
Air hangat memang paling cocok sebagai tempat berendam. Tenggelam dalam bak mandi yang tak bisa Melody dapatkan di rumahnya. Berbeda dari biasanya, ketenangan menyesakkan baginya.
Ketenangan yang dirasakan bukan ketenangan jiwa, melainkan kesenyapan. Akan tetapi, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Melody tersentak, menyilang kan dua tangannya di depan dada.
Rupanya hanya anak-anak, satu anak laki-laki dan anak perempuan yang sedikit lebih tinggi. Daniel dan Natasya, masing-masing tangan mereka membawa lipatan baju dan handuk.
"Huft ..." Melody bernapas lega, "terima kasih bocah-bocah."
"Hai, baby sitter!" sapa si gadis kecil.
Daniel mengerutkan dahinya. "Bukan baby sitter!" bantahnya.
"Terus apa?" tanya Natasya menggelengkan kepalanya ke kiri.
Tak kunjung menjawab, Daniel mencari-cari informasi di kepalanya. Tak ada jawaban, ia hanya menyimpan sedikit informasi soal penyebutan pengasuh.
"Nanny," timpal Melody.
"Ooh ... begitu," Natasya menerimanya dengan polos.
Namun sebaliknya Daniel, "nanny untuk balita!" bantahnya lagi.
"Di mataku Dany masih balita." ledek si pengasuh
Terukir senyuman jahat di wajahnya. Natasya juga setuju dan ikut tertawa, Daniel berdecak kesal melihat kekompakan mereka.
Di mata Melody, anak itu masihlah balita berdasarkan ukurannya yang mini dan kurus. Tak tinggi seperti anak-anak seumurannya. Berbeda halnya jika mengenai kedewasaan, tentu dia melampaui anak-anak. Sebab itu Melody memanggilnya pria kecil.
Mereka meletakkan baju bersih itu jauh dari bak mandi, dan Daniel berinisiatif duduk menonton alih-alih keluar, tentu Natasya mengikutinya. Melody jelas terganggu, dengan lembut ia bertanya, "kalian mau aku tenggelamkan di bawah sini?"
Daniel mengerti jelas, Melody secara halus mengusirnya.
"Memang kenapa? Kita kan anak kecil, Dany juga masih balita!"
Melody menenggelamkan dirinya dengan posisi lurus, kehabisan kata-kata. Pada kenyataannya ia merasa nyaman karena kedatangan dua bocah ini, yang mana sebelumnya hanya ada suara napasnya sendiri dan cipratan cipratan air. Ia kembali bangun.
Seperti sebuah pahatan patung, bagian leher hingga puncak kepala Melody memanjakan mata dilihat dari samping, bentukannya nyaris sempurna. Daniel ingin sekali mengeluarkan kata pujian. Terhalang oleh gengsi, terlebih barusan dia dipanggil balita.
__ADS_1
"Ambil handuknya," titah Melody pada siapapun yang duduk di lantai sana.
Dengan sikutnya, Daniel menggoncang goncang tubuh anak di sebelahnya. Natasya sigap bangkit dan berjalan mengambilkan handuk, diberikan sehelai handuk itu pada wanita cantik di dalam bak mandi.
Kedua mata Natasya berbinar-binar melihat kulit Melody yang putih bersih seperti susu, tampak gradasi dari hitam ke coklat di rambutnya yang menjuntai panjang.
"Terima kasih," ramah Melody.
Natasya mengukir senyum yang lebar dan tulus. Melody memasang handuknya, Daniel tak bisa melihat apa-apa karena terhalang Natasya yang masih berada di tempat.
Seusai membasuh tubuhnya yang tersiram air hujan, Melody mencuci dan mengeringkan pakaian basahnya. Lalu kembali pada rutinitas mengasuhnya, memakai pakaian milik Emily. Semenjak ada Natasya, pekerjaannya sedikit teringan kan.
Ketiganya duduk di atas karpet bulu. Daniel agak bosan akan hobi menggambar yang Natasya lakukan setiap hari, ia akan menggambar pada suasana hati tertentu. Sebagai gantinya, Daniel tetap melakukan apa yang dia suka.
Bermain ponsel.
"Daniel kenapa pinjam punya Nanny? Apa kamu tidak punya hape?" tanya Natasya sembari mencoreti buku gambar menggunakan tangan seniman nya.
"Tak di ijinkan. Daniel menatap Natasya serius. "Memang kamu punya?"
Natasya mengangguk. Di luaran sana banyak sekali orang tua yang memberi anaknya ponsel pintar, ada yang bertujuan meringankan beban, ada yang terpaksa karena sang anak penasaran. Kalau Melody, mungkin poin pertama.
