
"Aaaaa..."
Para siswa yang sedang berada di dalam kamar mandi itu berteriak. Seketika semua konsentrasi teralihkan ke sana. Karena teriakan mereka yang teramat kencang. Seperti suara bocah pada umumnya yang kecil dan melengking.
Bahkan guru-guru mereka juga ikut menyerbu kerumunan yang tiba-tiba itu. Dalam hitungan detik, mudah sekali mengumpulkan para murid dan guru itu di depan kamar mandi siswa.
Seorang guru laki-laki, berseragam olah raga menghampiri mereka yang sedang histeris. Ia langsung memeluk mereka berempat.
"Ada apa, nak? Kenapa kalian berteriak?" tanyanya lembut.
Keempat siswa itu tidak menjawab. Mereka masih syok. Bahkan keringat mereka sebesar jagung membasahi wajah dan dahinya. Masih terlihat gemetar ketakutan dalam diri mereka.
Guru laki-laki tersebut, yang biasa disapa pak B, memeluk mereka kembali. Ia ingin menenangkan mereka, memberi mereka ruang ternyaman.
Perlahan pak B membawa mereka keluar dari kamar mandi itu. Tetapi tiba-tiba, salah seorang dari keempat murid itu menarik baju oleh raganya. Pak B merasa heran.
"Ada apa, nak?" tanyanya penasaran. Ia masih melihat siswa itu ketakutan, siswa yang sering disapa Zai itu.
"Kenapa, Zai?" tanya pak B.
"I-i-itu, pak. Itu.... " kata Zai terbata. Kakinya masih bergetar ketakutan.
Perlahan sekali tangan Zai menunjuk ke arah cermin besar yang ada di kamar mandi siswa itu. Pak B pun mengikuti gerakan tangan Zai.
Alangkah terkejutnya pak B saat ia melihat darah di cermin itu. Bahkan darah itu berbentuk tulisan.
"KAMU ANAK HARAM." Pak B bergumam membaca tulisan itu.
Usia pak B membacanya, segera ia membawa keempat murid itu keluar dari kamar mandi itu. Lalu ia melaporkan hal itu kepada ibu kepala sekolah yang kebetulan juga ikut hadir di sana.
Nawal yang mendengar pak B bercerita terkejut. Begitupun Nadim yang ada di sampingnya. Lalu tiba-tiba Nawal teringat dengan kotak misterius yang ia dapat waktu itu.
"Apa ada hubungannya dengan itu," batinnya bertanya-tanya. Tetapi kenapa sampai menyerang sekolahnya?
"Kenapa?" tanya Nadim mengerakkan bibirnya. Ia tak ingin ada yang menyadari pembicaraan mereka.
"Jangan bilang kamu mengaitkan kotak misterius itu?" bisik Nadim lagi.
Nawal mengangguk patah dan tersenyum tipis.
__ADS_1
Usai mendengarkan penjelasan pak B, Bu Novia ibu kepala sekolah memanggil satpam.
"Pak satpam!" panggilnya dengan suara menggelegar. Ia rasanya butuh waktu lama kali harus berlari ke pos satpam atau menyuruh murid untuk memanggil satpam penjaga itu.
Kembali Bu Novia mengeluarkan suara melengkingnya. Dan datanglah seorang satpam yang masih muda, dua orang menghampiri Bu Novia.
"Ada apa, Bu?" tanya salah seorang diantaranya. Di name tagnya tertulis Yetno Sudirman.
"Apa saja tugas kalian? Kenapa tidak ada yang melihat orang menyelinap masuk ke sekolah ini?" tanya Bu Novia dengan suara meninggi.
"Maksudnya, Bu?" tanya Yetno. Sementara satpam satu lagi hanya diam. Ia ingin mendengarkan dan mencerna apa yang terjadi.
"Coba kamu cek kamar mandi itu. Lalu berikan komentarmu!" titah Bu Novia. Ia menatap tajam pada Yetno dan rekannya itu. Sementara guru lain menenangkan murid. Mereka membawa murid berkumpul di aula menjauh dari tempat kejadian.
Kedua satpam itu pun gegas masuk ke kamar mandi. Memeriksa semua yang sekiranya mencurigakan.
"Nggak ada apa-apa," gumam Yetno.
"Eh eh, Yet, coba deh lihat cermin itu," titah satpam satu lagi, yang biasa dipanggil Boni.
