
Berbalut pakaian santai dan tas di punggungnya, Melody memasuki gerbang. Seseorang dari area parkiran berlari ke arahnya, memasang wajah ceria.
"Melow!" sapa lelaki bernama coki.
Teman lama atau om dari si gadis kecil Natasya, kembali berkunjung. Ada apa pikir Melody. Seperti semestinya, melody menyapa balik pria itu. Manik matanya naik memandangi ujung rambut Aditya lalu turun ke bawah. Terlihat rapi dan formal, setelan jas dan sepatunya bukan setelan kantor.
"Kau mau tunangan, Coki?" tanyanya asal saja.
Keduanya berjalan berdampingan ke dalam gedung, tanpa ditanyakan Melody sudah tahu dia akan ke rumah saudarinya.
Nada pria itu meninggi, "enak saja kalau bicara!"
Tak ada yang menyangka, sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan.
Melody dan Aditya saling melambaikan tangan, berpisah di depan rumah yang akan dikunjungi masing-masing. Pengasuh yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Jamie tak terlihat batang hidungnya.
Pria itu sudah pergi bekerja.
Daniel di kamarnya, kali ini dia tak memegang satu atau dua buku pun. Hanya tertidur, memejamkan mata di kasurnya. Melody Mendudukkan tubuhnya di tepi kasur, kelopak matanya naik. Di Usap Halus Keningnya.
Anak ini kenapa, dari dua hari lalu murung nya masih sama. Namun, sepertinya lebih gelisah dari sebelumnya.
"Dany mengisi semuanya dengan benar, nilainya pasti sempurna," ujar anak itu, "tapi ...."
Melody melanjutkan ucapannya, "kamu tak menulis nama?" Tatapannya serius.
Anak itu mengangguk kemudian, mengiyakan. Bagaimana Melody bisa tahu?
Aku sering melakukannya.
Melody menaikkan kakinya ke atas kasur, bersandar pada ranjang sembari menatap lurus ke depan, menautkan jari-jari tangannya di atas perut.
"Kapan diumumkannya?"
Bocah itu mendongak, menatap Melody dan berkata "Hari ini."
Melody pun menatap balik. Suatu pembalasan yang bagus, tapi tak akan berimbas baik pada akhirnya. Emily hanya akan semakin murka ketimbang memberi keringanan.
__ADS_1
Mengingat masa lalu, Melody bergumam dalam hatinya, "ibu paling benci jika aku menyuarakan hatiku dengan cara seperti ini. Aku khawatir Emily juga akan begitu."
Pada akhirnya Melody tertular kebisuan Daniel, mandi, mengisi tugas, tak banyak pembicaraan diantara mereka. Selain mencetuskan ide-ide mengakali amarah wanita itu, tak ada cara apapun sayangnya.
Yang Daniel tahu hari ini adalah pengumuman, jam nya hanya orang tua yang tahu. Daniel pun tak berani bertanya, sekedar bicara saja enggan. Kapan bom itu akan meledak, hanya bisa diketahui saat bom itu meledak.
Untuk hari ini, Daniel tak ingin cepat-cepat selesai belajar les. Jika bisa ia ingin terus begitu, tak ada gangguan dari luar yang bisa dia khawatirkan. Pikirnya.
Emily di kamarnya, raut wajahnya berubah seketika tak lama setelah membaca laporan dari elektronik mail dari sekolah internasional yang mereka datangi kemarin. Di waktu yang sama, Jamie ikut terbelalak melihat laporan yang sama, ia masih duduk di atas jok mobilnya.
Meledak wanita yang masih berbaju lingerie itu, ia segera mengenakan jubahnya. Keluar dari kamar dan berjalan dengan cepat ke ruang belajar anaknya, tak peduli walau dia sedang belajar.
BRAKK!
Melody yang tengah selonjoran di atas sofa saja gempar, apalagi Daniel yang berada di dalam sana dengan kondisi yang sudah terlampau ketakutan. Melody diam sejenak memastikan.
"Huuaaaa ... Uhuk! Uhuk! Huaaaa ...."
Batuknya terdengar begitu renyah, Melody menyusulnya secepat kilat. Begitu memasuki ruangan, penampakan tak mengenakkan terlihat di depan matanya. Telinga anak itu ditarik oleh tangan ibu kandungnya hingga tubuh ringannya yang tengah duduk terangkat. Tercetak sangat jelas diwajahnya, Daniel kesakitan.
Melody melangkah maju mendekati Emily, dicegat oleh Rosa. Ia pun baru menyadari, Rosa hanya menonton tanpa berbuat apapun saat kekerasan itu terjadi di hadapannya. Wanita yang berusia lebih tua itu menarik kasar lengan Melody agar keluar dari ruangan itu.
