
"Maaf, Bu. Dengan berat hati kami sampaikan bahwa putri ibu harus...."
Deg
Degup jantung wanita paruh baya itu berpacu sangat kencang bagai benderang yang mau berperang. Padahal dokter berkarisma itu belum memberitahu kabar seutuhnya mengenai putrinya. Tetapi, ibu itu sudah bisa menebak kalau hal buruk terjadi pada sang putri.
"Putri saya kenapa, dokter?" tanya sang ibu dengan gemetar. Bahkan ia sampai memegang erat besi ranjang yang saat ini digunakan sang putri untuk ia berbaring.
"Karena benturan yang cukup keras akibat kecelakaan yang menimpa Bu Kaifiya maka... dengan berat hati kami sampaikan bahwa ..."
"Bahwa apa, dokter? Putri saya masih bisa diselamatkan kan dokter? Putri saya baik-baik aja kan, dokter?" cerca ibu Basagita.
Lagi-lagi, ia menyela ucapan sang dokter. Tak peduli ia meski banyak mata yang menatap ke arahnya. Yang lebih penting saat ini adalah mengetahui keselamatan anaknya. Anak yang rela ia pertahankan bahkan ia korbankan nyawa demi putrinya itu.
Ibu yang sudah mengandung dan membesarkan Kaifiya hingga saat ini ia sudah berstatus sebagai ibu. Ibu Basagita tau bahwa ucapannya barusan hanya sebagai tonggak untuk menguatkan dirinya agar ia sanggup menghadapi apa yang terjadi ke depannya.
"Dokter nggak usah bertele-tele. Sekarang jelaskan, apa sebenarnya yang terjadi pada putri saya?" cecar ibu Basagita. Ia menatap tajam sang dokter yang masih tenang yang ada di sampingnya.
Jika saja dokter itu sebaya dengan ibu Basagita dan berjenis kelamin laki-laki seperti dirinya, sudah langsung ia beri hadiah bogem padanya. Tapi ia kembali tersadar. Tak bisa diselesaikan semuanya dengan adu jotos.
Dokter itu sadar, ibu tersebut bertindak seperti itu karena tidak mau kehilangan anaknya. Karena tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya. Sama halnya dengan ibunya di rumah. Mungkin bila hal ini terjadi padanya, ibunya pun pasti akan se-panik ini.
"Ibu, dengarkan saya. Ibu tenang dulu ya," ucap sang dokter lembut. Ia tersenyum tulus. Ia tau bagaimana perasaan ibu tersebut. Ia tau betapa lukanya hati ibu tersebut.
"Exhale inhale," titah sang dokter lagi.
"Apa itu? Saya nggak ngerti," sahut ibu itu cepat.
"Jangan pakai bahasa aneh-aneh pada saya," timpalnya lagi.
Dalam keadaan seperti ini, ia sudah tak konsentrasi lagi. Tentu ia tau apa artinya itu. Tetapi saat ini ia sedang tidak fokus. Galfok untuk istilah jaman sekarang. Alias gagal fokus.
__ADS_1
Ibu Basagita adalah seorang guru. Tak mungkin ia tak paham dengan kata exhale inhale. Begitulah kalau pikiran sudah terbagi kemana-mana. Yang mudah jadi sulit, yang sulit semakin sulit. Bukan sebaliknya. Namanya juga sedang tidak konsentrasi.
"Coba ibu tarik nafas kemudian lepaskan. Lakukan beberapa kali maka ibu akan jauh lebih tenang," terang sang dokter masih saja tersenyum. Senyumnya manis sekali.
Ibu Basagita pun menurut apa kata dokter. Entah kenapa ia pun nurut saja. Beda saat tadi ia marah-marah. Bahkan tak mau mendengar ucapan sang dokter.
"Nah begini lebih baik," puji sang dokter pada ibu Basagita.
"Melihat kondisi kaki ibu Kaifiya iya sekarang, maka kami memutuskan untuk mengmputasi pada kaki selebal kanan, Bu. Dengan berat hati, hari ini juga kita akan melakukannya," ucap sang dokter hati-hati. Tanpa jeda sama sekali. Tak ingin ia disela oleh ibu Basagita lagi.
"Apa? Jadi anak saya lumpuh?" ucapnya panik. Ia sangat terpukul dengan ucapan dokter barusan.
