Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 28. Misi Rahasia 2


__ADS_3

"Kemarin ngomong apa aja ke tante Ela?" tanya Fiya pada Nawal. Saat ini mereka sedang menikmati sarapan pagi. Ada mama Basagita, Elfan, Arion, Ela, Hanai, Fiya, Arion dan tentunya Nawal si gadis mungil cerdas yang super cuek dan dingin.


"Nggak ada," jawab Nawal singkat, padat dan jelas.


"Benar begitu," kak?" tanya Fiya ingin lebih memastikan.


"I-iya," sahut Ela terbata.


"Kenapa kakak gugup? Kakak nggak bohong kan?" tanya Fiya, mencecar pada Ela.


"Ela, Fiya, kalau lagi makan, janganlah dulu bersuara. Kalian ini kayak anak kecil aja," ujar sang mama. Mama Basagita ingin mengalihkan topik. Tak ingin keluarga besar itu memulai pagi dengan perdebatan meski sekecil apapun.


"Benar tuh kata mama," timpal Elfan. Mulutnya sedang penuh dengan makanan.


"Kamu juga," ujar mama Basagita kepada Elfan. "Mulut lagi penuh kok ngoceh. Kalau keluar nasi yang di mulut kamu gimana? Nggak sopan."


Ela, Fiya dan Elfan akhirnya makan dengan diam. Dari dulu memang ajaran mama Basagita dan papa Rudi, tidak boleh makan sambil membahas apapun.


Sementara Arion dan Hanai sebagai pendatang di rumah itu, hanya bisa menikmati momen itu. Momen yang tidak setiap hari terjadi. Dan menurut mereka itu adalah drama famili yang tak boleh dilewatkan jam tayangnya.


"Ma, kita jalan-jalan, yok! Kayak piknik gitu," ajar Fiya.


Kini mereka sedang duduk di lesehan, di ruang tamu sambil menikmati kerupuk yang dibawa oleh Ela dan Hanai dari tempat mertua Ela.


"Mama nggak usah ikut. Kalian aja," tolak mama Basagita.


"Ayolah, ma. Jarang loh kita pergi piknik. Apalagi dengan formasi lengkap begini," rengek Ela.


Lagi-lagi ia layaknya anak kecil. Hanai tersenyum dengan tingkah Ela itu.


"Kau kak, dari dulu nggak berubah. Masih aja kayak anak kecil," protes Fiya. Selalu saja Fiya yang tak terima dengan sikap kekanakan Ela.


Arion tersenyum melihat istrinya yang cerewet itu. Fiya adalah si paling disiplin, si paling bersih si paling kritis. Paling tak terima kalau Arion mengambil baju di lemari dan akhirnya berantakan. Si paling kesal kalau mandi dan handuk di letak sembarang tempat. Paling tak terima kalau membujuk anak dengan menggunakan hp. Dan si paling cerewet kalau sehabis makan, piring di letak sembarang. Yang seharusnya di tempat piring kotor.


Dan lainnya masih banyak lagi.


"Awa nggak ikut. Mama saja," jawab Nawal langsung. Ia sudah malah mendengar rengekan tante dan bujukan mamanya itu. Memang begitulah Nawal, tak suka basa-basi, tak suka banyak ngomong.


Seketika Ela dan Fiya terdiam. Dan semua mata tertuju pada Nawal yang masih mengunyah kerupuk di dalam mulutnya. Tentu saja mereka semua heran. Biasanya anak kecil paling senang diajak jalan-jalan. Lah ini? Malah tidak ada niat sedikitpun untuk ikut.

__ADS_1


"Kenapa nggak ikut?" tanya mama Basagita. "Apa karena nenek nggak ikut? Baiklah, nenek akan ikut."


"Iya, nak. Kenapa nggak ikut? Kan seru," timpal Arion.


"Ikut ya, please," rengek Ela.


Sementara Hanai, Fiya dan Elfan diam saja, walau mereka bertiga penasaran apa apa alasan Nawal menolak untuk ikut piknik. Kalau istilah sekarang, healing.


"Awa kan bukan orang dewasa yang butuh healing. Jadi buat apa?" celetuk Nawal santai.


"Tapi sayang healing itu .."


"Nawa ada tugas," selanya cepat.


