
"Tak ada satupun yang menjawab tanyaku sesuai yang Awa mau. Huh," ujarnya.
Ia berlari meninggalkan mejanya.
Arion hendak mengejar Nawal tapi dicegah oleh Fiya.
"Udahlah kak, biarkan saja," sergahnya.
"Kenapa dibiarkan Fi, dia kan butuh penjelasan," sahut Arion.
"Kakak kenapa sih selalu manjain dia?"
"Bukan manjain, sayang. Tapi dia masih kecil. Bagaimana bisa..."
"Ahh, ini semua kan perbuatan kakak. Sikit sikit dimanjain. Udahlah, kakak bujuk anak kakak itu. Aku udah capek," ujar Fiya.
"Bisa nggak sih ngomongnya jangan seperti itu? Dia anak kita, anak kamu dan aku."
"Bukan," sela Fiya.
"Fiya, kakak minta tolong jangan memperkeruh keadaan. Sudah berapa tahun berlalu, masih jugakah kamu tak menerima dia dalam hidup kita?"
Kaifiya terdiam mendengar suaminya berkata-kata.
"Kamu tau dia masih kecil. Dia belum ngerti apa-apa. Sedari dulu kita yang sudah merawatnya. Dia taunya kita lah orang tuanya. Apa salah dua bertanya?" ucap Arion.
Kesabarannya seperti sudah terkikis oleh tingkah istrinya itu. Bahkan lima tahun telah berlalu, tetapi Fiya belum juga bisa menerima sepenuhnya Nawal sebagai hadiah untuknya, sebagai anaknya meski bukan anak kandung yang lahir dari rahimnya sendiri, yang ia kandung sendiri.
"Mana buktinya kita punya anak setelah kita rawat dia? Nggak ada kan? Sampai sekarang aku juga belum hamil. Kakak kira aku nggak lelah? Kakak kira aku nggak sedih dan putus asa. Orang-orang mencibirku, kak. Kata mereka aku bukan perempuan sempurna, kata mereka aku mandul," ucapnya dengan suara meninggi. Bahkan air matanya sudah menetes.
Melihat Fiya yang sudah emosi, Arion pun berlalu meninggalkan Fiya, mama Basagita dan juga Elfan.
"Kak. Kakak..." jerit Fiya memanggil suaminya itu.
Akan tetapi Arion abai. Ia bahkan tak menoleh dan tak perduli dengan tangisan Fiya.
Suasana yang tadinya tenang, dengan berkumpulnya keluarga, sekarang malah tegang dan mencekam.
__ADS_1
Mama Basagita berusaha mendekati sang putri. Tapi tidak dengan Elfan. Ia hanya mematung di tempat.
"Fiya," panggil sang mama lembut. Rendah sekali nada suaranya. Ia tau, antara Fiya dan Arion sekarang sedang terbakar amarah.
Ya, seisi kantor sudah tau jika Fiya mengadopsi anak. Tetapi mereka tidak tau bahwa anak yang diadopsi Fiya masih ada hubungan darah dengannya. Fiya dulu pernah cerita kepada mereka. Tetapi tidak menceritakan yang sebenarnya.
"Fi-"
"Aku ingin sendirian ma," sela Fiya. Ia tak membiarkan sang mama melanjutkan kata-katanya.
"Aku lelah, aku mau istirahat," imbuhnya lagi. Ia berjalan lemah, naik ke atas menuju kamarnya. Kamar antara dirinya dengan Ela dulu sewaktu masih gadis.
Air matanya masih menetes membasahi pipinya. Teringat ia dengan tetangga yang mencibir, momen teman-teman kerjanya yang selalu bercerita tentang anak kandung,
Bahkan sering sekali orang kantor membanding-bandingkan dia dengan mereka yang memiliki anak kandung bahkan lebih dari dua.
Sebagai manusia biasa, apa nggak panas hati Fiya mendengarnya? So pasti lah. Namanya juga manusia.
Belum lagi para tetangga yang julid yang selalu mengusulkan Fiya untuk program bayi tabung, kloning bahkan inseminasi. Seenaknya mereka bicara seperti itu tanpa memahami bagaimana perasaan Fiya.
Nyatanya ia merasa, kehadiran Nawal tak menyelamatkan dia dari pada kepoers dan juliders. Bahkan sampai sejauh ini dia juga belum ada tanda-tanda hamil.
Elfan mencegah sang mama untuk tidak mengejar Fiya. Ia lebih memilih diam tak mau mengurusi urusan keluarga sang kakak.
"Beri waktu mereka, ma," ucapnya lembut. Ia membawa sang mama duduk.
"Tapi, Fan...."
