
Sisa satu jam lagi, waktu Melody bersiap menuju acara yang selalu dinantikan. Pakaiannya sudah cantik dan elegan. Tak ada lengan di gaun floral berwarna putih kecoklatannya hingga menampilkan bahu, tapi ia menutupinya dengan sweater rajut dengan warna senada, brunette.
Rasa penasaran memancingnya untuk memeriksa apa semua yang dia belanjakan berguna atau tidak. Melody terduduk di meja makan, menyadari jika roti yang adiknya masak tadi pagi adalah roti terakhir dan sudah lama tak ada sekotak pun susu yang mengisi kulkas. Tapi selain bahan makanan, Melody tak salah.
KLAK.
Suara pintu terbuka, Melody hanya perlu menengok ke kanan, ia bisa melihat Rudy masuk ke rumahnya.
"Benar, kak Cia di rumah Deden," ujar sang informan terpercaya, Rudy.
Deden yang dia sebut adalah adik dari Vian. Meski lebih tua dua tahun darinya, Deden adalah salah satu teman sekomplek Rudy.
Sampai saat ini Felicia belum kembali. Melody cukup lega mengetahui adiknya masih berada di kompleks perumahan, lebih tepatnya di rumah Vian, teman satu SMP Felicia.
"Oke, kamu boleh kembali bermain diluar. Kalau sore kakakmu belum pulang juga, jemput dia ya. Aku juga tidak akan lama, nanti malam juga pulang," tutur Melody hendak meninggalkan rumah juga.
Melody memutar kunci rumah dan menyerahkan benda logam itu pada adiknya. Bersama mereka berjalan sampai pada persimpangan yang memisahkan mereka, Melody berniat meminta maaf terlebih dahulu pada Felicia.
Setibanya di rumah yang Felicia singgahi, keluarga gadis bernama Vian itu menatap sinis pada Melody. Wanita ini masih sempat pergi bersenang-senang setelah apa yang dia lakukan pada adiknya, sungguh tak berperasaan. Begitu gemuruh di hati mereka.
Tanpa sempat bertemu dengan Felicia, Melody sudah dicegah oleh keluarga itu. Katanya Felicia butuh sendiri, tak usah Melody menyakitinya lagi.
Keluarga itu terlihat begitu menyayangi Felicia seperti anak mereka sendiri, Melody tersadar telah melukai perasaan Felicia dengan sikap egois dan tempramental nya.
__ADS_1
"Kalau kamu punya masalah, jangan dilampiaskan pada adikmu. Dia memang adik tiri, tapi kamu adalah orang dewasa, jangan membencinya hanya karena dia seorang adik tiri yang telah mendiang ayah tiri mu bawa," nasihat Runi, ibu Vian.
Melody hanya mengangguk dan memaksakan senyumannya. Meski harus mendengar kata-kata menusuk lagi, satu hal yang bisa ia ketahui bahwa keluarga itu amat menyayangi adiknya.
Apa yang perlu dia jelaskan? Sebaik apapun Melody menjelaskan dirinya, tak bisa mengubur pandangan buruk orang lain padanya.
Ia kembali melanjutkan perjalanan, menuju gerbang keluar perumahan. Akan tetapi, belum juga sampai di kompleks terakhir, pengendara motor yang dikenalnya sudah menampakkan diri. Pria dengan helm tertutup itu berhenti dan memutarbalikkan motornya di sisi Melody.
Ditariknya kaca hitam di helm itu, terlihat dua bola mata se-biru lautan. Mata indah itu tak akan terlihat kecuali mereka disorot oleh terik matahari. Melody tak sadar lautan yang memandang ke arahnya telah meredam degup jantungnya yang kencang.
"Kamu baik-baik saja?"
Bahkan suaranya, lembut sekali. Terkadang Melody merasakan perbedaan sikap pada diri laki-laki bernama Aditya itu.
Melody menggelengkan kepalanya dengan wajah datar. Seperti tak ada yang terjadi.
***
Di waktu yang sama, Jamie memarkirkan mobilnya di halaman besar rumah tempat ia dibesarkan sewaktu kecil. Jamie tak parkir dengan benar, karena ia akan pergi lagi.
Dan lagi, Emily enggan menggendong putranya sendiri, menyerahkannya begitu saja pada Jamie. Mereka memasuki kediaman keluarga Lena Gray yang amat luas, pintu dibukakan oleh pelayan di rumah itu. Mereka yang berseragam pembantu itu membungkuk menyambut kedatangan Jamie dan keluarga, lalu kembali pergi ke dapur.
Tak lama kemudian turun seorang wanita paruh baya dari atas tangga lebar nan panjang di rumah itu, mengenakan gaun berwarna biru senada dengan Emily karena tuntutan dress code yang telah ditentukan oleh penyelenggara acara.
__ADS_1
Di samping Lena, wanita berperut besar menggandeng tangannya. Mereka saling menjaga hingga tiba di lantai dasar, meski begitu Lena tak melepas gandengan dari sang menantu, Sasha Nick Gray. Keluarga Gray yang baru.
"Oh, tampannya cucuku, mari sini peluk oma, tidak kangen kah Dany pada oma??" Lena merentangkan kedua tangannya.
Daniel dengan senang hati memberikan pelukan yang telah lama neneknya dambakan, tak lupa kecupan yang meninggalkan bekas di pipi Daniel. Olesan lipstik di bibirnya belum mengering, Daniel bisa mencium antara wangi dan bau khas lipstik.
"Dimana Glenn?" tanya Jamie merujuk pada Sasha.
Meski berusaha menyembunyikannya, gugupnya masih terlihat saat menjawab, "oh, Glenn, reuni dengan, dia pergi ke acara reunian SMA."
"SMA?" Jamie memastikan sekali lagi.
Sasha mengangguk dengan cepat.
Sayang sekali Daniel akan tinggal dan tak ikut bersama ibu, ayah dan neneknya ke acara pesta. Kakak beradik Rafa dan Ferry mengantar Daniel berpamitan sampai halaman depan. Sasha bersama satu pelayan yang sering merawatnya, mengawasi dari teras rumah.
"Hai ..." sapa gugup Sasha.
Daniel tak membalas, malah melengos pergi begitu saja ke dalam rumah. Rafa menepuk-nepuk punggung Sasha, sembari tersenyum. Beruntung masih ada yang ramah padanya.
Mengabaikan obrolan sang ibu dengan menantunya yang duduk bersama di jok belakang, Jamie malah memikirkan hal lain. Mengingat kata-kata Sasha, membuatnya teringat dengan masa lalu.
9 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya Glenn mengenalkan pacarnya, Melody. Waktu itu mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu. Kami sudah mengenal Melody sejak awal, ibu kenal dekat dengan keluarganya. Tapi ibu tak pernah terlihat menyukai Melody, kesan pertama ibu saat Melody dikenalkan sebagai pacar Glenn, buruk.
__ADS_1
Wajah gadis itu terlihat murung, tapi Glenn tak pernah berhenti menyemangatinya untuk mencoba lagi di lain hari. Mau tak mau aku mengamati perkembangan mereka, ternyata aku cukup iri melihat hubungan itu.
Kenapa Lena Gray benci Melody? Itu karena ibu adalah sahabat dari ibunya.