"Hanya satu kaki, Bu. Itupun dari lutut sampai ke bawah. Kalau pakai kaki palsu bisa kok, Bu. Jadi Putri ibu tidak lumpuh total," terang sang dokter.
"Tidak lumpuh dokter bilang? Anak saya akan cacat dokter. Bagaimana saya harus menjelaskannya nanti saat ia sudah terbangun?" ucap ibu Basagita dengan mulut bergetar. Air matanya sudah tumpah begitu saja.
Ibu mana yang tak sakit saat melihat anaknya harus mengalami kelumpuhan padahal ia lahirkan secara normal tak kurang satu apapun.
Tidak. Ibu mana pun tidak akan kuat, tidak akan mudah menerima anaknya harus mengalami kecacatan.
Sementara Fiya yang sedang terbaring lemah diatas ranjang itu, bisa mendengar sayup-sayup orang-orang yang membicarakan perihal dirinya. Bahkan mereka menyebut namanya dengan sangat jelas.
Ia mencoba bangun, konsentrasi. Mencoba mendengar dengan seksama apa yang sedang mereka bahas. Apalagi ini menyangkut namanya.
"Amputasi? Cacat?" batinnya berkata.
Ia mencoba sekuat tenaga untuk bangun, tetapi sayang seperti alam belum berpihak padanya.
"Mama," pekiknya. Ia merasa sudah mengerahkan tenaga sekuatnya untuk memanggil sang mama, tapi ternyata nihil. Mamanya tak mendengar suaranya. Mamanya malah asyik bercengkrama dengan sang dokter. Entah apa lagi yang mereka bahas.
"Kapan anak saya diamputasi dokter?" lanjut ibu Basagita.
__ADS_1
"Secepatnya, Bu. Kalau tidak, kakinya akan membusuk. Dan itu bisa mempengaruhi ke yang lain," jelas sang dokter.
Ibu Basagita menangis pilu di ruangan bercat putih itu. Ia memeluk putrinya dengan sangat erat. Dan Fiya bisa merasakan seseorang yang menghimpit tubuhnya.
"Mama, sebenarnya aku kenapa? Dan kenapa aku diamputasi?" batin Fiya. Ia menangis di dalam kegalauannya. Bahkan air matanya jatuh membasahi tangan sang mama yang sedang membelai wajahnya.
"Fiya, kamu bangun, nak?" tanya sang mama. Ada rasa senang, haru, bahagia saat ia merasa bahwa Fiya telah sadar dari komanya.
"Dokter, Fiya menangis. Fiya menangis dokter. Itu artinya anak saya sudah bangun. Iya kan dokter?" Ibu Basagita meminta jawaban yang berharap bisa memuaskan hatinya.
"Coba saya lihat, Bu," sahut sang dokter. Ia lalu berjalan mendekati ranjang Fiya. Ia melepaskan stetoskop dari lehernya yang tergantung. Ia menggerakkan stetoskop sesuai yang dia inginkan. Ia juga mengarahkan cahaya ke mata Fiya. Mencoba mencaritahu perkembangan Fiya.
"Bagaimana, dok? Anak saya sudah bangun kan?"
"Mohon maaf, Bu. Anak ibu masih belum sadar."
"Apa? Nggak mungkin. Dokter bohong. Anak saya sudah sadar. Dokter jahat! Bagaimana bisa dokter bilang begitu. Tadi dia menangis dokter. Dia meneteskan air mata dokter. Hanya orang yang sadarlah yang bisa mengeluarkan air mata," cecar ibu Basagita.
Sang dokter diam. Ia berusaha tetap sabar menghadapi ibu Basagita.
****
Sementara di tempat lain.
Nawal kini sudah berada di jalanan. Ia berusaha menyetop taksi atau angkutan umum tapi tak ada yang mau memberi ia tumpangan. Entah apa masalahnya.
Hari ini ia merasa semua hal tak berpihak padanya. Baik benda maupun benda hidup. Tak ada satupun niatnya yang berjalan dengan lancar.
Nawal mencoba berjalan. Terlalu lama menunggu yang tak jelas ia memutuskan untuk menyusuri jalanan dengan jalan kaki.
.Akan tetapi tiba-tiba, ada sepeda motor yang menghampiri dirinya dengan laju yang sangat cepat.
__ADS_1
Akhirnya......
Kecelakaan itupun tak bisa dihindari.