Rasa penasarannya menggebu-gebu, ia berharap akan bertemu dengan model ponsel lain selain milik ayahnya dan milik Melody. Natasya mengiyakan.
Keduanya memegang hobi kesukaannya masing-masing, tetapi sambil berbagi kelucuan dan keasyikan. Daniel senang berbagi pengetahuan yang baru dia temukan, Natasya senang mendengarkan dan menyimak semua yang diterangkan Daniel.
Cocok dan saling melengkapi, padahal Daniel sempat membenci dan menolak. Tak mudah mendapatkan teman yang cocok dengan karakter masing-masing.
"Gambar yang dibuat Natasya semakin jelas dari waktu ke waktu, bentuknya mulai teratur dan mendekati realistis. Bakatnya terpampang jelas, dengan adanya alat-alat gambar yang lumayan lengkap ini, bisa diasumsikan orangtuanya mendukung," pikir Melody.
"Kamu harus ikut les lukis, Natasya! Guru les akan menuntun kamu sampai jadi pelukis hebat dan terkenal," ujar Melody yang ikut menggambar di sebelah Natasya.
"Hum?" Natasya menundukkan kepalanya agar dapat melihat gambar Melody dengan jelas. "Gambar Nanny bagus, Nanny saja yang ajari aku."
Gambar hasil tangan Melody tertata rapi dan simetris, sehingga terlihat sempurna di mata anak kecil. Padahal unsur seninya tidak ada, seperti tidak niat.
Daniel cemberut, menggerutu dalam hatinya, "apanya yang nanny? Dia pengasuh ku! Bukan kau!"
__ADS_1
Entah mengapa bocah ini tak berani berkata begitu secara langsung di depan Natasya. Ia berlagak sibuk memainkan ponsel.
Hari pun menjelang sore, Natasya meletakkan kembali alat gambarnya kembali pada asal, ke dalam kotak. Seperti biasa, si pengasuh terlelap di sofa.
"Besok sepulang sekolah, jangan lupa bawa hape kamu, ya!!" Daniel melipat buku gambar miliknya yang habis dipakai Melody.
Natasya hanya mengacungkan jempolnya, karena Daniel sudah berkata seperti itu berulangkali. Natasya sedikit bingung, kenapa Daniel tidak menyuruh membawanya hari ini saja, mengingat rumah mereka yang bersebelahan. Seketika Natasya teringat sesuatu ketika Daniel menyebut "sekolah".
"Daniel, mamaku bilang kamu sebentar lagi masuk sekolah," ujarnya bersemangat.
Daniel membalas mengacungkan jempol, lalu bertanya, "kenapa?"
"Kita akan sekolah bersama!" seru Natasya, meraih tangan kecil Daniel.
Terus terang Daniel berkata, "Dany tidak akan sekolah di tempat Natasya sekolah. Tapi di sekolah internasional."
Genggaman Natasya melonggar, senyum riangnya padam. "Kenapa? Daniel tidak mau satu sekolah bersamaku?"
"Tidak!" Lantang Daniel.
Natasya melepas tangan Daniel, bibirnya manyun seperti menahan tangis. Gadis kecil malang itu mengambil kotak berwarna merah mudanya dan pergi keluar. Ia hendak menutup pintu rumah itu, tapi Daniel berlari mengejarnya. Ditahan ujung pintu oleh Daniel, membuat Natasya terhenti.
"Besok, jangan lupa bawa hape!" ucap Daniel dengan nada datar, tapi menyeringai seperti tanpa dosa.
Natasya menghiraukannya dan lanjut pulang ke rumahnya di sebelah. Langkahnya begitu cepat dan hentakannya terdengar keras.
Sungguh, Melody yang sebenarnya sudah terbangun dari alam tidurnya sejak Natasya membahas sekolah Daniel, pun ikut sebal mendengarnya. Laki-laki macam apa dia? pikir Melody.
"Kau tak pantas dipanggil little guy!!" batinnya.
Daniel menutup pintunya, ia berbalik.
"Melody, aku ingin sekolah di tempat Natasya," ungkapnya, "tidak usah pura-pura tidur, Dany tahu Melody tidak tidur."
Anak itu duduk di depan Melody, tampak wajahnya memelas. Hanya melihat wajahnya, Melody bisa melihat rantai yang mengekang kebebasannya.
"Ya sudah, kamu cuma perlu bilang ke ayah dan bunda mau sekolah di sana," ujar Melody apa adanya, matanya kembali menutup.
__ADS_1
Tak menjawab apa-apa, Daniel malah melengos pergi bermain ponsel lagi.