
Emily kecil tengah duduk di pangkuan ayahnya, di atas kursi putar yang ada di ruang kerjanya. Setiap hari sang ayah sibuk bekerja, Emily kecil senang menemani dan mengamati kesibukan ayahnya yang terlihat keren dan heroik.
Karena rasa sayang yang begitu besar pada keluarganya, laki-laki itu bekerja siang malam. Begitu mengagumkan, Emily memimpikan sesuatu seperti itu terjadi di hidupnya ketika dia besar nanti. Hidup untuk berkarier, bukan berkarier untuk hidup.
"Aku akan meneruskan perusahaan papa!" seru Emily kecil.
Sekolah menengah pertama berakhir, Emily menantikan langkah-langkah ini. Dimana dia akan memulai ambisinya, karena pikirnya dia sudah bisa memilih. Salah, sang ayah menolak keras keinginan anaknya, memperingatinya apapun yang dia lakukan, hak waris perusahaan tak akan pernah bisa jatuh ke tangan Emily.
Wanita ini dinikahkan dengan pria dari keluarga terpandang, yang sama sekali tak pernah dia kenal. Pernikahan bisnis terjadi, tanpa cinta pada awalnya.
Meski suaminya memberikan hatinya, Emily tak merasakan perasaan yang sama, bahkan adanya Daniel merupakan paksaan baginya. Sejak kelahirannya, anaknya tak lebih dari sekedar alat, untuk mewujudkan ambisinya. Apalagi setelah mengetahui kecerdasan Daniel di atas rata-rata.
"Daniel harus menggunakan otaknya secara maksimal, agar tidak sia-sia," ujarnya pada diri sendiri sembari berjalan menuju kamarnya.
Dia melakukannya, dengan sangat baik meski sedikit tertekan. Daniel memperhatikan dan menurut agar bisa lebih cepat membereskan pembelajarannya.
Melody penasaran, mengapa Jamie mengijinkannya atau Emily melakukannya tanpa meminta ijin. Ia keluar dari ruang belajar dan melangkahkan kakinya mengikuti ke arah Emily berjalan. Diluar sana siapa lagi selain Emily yang anaknya baru mau masuk sekolah saja sudah heboh. Dia sudah bisa melihat punggung Emily di pintu kamarnya.
"Kak, tunggu," ujar Melody.
Emily menghentikan langkahnya, bahunya terlihat naik turun. Rambutnya yang pendek meski mengurai, lilitan kalung emas di lehernya tampak mengkilap. Wanita itu membalikkan badannya.
"Iya," balas wanita itu.
Dapat dilihat dengan jelas oleh Melody, bola mata Emily memutar malas tepat saat tubuhnya berbalik. Ia jadi segan memangilnya "kakak" disaat posisinya sekarang adalah seorang pengasuh yang Emily bayar.
Melody merendahkan suaranya, "Daniel menguasai bahasa Inggris dan semua ilmu dasar yang dibutuhkan agar lulus tes, sebenarnya apa yang Daniel kejar?"
Meski terlihat tak peduli, ia mengamati perkembangan belajar Daniel sebenarnya. Lebih cepat dan cermat dari dua adiknya, namun tak jauh berbeda dari dirinya di masa 20 tahun silam.
__ADS_1
"Saya mengutamakan pendidikan, tidak boleh satupun dari keturunan saya tak berpendidikan dan serampangan seperti kamu," cibir Emily.
"Memalukan bukan? Untung Glenn tidak menikah dengan kamu, keluarga Sasha jauh lebih terhormat dari yatim macam kamu yang tak punya apa-apa," sambungnya.
Melody masih mengumpulkan butiran-butiran kesabaran untuk cemoohan pertama, sudah ditambah lagi dengan yang baru. Harga dirinya ditindas habis, jika bukan karena Daniel Melody tak sudi meneruskan pekerjaan ini.
Sisi jahat hati Melody berkata, "jauh lebih mudah jika kau rebut suaminya, pasti wanita itu akan menangis darah. Ya kan Melody baik?"
Sisi baik hati Melody menyangkal, "jangan! Kita semua akan celaka, dasar jahat! Lebih baik jangan diteruskan dan bantu Daniel saja meringankan bebannya, jangan sampai kita merusak rumah tangga orang!"
"Yang kedua lebih masuk akal," ujar Melody netral di dalam hati.