"Sudahlah, ma. Mereka sudah dewasa. Pikirkan anak mama yang lain. Contohnya aku," celetuk Elfan seraya tersenyum. "Elfan nggak mau mama stres. Atau Elfan kembali ke rumah mama aja biar ada kawan mama disana," usulnya.
Ya, selama ini Elfan tinggal di rumah sang kakak - Fiya. Berawal dari ia kebut-kebutan naik motor bahkan sampai kecelakaan, membuat Fiya tak tega dengan mama Basagita yang sering nyaris terkena serangan jantung karena ulah Elfan.
Fiya pun menyarankan agar Elfan tinggal di rumah mereka, sekolah disana, dekat dengan rumah Fiya dan Arion juga.
Anak laki-laki satu-satunya di keluarga Ela, membuat Elfan manja sedari kecil. Apa-apa diturutin. Setiap ada dulu mainan yang vital ia tak boleh tak memiliki. Bahkan munculnya android juga ia tak mau ketinggalan.
Kebiasaan itu terbawa-bawa hingga Elfan duduk di bangku SMA. Sangat susah untuk menghilangkannya.
__ADS_1
Mama Basagita pun akhirnya setuju dengan saran dari Fiya. Apalagi ada Arion, tentu ia yakin perlahan Elfan pasti bisa berubah seiring berjalannya waktu. Karena jika Elfan tetap tinggal dengan sang mama, sepulang sekolah tak ada yang mengawasinya di rumah. Beda halnya dengan di rumah Arion.
Tetapi kini, Elfan bukan lagi anak kecil yang manja dan sembrono. Ia sudah menyelesaikan pendidikan jenjang SMA nya. Bahkan sekarang ia sudah mulai bekerja, jadi karyawan di sebuah perusahaan minyak. Ia tak berniat untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Dengan alasan sudah nggak sanggup dan malas.
Fiya dan keluarga pun tak bisa memaksa. Tetapi tetap, mereka menekankan agar Elfan tetap memegang prinsip, siap sedia dengan pekerjaannya sekarang, maka mereka pun mendukung.
Bahkan kini Elfan sudah jauh lebih dewasa. Bahkan sering sekali dulu menguatkan dan mengingatkan Fiya disaat fiya dihadapkan membesarkan seorang bayi yang bukan lahir dari rahimnya sendiri.
Sering sekali Elfan membantu menjaga Awal saat Arion dan Fiya harus bekerja dan tak bisa meminta ijin. Bahkan ia sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, mencuci dan lain sebagainya.
****
Sementara di dalam kamar, Nawal mengurung dirinya. Ia abai terhadap panggilan papa Arion yang sedari tadi menggedor-gedor pintu kamar itu.
Tok tok tok
"Nawal, buka pintunya, nak. Papa mau bicara."
.Tok tok tok
"Nawal, please, dengeirin papa dulu. Papa akan jelaskan semuanya.
Nawal tetap saja tak mau membuka pintu kamar itu. Ia sendiri merenung di dalam kamar itu.
"Mana buktinya kita punya anak setelah kita rawat dia? Nggak ada kan? Sampai sekarang aku juga belum hamil. Kakak kira aku nggak lelah? Kakak kira aku nggak sedih dan putus asa. Orang-orang mencibirku, kak. Kata mereka aku bukan perempuan sempurna, kata mereka aku mandul,"
Perkataan panjang lebar Fiya mengganggu pikirannya saat ini. Bahkan berulangkali berputar dalam benaknya.
"Jadi benar, aku bukan anak kandung mama? Buktinya mama bilangnya kayak gitu," gumam Nawal. Ia tak menangis, ia hanya sedang mencari tau, menebak-nebak. Anak dia dia sebenarnya. Dan kenapa mama Fiya bisa bicara seperti itu.
Nawal memang mendengar pintu digedor-gedor dari luar, tapi karena sibuk dengan pikirannya, ia pun abai. Ia ingin cepat pulang dan bertemu dengan laptop dan robot kesayangannya.
Sementara Fiya, ia menangis tergugu di dalam kamar. Kamar yang ia tempati saat ia gadis bersama Ela. Ia menyesal dengan semua perkataannya kepada Arion tadi. Ia merasa sedih saat Arion mengabaikannya.
Hampir sepuluh tahun mereka menjalani bahtera rumah tangga, ini baru pertama kali ia melihat Arion marah dan mengabaikan dirinya. Entah karena dia yang terlalu sensitif hari ini atau memang karena Arion yang terlalu dewasa, dengan kesabaran yang sudah menipis.
"Maafin aku, kak Arion, maafin aku Awal," gumamnya masih dengan menangis.
__ADS_1