Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 35. Bayangan Misterius


__ADS_3

"Paket siapa ini?" gumam wanita itu. Baru saja ia membuka pintu rumah itu, tiba-tiba kakinya menendang suatu benda berbentuk kotak. Ya, sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado. Dibungkus dengan rapi layaknya sebuah kado.


"Siapa yang meletakkan disini?" gumamnya lagi. Ia celingak-celinguk mencari siapa pemilik atau siapa pengirim kotak itu.


"Kamu mencari siapa, sayang?"


Fiya kaget mendengar suara bariton yang tiba-tiba muncul.


"Eh, ini kak. Ada paket, tapi nggak tau siapa pemiliknya," sahut Fiya sambil memandang kotak itu.


Arion juga mengikuti pandangan istrinya itu. Ia juga sama bingung dengan paket itu. Karena dia sendiri juga tidak merasa belanja online atau memesan paket atau kado dari seseorang.


"Bukan punya kamu?"


"Bukan, kak. Aku nggak ada belanja online. Aku juga merasa nggak akan menerima kado. Yang sering kasih kado ke aku kan hanya kakak. Dan nggak mungkin deh kayak gini bungkusnya," ujar fiya. Kini ia telah mengangkat kotak itu.


Ia menggoyangkan kotak itu. "Ringan banget, kak," ujarnya lagi.


"Mungkin punya kakak," timpal Arion.


"Kakak?" tanya Fiya bingung.


"Iya kakak. Kakak Nawal."


"Tumben kakak panggil Awal dengan kak."


"Ya nggak apa-apa. Siapa tau dengan panggil dia kakak, akan segera hadir buah hati kita di dalam perut kamu, sayang."


"Memang bisa gitu?"


"Siapa tau. Kan kita nggak salah mencoba. Selagi bukan hal yang merugikan, lakukan saja. Tapi jangan percaya dengan takhayul," jawabnya.


Fiya hanya manggut-manggut.


"Iya, ya. Bisa jadi punya kakak," ujarnya lagi. Ia setuju dengan panggilan baru untuk putrinya itu.

__ADS_1


Mereka berdua pun kembali masuk ke rumah, sembari Fiya membawa kotak itu. Padahal mereka berdua rencana akan berangkat bekerja. Mengingat waktu belum terburu, keduanya memutuskan ingin menanyakan perihal kotak itu kepada Nawal.


"Apa itu, mam?" tanya gadis itu penasaran.


"Mama juga bingung ini apa. Saat buka pintu tadi mama liat sudah ada di luar. Ini bukan buat kamu, sayang?"


Nawal mengerutkan dahinya. Lalu melirik jam di tangannya.


"Nawal duluan, mam udah telat," ujarnya. Ia langsung mengambil kotak kado yang di pegang sang mama, lalu membawanya pergi. Tentu setelah ia mengalami mama dan papanya itu.


Tak ada yang tau bahwa Nadim dan sopirnya telah menunggu Nawal di ujung jalan sana.


***


"Kotak apa itu?" tanya Nadim penasaran.


"Kujuga ga tau," sahut Nawal. Ia memperbaiki duduknya, bersandar di kursi di samping Nadim duduk.


"Jalan, pak," titah Nadim pada sopirnya.


"Baik, den," ujar sang sopir.


"Buka Napa? Penasaran," ujar Nadim. Sedari tadi ia melirik kotak yang ada di pangkuan Nawal.


"Oh iya. Aku lupa."


Gegas Nawal membuka kotak itu. Ia juga sama, penasaran apa isi kotak itu.


Mereka berdua dengan seksama menyaksikan saat Nawal un-boxing kotak itu.


"Poto siapa ini?" gumam Nawal. Ia mengeluarkan sebuah poto bayi yang dibalut dengan kain bedong, lalu menatap poto itu lamat-lamat.


"Poto bayi?" tanya Nadim heran. Ia juga memperhatikan dengan seksama poto bayi itu.


"Hmmm, ngomong-ngomong dia mirip loh sama kaku, Wal. Apa mungkin itu kamu?" tanya Nadim.

__ADS_1


"Aku? Aku sewaktu bayi gitu?"


"Ya bisa saja kan?"


"Nggak mungkin lho, Dim itu aku." Nawal berusaha menyangkal.


"Tapi mirip banget lho, Wa," kata Nadim tak mau menyerah.


"Atau apa mungkin ini kamu sewaktu bayi? Lalu ada seseorang yang bermaksud membuatmu penasaran. Ada kali orang iseng ingin mengusili kamu," tambah Nadim.


Nawal termenung mendengar ucapan temanya itu. Ia menghubungkan kejadian yang lalu dengan peristiwa ini.


Pertanyaan menggunung dalam benak Nawal. Pertama, ada orang yang mengiriminya kertas, mengatakan bahwa ia tau semua tentang Nawal. Kedua, di sekolah Nawal mendapatkan teror lagi dengan tulisan darah mengenai dirinya anak haram.


Dan hari ini, dengan paket kotak misterius itu iya yakin, semuanya itu ada hubungannya. Tetapi ia belum tau bagaimana semua itu berhubungan.


Dan sampai sekarang, Nawal tak memberitahu kepada mama juga papanya. Ia pendam sendiri dan ia selidiki sendiri.


****


"Anak haram! Anak haram! Anak haram!"


Begitulah suara nyanyian anak-anak kecil yang di dengar Nawal siang ini. Ia merasa heran karena tak mengenali anak-anak itu. Dan ia juga tak tau, anak-anak kecil itu bernyanyi untuk siapa. Mereka menatap Nawal dengan sinis.


Sepertinya mereka tak menyukai gadis kecil itu.


Seruan nyanyian itu akan terdengar semakin nyaring saat Nawal melangkah menjauhi mereka. Dan sebaliknya pabila Nawal mendekati mereka.


Nawal semakin yakin, itu semua berhubungan dan ditujukan untuk dirinya. Sekarang ia semakin penasaran. Siapa dibalik ini semua.


Kini Nawal mencoba acuh dengan seruan anak-anak kecil itu. Ia berdiri di halaman parkir sekolah sambil menunggu sang papa yang akan menjemputnya.


Hari ini ia tak pulang bareng dengan. Nadim karena Nadim pulang duluan. Entah ada urusan apa, belum usai jam pelajaran sekolah tadi Nadim sudah pulang dijemput oleh sang sopir atas perintah dari daddy-nya Nadim.


Tak berapa lama, sang papa pun datang. Nawal segera naik ke atas motor usai ia memberikan senyuman pada papanya.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Nawal seperti melihat sekelebat bayangan seseorang. Sepertinya ia pernah melihat bayangan itu. Tapi ia tak kenal dengan sosok itu.


"Siapa itu?" batinnya. "Sepertinya dia juga yang pernah kulihat di samping toilet sekolah waktu itu," imbuh batinnya lagi.


__ADS_2