Tugas apa? Ini kan masih suasana libur. Siapa guru yang sudah berani memberi tugas kepada anaknya padahal suasana masih libur? Bukankah hari libur tentunya dimanfaatkan untuk kebersamaan keluarga? Begitu banyak tanya di dalam benak orang dewasa itu.


"Tugas apa, sayang?" masih tanya mama Basagita.


"Ada tugas kelompok, nek. Dan kami udah berjanji hari ini akan selesaikan. Biar nanti pas masuk sekolah tidak terburu-buru," jawab Nawal, membungkam mereka semua.


Tin tin tin


"Itu sudah datang jemputan untuk Awa. Awa pergi ya, mam, pap, nte, om dan nenek. Nanti kalau tugasnya udah selesai Nawal akan pulang cepat kok," ucapnya. Kali ini bahkan ia menyebutkan namanya lengkap. Bahkan bicaranya hangat.


Kalau ada maunya ya begitu, bicara lembut, hangat, sebut nama dengan lengkap.


Nawal langsung pergi setelah menyalam semua orang dewasa itu. Mereka semua masih ternganga, belum sadar jika Nawal telah pergi.


Tugas apa di hari libur seperti ini? Dan siapa yang menjemput Nawal? Sebegitu sibuknya kah Nawal di luar sana? Begitu banyak tanya dalam benak mereka.


***


"Gimana yang kubilang kemarin? Sudah?"


"Tinggal menunggu hasil."


"Lelet banget kerjanya."


"Kapan keluar hasilnya?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Mungkin sebentar lagi."


"Cihh." Gadis mungil itu berdecih. Lalu menyunggingkan senyum seringainya.


"Baru itu saja disuruh sudah nggak becus," timpalnya lagi.


Kring kring kring


Ponsel lelaki itu berdering.


"Mungkin ini hasilnya. Sebentar aku angkat dulu telponnya."


Beberapa saat kemudian...


"Apa hasilnya?"


"Iya, Wa. Kamu dengannya si beliau ada hubungan darah. Disini hasilnya 99,9 persen. Coba kamu lihat." Lelaki itu menyodorkan kertas putih yang sudah ia keluarkan dari dalam amplop tersebut. Amplop bertuliskan logo rumah sakit.


Nawal membaca tulisan dalam lembaran kertas itu dengan seksama. Tak butuh waktu lama ia membaca itu. Hanya sedetik ia sudah bisa. Dengan scanning, ia sudah ingat semua isi dalam surat itu. Tak ada se huruf pun yang ia lupakan.


"Sudah kuduga," gumamnya pelan. Bocah kecil di samping nya itu tak bisa mendengarnya. Ia hanya bisa melihat bibir Nawal yang komat-kamit.


Ya, gadis mungil itu adalah Nawal. Dan bocah lelaki itu adalah Nadim. Teman satu sekolah dengan Nawal, sekelas pula. Hanya mereka berdua lah yang bisa berdamai hingga sering melakukan misi penting yang mereka sebut, secret mision.


Tetapi, jauh lebih cerdas antara Nawal dan Nadim. Sering sekali Nadim meminta bimbingan Nawal akan banyak hal. Tak bisa ia melakukan sesuatu jika tak ada ikut campur Nawal, meski hanya sedikit saja.


Sering sekali pekerjaan dan misi yang ditugaskan untuk Nadim tak usai sampai tuntas.


"Surat untuk siapa itu sebenarnya? Dan siapa yang dijelaskan dalam isi surat itu?" tanya Nadim penasaran. Pembahasan mereka sudah seperti orang dewasa saja. Tak ada main-main dalam kamus mereka.


"Dasar orang dewasa sukanya bohong," kasih gumam Nawal. Tapi ia tak mengungkapkannya agar tak terdengar oleh Nadim.


"Wa," panggil Nadim. Ia sangat penasaran kepada siapa isi surat itu ditujukan. Siapa yang mirip dengan Nawal?


"Bisa nggak jangan terlalu kepo terhadap urusan orang lain?" sergahnya langsung. Membuat Nadim langsung terdiam.


Memang sudah hal biasa ia diperlakukan Nawal seperti itu.


"Pelit banget sih. Itu aja nggak boleh aku tau. Serahasia itu ya?" tanya Nadim lagi.

__ADS_1


__ADS_2