Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 46. Mama


__ADS_3

Sementara Nawal di dalam sekolah.


Setelah ia turun dari atas motor, ia berjalan perlahan menuju lorong kelas hendak ke dalam kelasnya. Dengan membawa tas coklat polos sekolahnya di pundak.


Nawal melihat kerumunan teman-temannya di dekat lapangan bola. Entah apa yang mereka bahas. Dan Nawal harus melalui itu untuk menuju ke kelasnya.


Semakin lama Nawal semakin dekat. Semakin ia tau apa yang mereka tengah bahas. Apa yang dia rasakan kini sama seperti yang dirasakan sang mama. Sedih, terkejut, panik, kecewa dan menyesal menumpuk semuanya menjadi satu. Bercampur baur di dalam hatinya yang terdalam yang kini tengah bergejolak.


Menyesal ia karena lengah. Ia tak langsung mengusut tuntas masalah ini sampai ke akar-akarnya. Menyesal karena tak langsung memberi pelajaran pada dia yang sudah membuat kekacauan ini.


Ya, Nawal mengaku kalah. Nawal mengaku kalah selangkah dengan orang yang mencoba menghancurkan hidupnya. Bahkan ia mengaku kalah dengan orang yang sedang mengincar omnya sekarang.


Seandainya waktu itu ia langsung bertindak, seandainya waktu itu ia langsung memberi pelajaran pada wanita itu, hal ini tidak akan terjadi. Berita Viral yang menyakiti banyak umat ini, terutama keluarganya tidak akan mungkin terjadi.


Seandainya ia mendengarkan saran dari Nadim untuk segera menemui pembuat onar ini, pembuat berita ini, hal ini tak kan terjadi. Gosip ini tak kan melukai mamanya, tantenya, bahkan mungkin papa Arion. Terlebih nenek Basagita.

__ADS_1


Tanpa terasa, tanpa ia sadari, air mata Nawal telah terjatuh membasahi pipi imutnya.


Ada banyak kata seandainya yang kini teronggok di dalam hati Nawal. Penyesalan yang begitu dalam karena menunda sesuatu hal yang tak ia lakukan padahal ia sanggup melakukannya.


Seketika Nawal teringat pada Fiya mamanya, yang baru saja ia pikir telah meninggalkan area sekolah.


"Mama," batinnya. Sekarang ia merasa sangat dekat dengan mama, yang bukan mama kandungnya itu. Ia merasa saat ini, bersedih, menyesal, merasakan apa yang ia rasakan.


Ia mencoba berkomunikasi lewat jam tangannya kepada sang mama. Tentu setelah ia melewati kerumunan teman-temannya yang tengah menggunjingnya dengan kepala tertunduk dan air mata yang sudah mengalir deras.


Berulang kali ia telepon, tetapi tak diangkat oleh sang mama.


Baru kali ini ia merasa tersakiti di sekolah ia sendiri. Selama ini ia merasa aman, nyaman, disayang, disanjung karena kepintarannya. Dikagumi teman-temannya.


Ia berdiri, mencoba mengambil ancang-ancang, hendak mengambil langkah seribu tapi tiba-tiba bel sudah berbunyi. Dan tentu saja gerbang sekolah pun sudah ditutup rapat oleh pak satpam.

__ADS_1


Tetapi Nawal tetap berusaha sekuat tenaga, berlari sekuat yang ia mampu, berharap masih ada kesempatan. Ia tak mau ada penyesalan - penyesalan lagi dalam hidupnya.


Namun sayang, ia terlambat. Pintu gerbang sekolah itu sudah digembok oleh pak satpam. Dan pak satpam tersebut yang melihatnya berhenti seketika setelah berlari hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dan mengisyaratkan agar Nawal segera masuk ke dalam kelas.


Nawal bukanlah anak yang memiliki tubuh tinggi, tegap, yang bisa memanjat gerbang itu. Nawal bukanlah orang yang punya kekuatan super untuk menerobos gerbang besi yang menilang tinggi itu.


Tidak. Dia masih kecil. Masih seumuran anak TK, meski pemikiran sangat dewasa.


Dengan berat hati, Nawal berjalan perlahan. Mencoba menata hatinya yang kini luka. Dengan tangis yang tak mampu ia tuangkan saat ini. Ia mencoba tetap berjalan walau perlahan hingga masuk ke dalam kelasnya.


"Nawal, dari mana saja kamu? Kamu sudah terlambat lima belas menit," ucap seorang guru setelah Nawal tiba di depan pintu dengan kepala yang masih tertunduk lesu.


Melihat diamnya Nawala membuat sang guru bingung. Ia mencoba mencari tau dan bertanya kembali.


"Dari mana kamu?" tanya guru berjenis kelamin laki-laki itu.

__ADS_1


Nawal masih diam, tak ada rencana untuk menjawab.


"Berdiri di depan kelas!" titah sang guru dengan tegas.


__ADS_2