
"Angkat kaki satu dan pegang telingamu!" titah sang guru kembali.
Nawal pun melakukan apa yang gurunya perintahkan. Ia tak perduli ia merasa lelah sekarang. Ia tak peduli meski ia ketinggalan pelajaran. Baginya yang terpenting sekarang adalah sang mama.
Pikirannya sekarang tak ada di sekolah ini, tak ada di kelas ini. Raganya disini tapi hati tidak. Ia hanya mendengar sayup-sayup suara gurunya dan teman-temannya yang sedang asyik berdiskusi. Padahal ia dekat dengan mereka. Namun hanya suara samar yang ia dengar.
Apa yang terjadi pada mama Fiya sekarang? Apa yang terjadi pada nenek Basagita sekarang? Apa yang terjadi pada papa Arion sekarang? Dan apa yang terjadi pada ..... Daniel sekarang, mama kandungnya? Apakah dia juga merasakan apa yang Nawal rasakan? Sungguh banyak tanya yang menggunung sekarang dalam benaknya.
Saat ini merasa sendirian. Tak ada yang menemani. Kepergian Nadim keluar kota bersama dengan keluarganya membuat Nawal merasa kesepian. Biasanya Nadim selalu menemaninya dalam hal apapun.
Begitupun sebaliknya. Nawal pernah menemani Nadim dihukum karena lupa membawa buku penghubung. Ia juga mengatakan kepada guru kalau ia tidak membawa buku penghubung. Sehingga ia pun ikut dihukum. Padahal ia menyembunyikan bukunya di dalam tas.
Banyak hal yang mereka lalui bersama. Baik tawa, luka, atau juga marah. Sering sekali mereka melakukan secret mision berdua, tentunya dengan bantuan para bodyguard.
Saat ini Nawal berharap di dalam hatinya, waktu cepat berlalu. Ia ingin memeluk sang mama. Ia ingin tau bagaimana mamanya sekarang. Walau tetap masih berharap kalau mamanya tidak tau apa-apa.
__ADS_1
Mengingat tadi pagi mereka berdua tertunda untuk melanjutkan menonton berita yang sedang booming itu. Ia berharap sang mama tak tau berita itu. Meski ia sadar, berita seperti itu sangat lah mudah tersebar dan sangatlah mudah sampai ke telinga sang mama.
Mengingat mama Fiya juga bekerja di sebuah perkantoran yang tak luput dari ibu-ibu penggosip.
****
"Nawal.... Bagaimana ia sekarang? Apakah ia sudah tau berita ini? Apakah ia tau dari teman-temannya atau dari ibu-ibu tadi," batin Fiya.
Ia melajukan motornya dengan perasaan kalut. Sampai-sampai bunyi klakson yang bersahutan tak ia dengarkan karena konsentrasi sudah terbagi. Hingga akhirnya ...
Tiiiin
Tiiiin
Terjadilah hal yang tak diinginkan. Sepeda motor yang Fiya tumpangi bertabrakan dengan truk pengangkut kayu.
__ADS_1
Brakk
Kecelakaan naas itupun tak bisa dielakkan oleh sopir pengemudi truk pengangkut kayu itu.
Sehingga sepeda motor Fiya terpental jauh sekitar lima meter dan tubuh Fiya tergeletak lemah di bawah truk itu akibat benturan keras tadi.
Sekelompok kendaraan langsung macet total. Orang-orang berkerumun melihat keadaan sekitar. Begitupun dengan sopir truk, dengan handuk yang tergantung di lehernya ia usah peluhnya yang bercucuran.
Entah raut apa yang tergambar dalam hati dan benar pak sopir truk itu. Tak ada yang bisa menebak. Apalagi mendengar beberapa orang yang menyalahkan dia.
Ditambah lagi saat ia melihat tubuh wanita yang ia tabrak telah terkulai lemah tak berdaya di bawa truk yang ia kendarai, membuat ekspresinya semakin tak terbaca.
Beberapa menit kemudian, suara sirene mobil polisi perlahan menuju tempat kejadian. Dan tak berapa lama disusul oleh suara sirene mobil ambulans.
Sepertinya ada warga yang sigap langsung bertindak melaporkan kejadian ke pihak yang berwajib dan tanggap darurat.
__ADS_1