"Apa, Bon?" tanya Yetno penasaran. Ia juga menoleh kearah mana Boni memandang.
"Darah?" pekik Yetno. "Darah siapa ini? Dan siapa yang menulis ini?" tanya Yetno. Ia sangat terkejut dengan tulisan darah itu.
"Inilah yang menjadi tugas kita sekarang, Yet. Kita harus mencari tau nya. Kita harus mengusut tuntas kasus ini sampai ke akar-akarnya."
"Ah, gayamu, Bon. Kayak detektif aja," cerocos Yetno.
"Ya kan memang harus. Bila memang perlu kita harus melibatkan detektif handal untuk kasus ini. Masa sekolah se bagus dan se aman ini ada yang mengusik. Siapa coba yang berani. Secara man satpamnya profesional," puji Boni bangga pada dirinya sendiri.
"Bacot kau. Banyak gaya. Malah bercanda," sela Yetno. Ia menjitak kepala Boni pelan.
"Pikir tuh apa yang harus kita bilang ke Bu Novia. Takutnya malah kita di skors karena nggak becus menjaga sekolah," imbuhnya lagi sambil mengerutkan dahi.
"Santai lah, bro. Miss Novia kan baik. Secara diakan pujaan hati Boni," ujarnya sambil tersenyum lebar. Membayangkan ia sedang menggenggam tangan Bu Novia.
"Siapan lu malah ngehalu. Dasar... Ingat, Bu Novia udah jadi milik orang."
"Belum toh," jawab Boni cepat.
__ADS_1
"Bu Novia udah tunangan, Bon. Mana mungkin Bu Novia mau sama kau. Yang ada malah ilfeel."
"Eh, Yet sebelum janur kuning melengkung, Miss Novia masih belum milik siapa-siapa. Jadi Boni masih bisa dong berharap memilikinya."
Boni masih berkhayal sedang berkencan dengan Bu Novia, kepala sekolah tempat Nawal dan Nadim menuntut ilmu.
"Bangun, woy. Udah siang nih. Jangan mimpi terus!" pekik Yetno. Ia semakin kesal dengan teman kerjanya itu. Ia pun bergegas meninggalkan Boni sambil memikirkan apa yang akan ia sampaikan kepada Bu Novia.
***
"Kenapa lagi, bro. Seberapa banyak sih hutangmu sampai segitu kerutnya itu dahi?" ujar Dante.
"Pusing aku, Dan."
"Kenapa? Ah, kamu ngeluh aja kerjaannya. Seharusnya kau bersyukur dikasih istri cantik, baik, pengertian dan perhatian. Aku aja suka iri samamu."
"Masalahnya bukan itu, Dan."
"Lha terus?"
"Mama, Dante."
"Tante? Kenapa dengan tante?"
"Ia terus menyakiti hati Ela. Dengan menuntut anak dan anak. Hah." Hanai menarik nafasnya kasar.
"Ya tinggal kasih aja. Cetak jadi, gampang kan?"
"Emangnya bikin kue?" gerutu Hanai.
"Berarti kau yang kurang tokcer," celetuk Dante. "Udah cek belum antara kamu dan Ela. Siapa tau salah satu diantara kalian ada yang nggak tokcer," imbuh Dante lagi.
Hanai menimang perkataan Dante. Baru ia sadar, bahwa selama ini dia belum ada memeriksa kesehatannya. Apakah ada masalah atau tidak. Dan iapun akhirnya membenarkan celetukan Dante tadi.
Pikiran Hanai tertuju kepada Ela. Mengingat Ela yang sering disalahkan mamanya, dengan belum menghadirkan cucu untuknya. Ia semakin merasa bersalah dan iba kepada istrinya itu. Ia menyesal tak pernah tau kapan Ela mengecek kondisi kesehatannya.
Dimana Hanai selama ini lebih memilih sibuk dengan kampusnya dan mahasiswa dan mahasiswi nya.
"Mau kemana?" pekik Dante. Ia mengernyitkan dahinya, heran saat melihat Hanai pergi begitu saja tanpa menghiraukan dirinya.
__ADS_1
"Ini nih kebiasaan. Ninggalin orang tanpa jejak. Selalu begitu. Pasti tuh mau ketemu istrinya. Kasian banget aku yang jomblo ini," gumam Dante menggerutu.