Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 54 Tetangga Baik Hati


__ADS_3

Malam yang sangat panjang baru saja dilalui, Melody terbangun di bawah gelapnya langit. Badannya terasa ngilu dan pegal-pegal sewaktu di tarik dari gravitasi kasur yang lengketnya seperti lem tikus. Melody berjalan keluar kamar, ia dapati gelap gulita seluruh ruangannya, bahkan dari luar rumahnya seperti tak berpenghuni.


Kali ini tidak ada cahaya lampu mengisi celah pintu kamar yang dulu dipakai adiknya. Melody yakin sepenuhnya, entah dimana pun adik perempuannya berada, dia pasti masih membiarkan lampunya menyala.


Suara gemuruh di perut keroncongan Melody terdengar, perih tetapi tak diindahkan olehnya. Wanita itu kembali ke kamarnya setelah menghidupkan satu lampu, yaitu di depan rumahnya agar tak terlihat seperti rumah kosong.


Waktunya berhadapan dengan layar monitor. Melody menahan dagu dengan telapak tangannya, memainkan papan ketik dengan lima jari saja. Wajahnya, sama kusutnya dengan rambut panjangnya yang hampir sejajar dengan perut.


Kesal karena tidak bisa menemukan dimana ponselnya berada, Melody mengirim pesan pada Tristan melalui situs miliknya. Situs yang menjadi awal mula bertemunya dia dengan pelanggan setianya itu.


"Huh? Setia? Dia itu cowok brengsek!" sanggah dirinya sendiri.


Tak kunjung mendapat pesan balasan, Melody melirik pada angka jam yang sangat kecil di pojok layar monitornya.


"Wajar sih, ini tengah malam," ucapnya lagi.


Pesan tak terduga muncul dari pengguna bernama 'little guy' isinya mengeluh karena nomor Melody tak bisa dihubungi olehnya. Melody membalas pesan itu.


"Hapeku hilang little guy."


Percakapan berlangsung lama, Daniel terus mengiriminya pesan yang panjang agar Melody tak lepas dari ruang obrolan. Melody tidak bisa mengabaikan jika Daniel bicara seperti ini.


"bunda cuekin dani."


Rupanya ia hanya ingin mencurahkan isi hatinya, Melody hanya menyimak saja walau terheran-heran, mereka akan bertemu besok mengapa harus bercerita sekarang. Seusai nya, Melody dengan tegas menyuruh anak itu segera off line dan tidur.


.


.


.


Keringat bercucuran di sekujur tubuh Melody, jarak lari paginya dikurangi setiap harinya. Paru-parunya dirasa semakin lemah, Melody menyadari itu adalah akibat dari kebiasaan merokoknya yang sulit dia hentikan. Melody membersihkan tubuhnya, mempersiapkan dirinya untuk kembali bekerja.


Sudah lama Melody mencicipi rokok dan menggunakannya, sejak SMP. Melody membagi pengaruh buruk itu pada teman SMA-nya, Aditya.


"Tidak!" bantah Aditya, memundurkan tubuhnya ke belakang karena disodorkan sebatang tembakau.


"Cobain dulu, nanti kamu akan merasakannya," rayu Melody, seragam putihnya nya tertutup oleh hoodie.


Pada akhirnya laki-laki itu terjerumus dalam kecanduan lebih parah dari Melody, padahal wanita itu sama sekali bukan pecandu. Dia hanya menikmati rokok sesekali.

__ADS_1


"Bukan pecandu?!" pekik Aditya, dia sudah menjadi pecandu rokok yang habis sebungkus sehari.


Melody cengengesan, "Ya! Aku masih sayang tubuhku."


Mengingatnya saja sudah membuat Melody tertawa terbahak-bahak, sembari memakan roti tawar tanpa olesan apapun.


Kematian ibunya memicu candu rokok menjadi parasit di tubuhnya, stress dan kesedihan yang mendalam membuat Melody tergantung pada rokok, jarinya tidak pernah lepas dari benda pemangkas umur itu.


Melody membuka pintu kulkas, mengambil sekotak susu murni. Mulutnya meneguk susu, tetapi matanya terpaku pada isi kulkas yang penuh dengan bahan baku makanan. Melody menarik kotak susu dari mulutnya.


Berkata, "nah, siapa yang akan memasak semua ini?"


TOK! TOK! TOK!


TOK! TOK!


TOK TOK TOK!


"Iya ..." sahut Melody, ia bergumam, "gak sabaran banget."


Pintu dibuka, mata Melody terbelalak melihat kedatangan Lena Gray di rumahnya. Wajah wanita tua itu tidak bersahabat sama sekali, menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Tangan tamu dadakan itu, terangkat dan mendaratkan tamparan yang keras sekali di wajahnya, Melody nyaris tersungkur ke belakang.


