Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 39. Robin Kabur


__ADS_3

"Heh, anak kecil. Yang sopan kalau bicara!" cerca Robin. Ia tak habis pikir dengan keberanian dua bocah yang masih kecil itu.


"Sudah kubilang jangan panggil aku anak kecil, om!" Nawal dan Nadim memekik bersamaan. Membuat Robin terkejut. Bahkan ia berusaha menutup telinganya, tapi sayang tak mampu ia lakukan. Tangannya diikat.


"Pengawal!" seru Nawal.


Ia melirik tajam pada pengawal - pengawal tersebut.


Para pengawal itu sepertinya sudah paham maksud dan tujuan nona kecilnya itu.


"Baik, nona muda," jawab mereka serentak.


Beberapa pengawal dengan sigap. Ada yang mengambil air lagi, ada yang meninju perut Robin.


"Katakan! Apa tujuan om?" tanya Nawal pada pria yang sudah babak belur itu.


Pria yang bernama Robin itu sudah bonyok. Akibat tonjokan, bogeman dan pukulan mentah dari para bodyguard Nadim. Hingga pipinya lebam, bibirnya bahkan mengeluarkan darah. Rambutnya sudah acak-acakan. Penampilannya sungguh berantakan. Begitu kontras perbedaannya dengan penampilan sebelumnya.


Robin meringis kesakitan menahan perih di bibir yang luka akibat tersiram air. Entah air apa yang disiramkan padanya. Tetapi ia merasa perih sekali. Ibarat luka yang disiram oleh air asam, begitulah yang dia rasa.


"Tolong, lepaskan aku!" ucapnya mengiba. Bahkan suaranya hampir tak jelas terdengar. Akibat bibirnya yang sudah luka dan bengkak.


"Apa, om?" tanya Nadim. Ia berpura-pura tak mendengar. Ia ingin mengerjai pria itu. Kira-kira sampai dimana ia tahan untuk tidak jujur kepada kedua bocah kecil itu.


"Lepaskan aku! Aku mohon," lirih Robin.


"Nona, sepertinya ia mulai kesakitan. Ia sudah menyerah nona," bisik seorang bodyguard pada Nawal. "Mungkin dengan kita lepaskan dia akan jujur, nona," imbuhnya lagi.


Nawal pun membisikkan sesuatu kepada bodyguard itu. Entah apa yang mereka bisikkan. Tapi bodyguard itu mengangguk. Lalu bodyguard pergi bersama temannya yang lain. Hanya dua orang yang tersisa disana. Masih menyaksikan adegan yang menurut mereka lucu.


Gimana tidak lucu? Dua orang anak kecil sedang mengerjai seorang pria dewasa yang usianya berbeda jauh. Lebih tepatnya mungkin si pria itu seusia dengan ayah mereka.


"Wal, gimana?" tanya Nadim. Ia melirik Nawal meminta persetujuan.


Nawal masih diam tetapi senyumnya menyeringai. Seperti biasa tatapannya dingin.


"Aku haus," lirih Robin tiba-tiba. "Aku mau pipis," ucapnya lagi dengan lirih.


"Bisakah aku menggunakan kamar mandi?" tanya pria itu lagi. Tentunya dengan suara pelan. Nafasnya sudah tersengal-sengal.


Si Nadim masih menatap Nawal. Berbicara lewat pandangan mata. Nawal pun akhirnya mengangguk pelan. Tapi Nadim tau itu sebagai bentuk persetujuan dari Nawal.


"Lepas dia!" Nadim menitahkan pada bodyguard yang tersisa. "Bawa dia ke kamar mandi dan awasi!" titahnya lagi.

__ADS_1


"Baik, tuan muda," ujar kedua bodyguard seraya menunduk hormat.


Kedua bodyguard itu langsung bergegas membuka pengikat tangan Robin. Lalu mengawal mereka ke kamar mandi. Kamar mandi yang berada di luar. Bukan tak ada kamar mandi di dalam, tapi kamar mandi yang di dalam adalah khusus untuk nona muda Nawal dan tuan muda Nadim.


Mereka berdua pun mengikuti Robin. Bahkan pengawal yang satunya membantu Robin berjalan. Karena Robin berjalan tertatih-tatih. Mungkin akibat pukulan-pukulan tadi.


Beberapa saat kemudian...


Sudah lima belas menit, tetapi Robin belum juga keluar dari kamar mandi. Padahal kedua bodyguard itu sedang menungguinya di depan pintu kamar mandi itu.