Tanpa sempat mengajukan saran, Melody mundur duluan. Wanita itu tak akan berubah pikiran begitu saja, apalagi jika yang memberi saran bukan orang yang disukainya.
Ia kembali menengok si genius kecil di ruang belajarnya, menyender dan menyilang tangan di kusen pintu. Daniel melirik dan menunjukkan giginya ke arah Melody sesekali.
Daniel bahkan mulai hilang respek padanya, memaksa sekali. Jam istirahat bertambah, tapi begitupun dengan jam belajar. Materi pun terus naik ke tingkat yang lebih tinggi, makin Daniel menguasai semakin tak ada habisnya.
...----------------...
Hari-hari belajar yang panjang berlalu, hari tes sudah di depan mata. Tinggal menunggu jam, setelah Daniel tidur dia akan bersiap ke tempat yang telah ditentukan.
Langit sudah gelap, Daniel belum membolehkan Melody pulang. Apa yang dia khawatirkan besok, Melody tak mampu menerka. Di atas kasur, Daniel hanya menatap langit kamar. Pikirannya tak berada di sana, menurut Melody melayang-layang di atas awan. Disadari Daniel atau tidak, tangan Melody sudah pegal-pegal membelai rambut halus anak itu yang tak kunjung tidur.
"Kenapa sih? Persiapan mu sangat matang, terlalu matang deh sepertinya. Atau jangan-jangan busuk? Makanya kamu takut gagal?" tawa Melody pecah seketika.
Alis Daniel tiba-tiba turun, seperti mau menyatu. Melody berhenti tertawa, ia mengira Daniel akan mengatakan sesuatu. Tapi rupanya Daniel sudah menutup matanya, badannya masih bergerak-gerak. Melody menunggunya sekitar beberapa menit, saat ia yakin anak itu sudah tertidur baru Melody meninggalkannya.
Melody tengah mengikat tali sneaker nya di lantai dekat pintu utama, bayangan dan suara langkah kaki mendekat. Siluet tubuh yang besar tercetak di dinding minim cahaya ruang, Melody menengok ke belakang.
__ADS_1
Jamie masih dengan pakaian kantornya, menjinjing rantang stainless. Melody memperhatikan benda bersusun tiga yang Ditaruh di samping tubuhnya itu, lalu mendongak dengan tatapan heran.
"Kamu gak pernah bilang, selama ini Emily mengisi wadah ini dengan nasi yang banyak tapi dengan telur mentah yang harus kamu goreng sendiri?" ujar Jamie.
Selesai dengan sepatunya, Melody berdiri namun masih harus sedikit mengangkat kepalanya karena selisih tingginya cukup jauh, 12 sentimeter.
"Hahaha, iya kak harus goreng mandiri, tapi tenang telurnya tiga kok, enggak kurang atau dilebih-lebihkan." Senyuman Melody mengembang.
Sekilas sekilas Melody tak sengaja melihat dada bidang Jamie yang sedikit terbuka, kancingnya sudah dua terlepas. Bola matanya terus bergerak dari tengah ke samping berulangkali, sampai Jamie menyadarinya.
"Lusa tunggu saya pulang, saya akan memasak dengan benar," tutur Jamie.
"Tidak, jangan rep-"
Melody memotong ucapannya sendiri, "Melody libur besok?"
Khusus esok hari, Jamie mengirimkan surat ijin tak masuk untuk mengantar Daniel. Melody terkejut tentunya, selain akhir pekan, tak ada kata libur di kamus Jamie.
Dia gila bekerja, tapi tak melupakan Daniel adalah prioritas pertamanya.
"Saya tidak libur, artinya kamu tidak libur juga." Jamie membalikkan badannya, seperti ada yang mendekat.
Rupanya karena mendengar langkah Emily yang mendekat, sudah lama ia merasakan aura seseorang dari kejauhan. Jika Daniel sudah terlelap, maka siapa lagi.
"Apa-apaan kau?! Anak itu tak boleh libur." bantah wanita itu tiba-tiba.
Jamie tetap tidak merubah keputusannya. Suasana dirasa kian mencekam, Melody tak ingin berlama-lama di sana. Keduanya mulai berhadapan seperti macan yang siap mencekik satu sama lain.
Nyamuk seperti Melody tak perlu sengaja diam-diam pun aura keberadaannya lemah, mereka tak menyadari decitan pintu yang terbuka apalagi suara langkah halus sneaker.
__ADS_1