Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 50. Cepatlah, pak!


__ADS_3

Pak satpam tergopoh-gopoh menghampiri seorang guru laki-laki yang baru saja berhenti setelah berlari. Ia ngos-ngosan sekarang. Napasnya memburu akibat berlari mengejar Nawal.


Ya, beliau adalah guru yang mengajar di dalam kelas Nawal hari ini. Beliau sering di sapa dengan pak Maja. Rambut tersisir rapi dan belahan samping, membuat ia selalu terlihat rapi setiap paginya.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya pak satpam itu. Ia dapat melihat pak Atmaja yang kelelahan.


"Nawal... Nawal...." Ia masih ngos-ngosan. "Nawal Ka..."


Pak satpam itu menatap pak Atmaja dengan mulut menganga. Entah ekspresi apa itu.


"Nawal?" tanya pak satpam. "Nawal Kahla?" lanjutnya lagi. Menyebutkan nama si siswi dengan lengkap. "Kenapa dia, pak?" tanyanya kemudian.


Mungkin pak Atmaja butuh bantuan untuk berkata, sehingga ia bertanya beruntun.


"Nawal Kabur."


"Eh?" Satpam itu terkejut. "Kabur? Nggak mungkin atuh, pak. Saya kan di sini dari tadi," sahut satpam itu cepat. Ia tersenyum. Rasanya jenaka jika Nawal kabur. Ia merasa percaya diri sekali bahwa ia standby terus di pos dan yakin bahwa Nawal tak ia lihat sedari tadi.


"Anak sekecil Nawal mah mana mungkin kabur atuh, pak. Gadis geulis lagi," timpal pak satpam.


"Tapi kenyataannya dia kabur," sahut pak Atmaja tegas. Ia kesal dengan jawaban satpam itu. "Kamu kira saya nge-prank gitu?" sungutnya kesal.


"Kejar sana!" titah pak Atmaja akhirnya. Percuma ia membuang waktu dengan obrolan un-faedah bersama satpam yang tak percaya dengan dirinya itu.


"Sekarang, pak?" tanya pak satpam ragu.


"Nanti, lebaran," sahutnya sewot. "Ya sekalian! Masa tahun depan!" timpalnya semakin kesal.

__ADS_1


"Ya kemana saya mengejarnya, pak? Dianya nggak kabur, kok. Saya mengunci pagar dengan baik dan ini kuncinya," jawabnya lagi.


Ia merogoh-rogoh saku celananya. Setelah ia tak mendapati kunci di saku celananya, ia kembali merogoh saku bajunya. Semua yang berkantong ia rogoh. Ia yakin sekali bahwa ia menyimpan kunci itu di dalam sakunya.


"YETNO SUDIRMAN!" pekik pak Atmaja. Tandanya ia sudah sangat jengkel. Sehingga ia memanggil nama pak satpam itu dengan lengkap. Bahkan pak Atmaja sudah mengeratkan giginya, sehingga gigi itu berbunyi gemeletuk.


"Iya, iya, pak."


"Kalau sampai Nawal hilang, kalau sampai Nawal kenapa - kenapa, kamu yang tanggung jawab. Mengerti!"


"Ba-baik, pak," jawab pak satpam, Yetno Sudirman.


Pak Atmaja semakin kesal melihat pintu gerbang sekolah dengan kunci yang menggantung di dalam gembok. Ia semakin yakin, seyakin-yakinnya bahwa Nawal memang kabur.


Pak Atmaja sangat takut dan panik. Baru kali ini ia mengalami hal seperti ini. Sudah hampir sembilan tahun pak Atmaja jadi guru di sekolah ini, baru ini menangani kasus seperti ini. Seorang murid yang begitu pintar juga cerdik.


"Itu si satpam yang bohong atau Nawal yang licik?" tanya pak Atmaja dalam batin.


Sementara pak Yetno sedang mencari Nawal di sekitar sekolah. Seharusnya memang ia yakin kalau Nawal tidak ada di sekolah. Mengingat tadi ia melihat dengan sangat jelas bahwa pintu kabar sudah terlepas dari gemboknya.


Artinya Nawal sudah tidak ada di sekolah lagi. Ia tau Nawal licik. Ia sangat yakin dia tak ada meninggalkan pos walau sedetik pun.


Dari pada pak Yetno dicecar oleh pak Atmaja, lebih baik ia sibuk juga mencari Nawal. Meski ia tau pasti nihil pencariannya. Tapi tak apa, seenggaknya ia tetap melakukan tugas. Ia tetap mencari, berusaha, tidak hanya diam saja.


***


"Ayolah, pak. Kita lihat ke sana. Pasti jelas terlihat," rengek seorang gadis mungil. Ia memegang tangan seorang lelaki dewasa sambil menggoyang-goyangnya.

__ADS_1


"Maaf, anak-anak. Tidak sembarangan orang masuk ke ruangan itu. Lagian, kenapa bisa kalian se yakin itu?" tanya pria itu. Ia berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh gadis itu.


"Tapi, pak. Ini sangat darurat, pak. Apa bapak nggak mau lihat kebenarannya?"


"Kebenaran apa?" tanya lelaki itu penasaran.


"Ih, kok bapak pura-pura nggak tau sih? Bapak kan satpam di sekolah ini. Seharusnya bapak tau dong apa yang terjadi,l" cecar siswi itu.


"Emang apa yang terjadi?" tanyanya bingung.


"Kalau sampai nanti masalah ini nggak beres, bapak yang tanggung jawab. Karena keteledoran bapak lah semua hal ini bisa terjadi."


"Lho, lho, lho, kok bapak? Salah bapak apa?" tanyanya semakin bingung.


"Karena bapak tidak memberi kami ijin untuk melihat rekaman CCTV. Padahal jelas semua bukti ada disitu."


"Bukti apa?"


"Bukti kalau Nawal kabur dari sekolah ini. Dan tidak ada yang tau dimana dia sekarang berada."


"Apa?" Lelaki itu sangat terkejut.


Ia malu dengan beberapa bocah kecil yang berdiri mengelilingi dirinya seraya berkacak pinggang. Dan menatap lelaki dewasa itu jengkel.


Mereka kecewa dengan kekurang gesitan satpam itu. Hal sebesar ini dia bahkan belum tau? Atau memang semua guru, penjaga sekolah atau yang lainnya tidak tau tentang berita sebesar ini?


"Cepatlah, pak!" ujar mereka serempak.

__ADS_1


__ADS_2