Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 37. Cinta Ditolak


__ADS_3

Flashback


"Ini aku bawakan makanan. Di makan ya!"


"Tapi aku udah makan, kak."


"Tenang. Ini cemilan kok dan ini tak mengandung lemak. Sudah aku racik sesuai takarannya. Aku tau kamu nggak suka banyak makan berlemak."


Lelaki itu diam saja. Tak menerima atau menolak kotak bekal yang disodorkan wanita itu padanya.


"Ada apa? Aku masih ada kelas," sela lelaki itu datar. Kelihatan sekali bahwa ia tak menyukai kehadiran wanita itu.


"Memangnya kakak nggak kerja? Nggak ada pasien?" tanyanya lagi.


"Kamu mengusir aku?"


Lelaki itu diam saja. Dia adalah seorang siswa yang sedang duduk di bangku kelas satu SMA. Entah karisma apa atau daya tarik apa yang ia miliki sehingga ia disukai, dicintai dan disayangi oleh seorang wanita yang saat ini telah berprofesi sebagai dokter kandungan.


Dan hari ini, bukan kali pertama ia menunjukkan perhatiannya kepada lelaki itu. Lelaki yang biasa disapa Elfan. Anak ketiga dari tiga bersaudara. Dan dia adalah anak satu-satunya laki-laki di dalam keluarga itu.


"Aku suapin ya," ujar wanita itu seraya tersenyum manja.


"Nggak usah, kak. Sudah kubilang aku nggak lapar."

__ADS_1


"Tapi kan...."


"Sudah kubilang aku nggak mau ya nggak mau. Kamu mau aku marah?" sela Elfan cepat.


Elfan sungguh-sungguh heran dengan wanita itu. Wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan yang usianya jauh lebih tua darinya.


"Ngerti bahasa Indonesia nggak sih?" cerca Elfan. Ia sudah tak tahan lagi. Selama ini ia berusaha sabar menghadapi gadis itu. Gadis yang selalu datang mengganggunya ke sekolah.


Elfan sebagai laki-laki satu-satunya dalam keluarganya sungguh sangat menghargai seorang wanita. Ia tak pernah kasar kepada wanita, meski itu bukan saudarinya sendiri.


Tetapi kali ini kesabarannya telah terkikis. Ia merasa kalau gadis yang duduk di sampingnya saat ini membuat ia merasa risih.


"Pergi atau aku laporin ke satpam agar mengusirmu dari sini!"


"Apa kurangnya aku, Elfan? Hah?" tanyanya lagi. Ia sudah terlihat tidak manja lagi.


"Beritahu aku dimana kurangku. Beritahu aku kamu ingin apa dariku!"" mohon gadis itu.


"Kamu tidak kurang satu apapun. Kamu baik, kamu cantik tapi aku merasa hatiku tak ada reaksi saat bersamamu. Kamu semakin membuatku risih."


Gadis itu tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya ia ingin menumpahkan air matanya, tapi ia sadar banyak orang yang menonton mereka sekarang. Ia jadi malu. Ditolak oleh orang yang sangat ia sayang di depan banyak orang.


"Tega kamu, Fan. Kamu perlakukan aku seperti ini. Kamu nggak punya hati!" cerca gadis itu.

__ADS_1


Elfan hanya diam saja.


"Ingat Elfan, aku nggak akan nyerah! Dan kamu tidak boleh menjadi milik siapa pun. Hanya seorang Alya la yang berhak atas dirimu. Titik!" ujarnya berapi-api.


"Akan kucari segala cara, akan aku buat segala cara agar kamu menjadi milikku!" ujarnya lagi. Ia bergegas pergi meninggalkan Elfan dan keramaian itu.


Gadis itu adalah Alya. Dokter kandungan yang dulu membantu persalinan Daniela, kakaknya Elfan.


Sejak pertama memandang Elfan, ia langsung jatuh cinta. Sejak saat itulah, ia mencari tau segala informasi mengenai Elfan. Ia berusaha terus mendekati lelaki itu, menjadikannya sebagai miliknya.


Teman-teman Elfan yang menyaksikan kejadian itu ada yang mencibir. Mengatakan gadis itu seperti gadis yang tak punya harga diri. Sebagian ada yang menilai bahwa gadis itu gadis pemberani. Dan ada pula yang bilang gadis itu terlalu naif. Banyak hal penilaian mereka.


Akan tetapi Elfan abai. Ia tak perduli dengan anggapan semua orang. Yang penting gadis itu sudah pergi. Dan semoga dengan cercaannya tadi gadis itu akan jera. Semoga kelak tak mengganggunya lagi.


Beberapa saat kemudian....


Drrrrrt drrrrrt


Handphone Elfan bergetar. Buru-buru ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


"Terima cintaku atau akan aku bongkar rahasia keponakanmu yang sebenarnya!"


Ya, ternyata Alya mengirim pesan kepada Elfan. Sebuah ancaman yang menyatakan akan membongkar siapa Nawal sebenarnya apabila Elfan tak menerima cintanya.

__ADS_1


__ADS_2