh gadis kecil itu.
Sebenarnya ada rubik dan puzzle, mainan itu tidak lebih menyenangkan dari sebuah objek yang bisa dijadikan teman ataupun tokoh yang dia inginkan.
"Mainan seperti itu hanya untuk anak kecil," respon dingin Daniel.
Tak ada yang melarangnya, jika menginginkannya, orangtuanya mampu membeli mainan termahal apapun. Mainan yang dibelikan neneknya beberapa kali dia buang.
Setelah Jamie memberitahukan bahwa mainan yang diberikan neneknya tak berguna dan malah dibuah, barulah sang nenek berhenti membelikan mainan. Terkadang anak itu lupa, kalau dia juga anak kecil.
"Sudah kubilang bawa saja alat gambar mu, menggambar di sini." Daniel juga prihatin melihat Natasya berdiam di bawah sana.
__ADS_1
"Bosan menggambar terus."
Daniel tak kaget, suatu saat Natasya pasti akan bosan melakukan hobinya yang dilakukan tak pernah terlewat sehari pun. Sama halnya dengan dia sendiri yang terkadang atau bahkan selalu bosan jika sudah menguasai sebuah topik atau persoalan yang mati-matian dia pecahkan. Ia pun saat ini mulai bosan bermain ponsel, karena mengenal komputer yang lebih besar memancing rasa penasarannya.
"Ah, jadi teringat pada komputer, Dany ingin sekali lagi bermain komputer." Daniel memakai dua telapak tangannya sebagai bantalan di bawah batok kepalanya.
Natasya menyebutkan hal terlarang lain yang juga diinginkannya, "Nat ingin menggambar di tembok, dilarang oleh mama."
Pusing di kepala Daniel berkurang saat ia mencoba mengangkat kepalanya, penglihatannya mengelilingi seisi ruangan. Kemudian terpusat pada rak-rak buku, yang selalu bebas dari butiran-butiran debu. Dinding putih di balik buku-buku yang tersusun rapi di sana, Daniel sarankan sebagai titik yang tepat untuk Natasya menorehkan seni dari tangan mungilnya.
Natasya pada awalnya ragu, tapi imajinasinya terus mendorong agar cepat dilahirkan di dunia dan di media yang Natasya inginkan. Gadis kecil itu segera mengambil alat gambar seadanya dari tas sekolah, di ruang tengah ia hanya melihat tas saja, tak terlihat batang hidung siapapun.
Tubuh mungil Natasya tengkurap di lantai, kepalanya masuk ke dalam rak buku paling bawah. Ia menggunakan ponselnya sebagai senter karena minim cahaya.
Dari dalam rak, menggema suara Natasya yang mengoceh sendiri.
Seraya mendengarkan, Daniel turun dari ranjang dan membuka pintu dengan kaki berjinjit. Dia menebar pandangannya, kaki kecilnya terus berjalan menyusuri ruangan satu persatu.
Hingga Natasya menyusul dan memberitahunya, Melody sudah tak terlihat lagi sejak dia mengambil alat gambar. Wajah datar Daniel berubah menjadi penyesalan, ia pun berdiri di depan kamar tempat ayahnya berada.
Tangan sudah mengangkat, beberapa inci lagi tulang jari-jarinya dapat mengetuk pintu. Pergerakannya tertahan, tak lama kemudian pintu lebih dahulu terbuka.
"Dany?" panggil seorang pria di ambang pintu.
Untunglah pria itu ayahnya, Daniel sampai bernapas lega bukan Emily yang membuka pintu. Anak itu mengamati sekeliling ruang tidur orangtuanya dari luar.
Tidak terlihat Emily ada di sana, karena ia pergi dari rumah tepat setelah Rosa dipulangkan.
__ADS_1
"Mencari bunda?" tanya Jamie.
Daniel beralih kembali pada ayahnya, anak itu menggelengkan kepalanya.
Daniel langsung menimpalinya dengan pertanyaan lain, "apa Melody pulang?"
Tak ada jawaban, yang ditanyakan justru tiba saat itu juga. Dengan percaya dirinya, mengatakan seseorang tengah merindukannya. Daniel mengelak tentunya, ia mulai bicara pada Melody lagi.
Masih dengan sebutan Melody, terlalu berlebihan jika harus mengganti sebutan lagi. Nyatanya pertengkaran kali ini lebih singkat dari sebelumnya, keberadaan Natasya menjadi salah satu faktornya.
Demi mengembangkan suasana yang kian membaik, Jamie bertanya kue apa yang mereka ingin Jamie buatkan. Meski memiliki perbedaan pendapat masing-masing, pada akhirnya Jamie tetap memilih pilihan anaknya sendiri.
Dua tunas yang masih dalam masa pertumbuhan di rumah ini tak mampu berdiam diri. Bilangnya ingin membantu membuat kue, sebaliknya mereka saling menempelkan serbuk-serbuk berwarna putih di wajah.
Melody yang tak ingin ikut campur dengan perang dunia mereka, hanya menikmati pemandangan indah di atas sana. Pria gagah yang memasak tanpa apron itu tak secuil pun adonan menetes di pakaian kemeja putihnya.
Dari pemandangan indah, matanya turun tergoda oleh gula yang berubah warna menjadi coklat pekat karena baru saja dilelehkan pria itu. Jamie mengulurkan sesendok karamel yang sudah membeku padanya, Melody menerimanya dengan senyuman penuh arti.
Sedang asyik ******* permen yang masih hangat, seorang gadis kecil mendongak memperhatikan dirinya. Melody berjongkok menyamakan tingginya dengan si gadis, Melody ringan hati memberikan karamelnya.
"Jangan di gigit." Melody mengusap puncak kepala Natasya, sementara Natasya mengangguk-angguk.
Daniel terdiam melongo melihat dua orang perempuan di depannya bertingkah sok manis di hadapan matanya. Jamie mengulurkan satu sendok lagi karamel beku untuk anaknya yang terkucilkan.
Daniel berdalih, "tidak usah! Dany tidak makan gula bulat-bulat!"
"Ini less sugar."
__ADS_1
Sebuah penjelasan yang tak diindahkan, Daniel menolaknya karena gengsi.