Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 52. Nawal, Ya?


__ADS_3

Brakk


Terdengar bunyi keras. Seperti sesuatu yang besar terjatuh.


Dan sekarang, itu adalah tubuh seorang anak kecil yang terjatuh di aspal. Terkulai lemah tak berdaya. Banyak darah yang sudah berceceran di samping tubuh itu. Gadis kecil itu, tak lain tak bukan adalah Nawal.


Seketika jalanan yang awalnya berjalan lancar, kini macet total. Tak bisa bergerak walau sedikit pun. Ada yang turun dari mobil atau motor untuk melihat apa yang terjadi dan ada pula yang memilih menunggu saja sampai kemacetan usai.


Tetapi sebagian sebuah memilih mengamati, mencaritahu situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Banyak yang merasa iba dan banyak pula yang acuh saja.


Tak berapa lama, ambulans pun datang. Beberapa perawat membawa tandu, kemudian di bantu pihak berwajib mereka mengamankan tubuh yang tadi terkulai itu. Memasukkan ke tandu lalu membawa ke dalam mobil ambulans.


Mobil ambulans pun melaju, meninggalkan keramaian, setelah ditertibkan oleh pihak berwajib agar menepikan mobil supaya mobil ambulans bisa lewat.


Sirene mobil ambulans pun bersahutan dengan sirene mobil polisi. Membuat jalanan bising.


Satu persatu, mobil mulai bergerak. Jalanan perlahan mulai normal kembali. Melanjutkan laju yang tadi sempat berhenti beberapa saat.


****


Sedang di rumah mertua Ela saat ini. Suasana pun sepi. Hanya berdua orang di rumah. Ada mama Heera mertua Ela dan Ela sendiri. Hanai dan papa Ghaffar sudah berangkat bekerja sedari tadi.


Tok tok tok


"Ela," panggil mama Heera sambil mengetuk pintu kamar menantunya itu.

__ADS_1


Tak ada sahutan dari dalam. Mama Heera pun mengetuk kembali pintu kamar itu. Tetapi tegas saja tak ada sahutan.


"Apa mungkin dia mandi," batinnya.


Mama Heera pun menunggu di depan pintu. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan kepada menantunya itu. Dan hal itu tak bisa ditunda lagi. Mumpung kini mereka berdua saja yang ada di rumah.


Setelah lama menunggu, mama Heera mencoba mengetuk pintu kamar itu lagi.


"Ela," panggilnya. Suaranya lebih kuat dari sebelumnya.


"Iya, ma," sahut dari dalam. Ia juga menguatkan suaranya.


Tap tap tap


Ceklek


"Ela, boleh mama bicara sama kamu?"


"Bicara apa, ma?" tanya Ela kemudian. Ia menatap mertuanya lamat-lamat.


"Ada apa, ma?" timpalnya lagi tak sabar.


"Kamu mau biarkan mama berdiri di sini saja?" tanya sang mama menyindir. Karena sedari tadi ia menunggu tapi tak ditawari oleh menantunya untuk masuk ke dalam dan mengajaknya duduk.


Ela pun tersadar setelah dapat sindiran dari Sanga mama mertua.

__ADS_1


"I-iya. Silakan masuk, ma," ucap Ela gugup. Ia malu dapat sindiran seperti itu. Apalagi Sanga mertua meminta ingin masuk ke dalam kamarnya dengan Hanai. Takut sang mama mertua komen ini dan itu.


Malah belum sempat lagi ia beberes. Ia merasa beres menurutnya belum tentu beres di mata sang mertua.


"Silakan duduk, ma," ucapnya ragu. Ia menggeser kursi plastik sederhana yang memang ada di kamar itu. Kursi yang biasa digunakan Hanai saat ia menyelesaikan tugasnya yang masih belum kelar.


"Kamu juga duduk dong. Memangnya mama banyak hutang sama kamu?" kelakar mama Heera. Ia menampilkan senyumnya.


"Hehehe," sahut Ela, tersenyum juga. Bahkan senyumnya menghasilkan tawa ringan.


Ela pun mengambil kursi yang model sama lalu memposisikannya dekat dengan sang mertua.


Susana di kamar pun sepi. Tak ada yang memulai untuk mengobrol duluan. Membuat Ela segan untuk memulai, mengingat sang mama yang ingin membicarakan sesuatu dengannya. Ia sadar itu penting dan sepertinya tak boleh semua orang tau.


"Jadi sebenarnya mama pengen nanya sama kamu," ucap mama Heera memulai obrolan.


Ela mengernyitkan dahi menunggu mama Heera melanjutkan pertanyaannya.


"Apa benar kamu pernah hamil sebelumnya?" tanya mama Heera to the point. Rasanya ia sudah lama memendam ini. Sudah bertahun-tahun.


"A-apa?" tanya Ela gugup.


"Ma-maksud mama aku hamil? Pernah hamil? Hamil gitu, ma?" tanyanya gugup. ia membalikan setiap kata yang keluar dari bibirnya.


"Apa benar dia pernah hamil," batin mama Heera, bingung dengan sikap Ela.

__ADS_1


"Lalu kalau kamu hamil, kemana anak kamu? Apa Nawal?" tanya mama Heera lagi menebak.


"Iya, Nawal?"tanyanya lagi.


__ADS_2