Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 38. Bukan Anak Kecil


__ADS_3

"Sudah siap?"


"Sudah," jawab bocah itu. "Kami sudah berada standby menunggu di jalan Kartini," imbuhnya lagi dengan tegas.


"Bagus. Aku akan kawal dia," jawab gadis mungil itu dengan dingin.


Ya, Nadim dan para bodyguardnya telah menunggu seseorang di jalan Kartini. Sesuai dengan instruksi dari Nawal. Hari ini, mereka akan menangkap siapa pelaku teror selama ini.


Dengan kegeniusan Nawal, ia bisa menemukan sosok bayangan yang selama ini selalu mengikutinya, menerornya. Tentunya dengan kerjasama antara dirinya, robot mininya, laptopnya dan tak ketinggalan juga keterlibatan Nadim.


Sekarang Nawal sedang mengikuti seseorang yang sudah ia curigai meneror dia selama ini. Sampai wajah orang itu ia pun sudah lihat.


"Cepat, pak! Ikuti orang itu!" titah Nawal kepada sopir yang dipercaya untuk membantu melancarkan rencana Nawal hari ini. Semua itu atas dukungan daddy-nya Nadim.


"Baik, nona muda," sahut sang sopir.


Sopir itu menganggap bahwa Nawal adalah nona mudanya yang layak ia hormati sama seperti ia menghormati Nadim anak dari majikannya.


Sementara orang mereka buntuti menyadari bahwa ada yang mengawasi mereka. Ada yang mengintai bahkan mengikuti mereka. Ia melirik ke spion mobilnya.


"Siapa yang mencoba mengikuti gue," gumam pria itu.


"Mau main-main dengan gue?" ucapnya lagi. Lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dan terjadilah aksi balapan antara mobil yang dikendarai Nawal dengan pria itu.


"Pak, cepat kejar mobil itu. Ikuti terus!" titah Nawal. Matanya menatap tajam ke depan ke arah mobil pria yang sedang mereka ikuti sekarang.


Sang sopir pun menaikkan kecepatan laju mobil. Bahkan hampir saja mereka menerobos lampu lalu lintas. Untung saja mobil yang mereka intai tak sampai hilang jejak.


Ditengah kegentingan balapan, Nawal membuka layar jam tangannya. Ia memanggil Nadim lewat jam itu.


"Gegas sekarang! Cepat!" titahnya pada Nadim.


"Jangan sampai ia lolos!" tambahnya lagi.


"Baik," sahut Nadim serius.


Suara klakson terdengar ribut, seperti irama lagu yang sedang bersahut-sahutan tetapi memekakkan telinga. Balapan itu masih saja terjadi hingga pada akhirnya suara klakson panjang pun terdengar.


Posisi sekarang, mobil yang tengah dikawal oleh Nadim dan Nawal berada ditengah-tengah mereka. Posisinya terjepit dan terdesak. Mereka sekarang sudah keluar dari zona jalan lintas. Jalan yang mereka lalui sekarang adalah jalan kecil yang hanya muat satu mobil. Tak bisa dua mobil yang saling berbenturan.


Nawal dan Nadim keluar dari mobil yang mereka tumpangi dengan sendirinya. Biasanya akan dibukakan sang sopir. Sekarang beda, suasana genting seperti ini tak ada waktu bagi mereka untuk membuang waktu dengan percuma.


Secepatnya mereka ingin menangkap pelaku teror itu. Apa motif dan tujuannya, Nawal ingin tau itu.


Pengemudi yang sudah terdesak itu pun akhirnya keluar.


"Huh, anak kecil rupanya!" seru pria itu.


"Kenapa rupanya kalau anak kecil?" tanya Nadim. Terpancing emosi dengan ucapan pria itu. Pria yang berperawakan tampan dengan body sixpack itu.


"Heh anak kecil, apa mau mu?" tanya pria itu. "Kalau kau ingin bermain, kau salah mengajakku. Pergi sana pada ibumu. Minta dia menggendong mu dan mengajakmu main!" sambung pria itu lagi.

__ADS_1


"Dasar orang dewasa nggak waras!" maki Nadim.


"Apa maksud mu anak kecil?" tanya pria itu.


"Katanya kami anak kecil. Tapi kau malah meneror anak kecil. Berarti tak ada ubahnya kau dengan anak kecil. Bahkan mungkin tindakanmu melebihi anak kecil," ujar Nadim.


Sementara Nawal sedari tadi diam. Ia menatap bengis pada pria yang berbaju kemeja maroon itu.


"Tau apa kau anak kecil tentang orang dewasa? Mending kau pergi main mobil-mobilan sana!" sahut pria itu. Membuat Nadim semakin terpancing.


"Pengawal, tangkap dia!" titah Nawal dengan suara tegasnya.


Seketika segerombolan bodyguard yang tadi diam, segera menangkap pria itu. Pria mengatai mereka adalah anak kecil.


"Lepaskan aku! Apa mau kalian?" tanya pria itu heran. Ia meronta, berusaha melepaskan cengkraman para bodyguard itu. Tetapi ia gagal.