"Anak manja dan banyak tingkah seperti Daniel harus didisiplinkan! Kamu tahu? Dia menyianyiakan kesempatan yang tak bisa orang lain miliki, mengerjakan soal dengan bagus tapi tak menulis nama? Orang paling bodoh di dunia ini pun tak akan melupakan hal se-dangkal menulis nama," cerocos Rosa, mulutnya nyinyir sekali.
Melody menampar tangan yang mencengkeram dirinya, tapi tangan itu masih belum lepas. Lama-lama Melody kesal, dia menundukkan kepalanya ke bawah, tak lama kemudian Rosa merasakan gigitan yang tajam di kulit tangannya.
Rosa memekik, "kurang ajar!"
Dia melepas cengkeramannya, terserah Melody mau apa di sana. Yang jelas tangannya terasa sakit dan tak sanggup menahannya lagi.
Melody memasuki ruangan itu, keadaan masih sama seperti yang dia lihat tadi. Daniel masih menangis sambil tubuhnya yang tengah duduk, terangkat.
"Aku tidak mengira kau benar-benar serius saat mengatakan tak ingin sekolah di sana," teriak Emily menyambar tepat ke telinga anaknya.
Dicabutnya tangan yang menjewer telinga anak yang sudah merah itu, Melody mengais dan menjauhkan Daniel dari Emily. Anak itu memeluk erat-erat tubuh pengasuhnya, tangan kanannya ia pakai untuk menutupi telinganya yang terasa cenat cenut.
"Jangan kau pikir bisa bebas begitu saja! Bunda akan memasukkan kamu ke asrama. Agar tak bisa bertemu dengan pengasuh nakal itu!" Emily menunjuk jarinya pada Melody.
__ADS_1
Sorot mata Melody tak kalah tajam dengan wanita yang menunjuknya. Tak dia sangka akan bertemu seorang ibu yang memiliki ambisi yang sama dengan mendiang ibunya di masa lalu.
"Tak perlu memaksanya, dia akan melakukan yang terbaik. Tidak bisakah Kakak lembut padanya sedikit?" ucap Melody, terdengar menasehatinya di telinga Emily.
"Kamu?! Kamu yang mengajarinya melawan padaku?" Emily tertawa sejenak, "haha! Bodohnya aku, lengah pada wanita licik ini."
"Ya! Aku yang mengajarinya melawan dirimu, agar tak bisa kau hancurkan!" tegas Melody.
Jamie di depan pintu ruang belajar, menghentikan langkahnya. Menguping dari luar, malah mengabaikan keberadaan Rosa. Daniel yang menghadap pintu mengangkat kepalanya, dapat melihat ayahnya ada di sana.
"Ayah! Huaaaa ...."
Melody berbalik, dengan cepat Jamie merangkul putranya ke pelukannya. Lepas tubuh anak itu darinya, Melody menyentuh telinganya sendiri, mengisyaratkan pada Jamie.
Merah bengkak, Emily seketika panik. Emosinya turun begitu melihat Jamie ada di rumah itu. Pagi lalu dia pamit dan membawa tas kerjanya, bagaimana mungkin sekarang dia ada di rumah.
Emily gelagapan, "Ja-jamie ini tak seperti yang kamu pikirkan."
Istrinya berusaha mendekatinya dan anaknya, Jamie menghindari. Menyuruhnya jangan mendekat, dia tak butuh penjelasan dari Emily.
"Dany ... anak ayah, jangan menangis," lembut Jamie.
Tak sepatah katapun dia membicarakan perihal nilai tes yang Daniel peroleh, Jamie tahu anaknya ingin menyuarakan suara hatinya.
"Dany tidak mau belajar lagi ... hik ... hik ... tidak mau sekolah, ayah tolong suruh bunda jangan paksa Dany lagi ..." suaranya tersendat-sendat.
"Uhuk! Uhuk!" Daniel menutup mulutnya menggunakan tangannya.
Bercak merah, Jamie membawanya langsung ke kamarnya untuk ditenangkan. Bisa muncul gejala-gejala lain jika Daniel terlalu lama emosional. Emily menggigit kuku di jari-jari lentiknya, kakinya terus menghentak.
Terasa diberi kesempatan, Emily menghampiri Melody yang tengah menyendiri di ruang dapur. Wanita berbaju lingerie itu mengangkat tangannya, tamparan keras mendarat di pipi Melody.
"Aku memecat mu!" lontar Emily.
Melody masih merasakan cenat cenut di pipinya, kepalanya terguncang cukup kuat hingga membuat pusing, dia menutupi pipinya yang habis ditampar dengan tangan kanannya.
"Aku tak membuat perjanjian dengan Kakak, aku membuat perjanjian dengan kak Jamie!" bantah Melody, rambutnya acak-acakan.
__ADS_1