Tangannya bertahan pada pegangan kursi hingga ia gagal terjatuh ke lantai, tapi tak bisa menghindari jatuhnya susu kotak yang dia pegang. Bukannya takut, Melody dongkol menerima tamparan yang tidak dia ketahui sebabnya.


"DASAR PELAKOR!" bentak Lena.


"Ya ampun, sampai kapan aku akan terus hidup di maki-maki orang di depan rumahku sendiri?" keluh Melody dalam hatinya, seraya tangannya mengusap pipi yang habis ditampar.


"Tidak puas menghancurkan hidup ibu dan adik-adikmu sendiri, kau mau menghancurkan rumah tangga orang lain juga?!"


Aku tidak menghancurkan Felicia dan Rudy, mereka yang menghancurkan hatiku!


"Jangan berani datang lagi ke rumah anak saya dengan alasan menjadi pengasuh! Kamu hanya menjadi racun di dalam rumah tangga anak saya!" Lena mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Melody.


"Apa kamu sebegitu dendamnya pada keluarga saya, sampai berani-beraninya menghancurkan keluarga anak saya, dari dalam!?"


Mungkin ia sudah tua, tapi energinya untuk memaki orang tidak menua. Semua orang di sekitar rumah Melody dapat mendengar keributan sekeras itu, dua hari berturut-turut tamu Melody menghebohkan warga.


"Anda tidak malu? Membahasnya di depan umum." Melody menatap ke bawah, mengambil kotak kertas yang isinya sudah berceceran di lantai.


Segera ia menutup pintu setelah Lena setuju untuk membahasnya di dalam, di ruangan yang lebih sempit dari kamar mandi yang ada di rumah Lena.

__ADS_1


Salah seorang bodyguard bertanya pada supir pribadi keluarga Gray, "oi? Benarkah tidak apa-apa?"


Supir itu menjawab, "memang kenapa?"


"Kau tak tahu, ya? Wajar sih, karena kau orang baru."


Pria berbadan kekar itu mendekatkan mulutnya ke telinga pria berbadan kurus di sampingnya lalu berbisik, "Kudengar gadis cantik itu pernah membunuh ibu kandungnya sendiri."


Supir pribadi itu tersentak. "Bodoh! Itu tidak mungkin!"


"Ya, banyak sih yang tidak percaya."


"Kalau benar, mana mungkin gadis itu masih bisa berkeliaran dengan bebas," ujar sang supir, "mungkin dia pelakor, tapi dia dulunya seorang anak yang diasuh oleh ibunya. Mustahil."


BRAKK!


Tidak ada santai-santai nya, Lena membuka pintu kasar dan ibu-ibu komplek sudah berkumpul saja di depan rumah itu. Wajah mereka terlihat semerah api, menggeram kesal begitu Lena keluar.


"Tidak ... Aku akan di usir," gumam Melody dalam hatinya.


Melody sedikit lega, tidak mendapati kehadiran pak RT dimana pun. Hanya ibu-ibu komplek saja. Mereka mulai membuat keributan itu sendiri, salah satunya yang kerap kali di panggil Bu Damar menempatkan dirinya di barisan paling depan.


Kedua bodyguard yang bertugas melindungi Lena memasang badan mereka untuk memberi jarak antara nyonya mereka dan para warga.


"MELODY KAMI TIDAK SEPERTI ITU!" seru bu Damar.


Melody melongo. Warga lain pun mulai mengeluarkan suara mereka.


"Benar! Jangan menuduh seenaknya!!!"


"Mobil mahal, tapi tidak punya sopan santun!"


"Melody bukan pelakor!"


Lena sontak memelototi mereka, tapi warga pemberani itu tanpa rasa takut membela tetangga muda mereka yang hidup sebatang kara. Lena segera masuk ke dalam mobilnya.


"MELODY TIDAK MERUSAK RUMAH TANGGA SIAPAPUN!!!" teriak salah seorang wanita paruh baya, memekakkan telinga Lena yang sudah di dalam mobil, apalagi orang-orang di sekitarnya.


Para tetangga itu menepuk-nepuk punggung Melody, sambil tersenyum mereka mengatakan akan membelanya disaat seseorang mencoba memfitnahnya. Melody hanya bisa memaksakan bibirnya agar tersenyum, sebagai balasan perbuatan dermawan dari ibu-ibu itu.


Aduh, terima kasih. Tapi, aku baru saja melakukannya sehari yang lalu! Mereka mencibirku saat aku menerima pelanggan joki di malam hari, tapi membelaku saat aku benar-benar merusak rumah tangga orang.

__ADS_1


Ibu-ibu ini memang gila!


__ADS_2