Pengawal yang lainnya mengikat tangannya dan menutup mulutnya dengan lakban.


Setelah pria itu tak bisa melawan lagi, mereka memasukkannya ke dalam mobil yang ditumpangi oleh Nawal tadi.


Segera Nawal dan Nadim masuk ke dalam mobil yang mereka tumpangi semula.


"Jalan, pak!" titah Nawal.


Sang sopir pun segera melakukan perintah teman tuan mudanya itu, lalu menekan pedal gas. Membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


Tak ada yang perduli dengan teriakan pria berbaju maroon itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha melepaskan ikatan tangannya. Bahkan berusaha untuk berbicara, tapi bagaimana ia mau bicara.


"Pengawal, anda tau kan apa yang harus ada lakukan?" tanya Nawal sekaligus memerintah.


Dua orang pengawal ikut bersama dengan Nawal, yang lain ikut bersama Nadim dan mobil di belakang mereka. Ada tiga iringan mobil sekarang menuju suatu tempat yang telah disepakati oleh Nawal dan Nadim.


Pengawal itu langsung memukul tengkuk pria itu hingga akhirnya pria itu terdiam dan tak bersuara lagi. Bahkan tak ada gerakan lagi dari tubuhnya.


"Bagus! Sakit kepalaku dengar suaranya," ujar Nawal. Seperti biasa dengan ekspresi dingin dan datar.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Begitupun dengan Nadim dan para pengawal.


Dengan sigap para pengawal membawa pria itu ke tempat yang sudah disiapkan.


****


Byurrr


"Bangun!" seru Nadim sambil menyiram air ke wajah pria itu. "Sudah cukup mimpinya!" titahnya lagi dengan suara keras.


Seketika pria itu terbangun.


Uhuk uhuk uhuk


Ia tersedak. Rupanya air yang disiramkan oleh Nadim banyak hingga sampai tertelan olehnya.


"Haus?" tanya Nadim. Saat ia melihat pria itu menelan air yang disiramkannya ke wajah pria itu.

__ADS_1


"Kurang ajar! Dasar anak kecil! Mau main-main denganku?" batin pria itu kesal.


"Sekali tendang pasti kau pingsan," ucapnya dalam hati.


"Siapa yang pingsan, om?" tanya Nawal. Tentu ia bisa mendengar isi hati pria itu.


"Bukankah om yang pingsan tadi? Om kira kami anak kecil? Om salah."


"Huh, anak kecil tetap saja anak kecil," sahut pria itu.


"Karena ada pengawal makanya bisa melawan. Coba kalau tak ada," tambahnya lagi.


"Pengawal!" seru Nadim.


"Iya, tuan."


"Ikat dia!"


Beberapa pengawal menarik paksa pria itu lalu mengikat pria itu di tiang yang ada di dalam ruangan itu. Di dalam ruangan itu terdapat banyak alat-alat memanah, menembak. Pria itu bahkan sempat - sempatnya menoleh ke kiri dan ke kanan.


Pria itu berusaha untuk mencari tau dimana dia sekarang berada. Tetapi ia gagal. Tak tau ia sekarang berada dimana. Bahkan handphone nya tertinggal di dalam mobilnya.


Tangan kanan dan kirinya diikat dengan rantai.


"Robin Defarrel. Berusia 32 tahun, tinggi badan 175 cm, berat badan 80 kilogram. Seorang supervisor di PT. Pelangi Abadi. Jomblo dan sedang mengejar seorang gadis."


Nawal berujar. Ia membaca daftar riwayat hidup pria yang bernama Robin itu lewat jam tangannya.


Usai ia membaca riwayat pria itu, ia menutup kembali layar jam tangannya. Hingga jam tangan itu hanya terlihat seperti jam tangan biasa.


"Lebih tepatnya cintanya ditolak," pungkas Nawal. Ia mengakhiri membaca riwayat lelaki itu.


"Kenapa bocah ini tau siapa aku? Siapa dia sebenarnya?" batin Robin.


"Siapa aku? Tak perlu om tau siapa aku. Tapi...."


"Lho, kok dia bisa tau isi pikiranku? Apa dia...?"


"Kenapa? Kaget?" tanya Nawal. "Bahkan apa yang ingin kau lakukan pun aku tau, om," sela Nawal.


"Jangan sepelekan kami meski kami anak kecil. Jangan panggil kami anak kecil mulai sekarang!"


"Cuih, siapa kau? Mengaturku?" cibir Robin.


"Pertanyaan itu lebih tepatnya aku yang bertanya. Siapa kau, paman? Apa motifmu meneror aku?" timpal Nawal to the poin. Ia sudah malas berbasa-basi.


Deg


Jantung Robin berdetak lebih kencang. "Bagaimana ia tau kau pelakunya?" batin Robin.


"Sudah kubilang jangan menceritaiku di hatimu," timpal Nawal.


Semakin terkejutlah Robin dengan ucapan Nawal. Ia semakin yakin ada sesuatu yang berbeda di diri gadis kecil itu.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya? Apa untungnya bagimu meneror aku?"


__ADS_2