Karena tak ada suara atau tanda di dalam kamar mandi itu, salah satu bodyguard mendobrak pintu. Pintu itu pun terbuka setelah mereka berdua berusaha mendobrak.


Mereka tak menemukan Robin di dalam kamar mandi itu. Robin kabur. Kedua bodyguard itupun heran. Kenapa bisa Robin yang sudah babak belur kabur.


Kedua bodyguard itupun melaporkan pada Nawal.


"Nona muda, pria itu kabur." Kedua bodyguard itu berucap bersamaan.


Nawal tersenyum sinis. Ia sudah menduga ini dari awal.


Sementara Nadim kesal. Ia mulai mengumpat.


"Coba kalau tidak dikasih ijin. Pasti dia nggak kabur," sewotnya menggerutu. Ia menyalahkan Nawal atas perginya Robin.


"Cari dia!" titah Nadim geram. Ia melotot pada kedua bodyguard yang sedang menunduk itu. Mereka merasa telah diperdaya oleh seorang Robin. Mereka mengira kalau Robin benar - benar ingin ke kamar mandi.


"Lho, kok?" tanya Nadim. Ia mengernyit heran.


"Lihat saja. Sabar dan tunggu," ucap Nawal tenang.


"Apa maksudmu?" tanya Nadim tidak terima. "Kenapa penjahat seperti itu dibiarkan?" ujarnya berapi-api.


Nawal hanya diam saja. Ia mengerti reaksi Nadim. Tetapi ia tetap santai, tenang dan menikmati amukan Nadim. Jarang lho Nawal lihat Nadim marah-marah.


Tak sampai sepuluh menit, kumpulan bodyguard datang menghampiri mereka. Para bodyguard yang pergi tadi telah kembali. Mereka membawa seorang pria yang sudah babak belur dan tak bisa berbuat apa-apa.


Seketika Nadim dan dua bodyguard itu menoleh ke sumber suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat.


"Kalian!" ujar Nadim.


Seperti biasa, lagi - lagi Nawal diam saja.


Sementara para bodyguard yang membawa pria itu, memposisikan Robin pada tempatnya semula. Di dudukkan mereka Robin pada sebuah kursi lalu diikat tangannya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?" tanya Nadim heran.


"Maaf, tuan muda. Ini rencana nona muda," sahut bodyguard yang sudah selesai mengikat tangan Robin.


Kembali Nawal menginterogasi Robin, menanyakan perihal alasan pria itu meneror dirinya.


"Aku hanya iseng," jawab Robin gugup. Ia masih tak mau mengungkapkan kebenaran.


Dengan lirikan mata tajam, Nawal memerintahkan lagi bodyguard itu untuk memukuli Robin tanpa ampun. Sampai akhirnya...


"Ampuni saya," pinta Robin.


"Saya hanya disuruh," ujarnya lagi. Berusaha ia sekuat tenaga agar suaranya keluar lantang. Agar orang lain tau bahwa dia hanyalah suruhan seseorang.


"Bohong!" sela Nadim.


"Saya tidak bohong. Dan ... apa untungnya saya meneror kamu gadis kecil. Saya hanya disuruh seseorang," sahutnya lagi.


"Wanita itu yang menyuruhmu?" tanya Nawal.


Nadim ternganga atas pertanyaan Nawal. Robin tertunduk. Ia sudah dipermainkan oleh seorang bocah. Bagaimana bisa bocah itu tau tentang dirinya.


"Wanita?" gumamnya.


"Wanita yang kau cintai kan?" tanya Nawal lagi.


Lagi-lagi Robin membisu.


"Kalau diam berarti benar," timpal Nawal.


Robin pun diam saja. Ia sudah kehilangan kata-kata.


"Apa tujuannya menyuruh om meneror saya?" tanya Nawal lagi.


"Saya tidak tau," jawab Robin.


"Bohong. Om jangan coba menipu saya. Saya bisa lebih kejam dari ini. Om mau keponakan om lebih dari ini saya buat?" ancam Nawal.


"Ja-jangan," sahut Robin terbata.


"Saya juga nggak tau adik kecil. Saya juga bingung kenapa dia menyuruh saya meneror kamu. Dia hanya mengimingi saya akan menerima cinta saya bila saya berhasil dengan misi saya," jelas Robin panjang lebar.


"Dan om percaya?"

__ADS_1


Robin tertunduk.


"Dasar orang dewasa bodoh. Dia sudah menipumu," ujar Nawal.


__ADS_2