Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 40. Kita Harus Bicara


__ADS_3

Flashback


"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau menerima cinta aku?" tanya lelaki itu kepada wanita yang memalingkan wajah darinya.


Posisi pria itu sekarang duduk berlutut di hadapan gadis yang sedang duduk itu.


"Yakin kamu mau melakukan apapun untukku?" tanya gadis itu berbinar.


"Apapun akan aku lakukan asal kita bisa jadi pasangan kekasih. Asal kamu mau jadi pasangan ku."


"Apapun?" Wanita itu ingin memastikan.


"Iya." Robin menjawab sambil menganggukkan kepalanya. Ia merasa saat ini alam sedang mendukungnya memperjuangkan cintanya untuk seorang wanita yang bernama Alya.


Seorang gadis cantik, berprofesi sebagai dokter kandungan yang pernah membantu kakaknya saat melahirkan.


Ketelatenan, kelihaian dan kelembutan Alya seperti membius Robin. Tak bisa ia mengelak bahwasanya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis itu.


Gadis dengan body yang tidak kurus namun juga tidak gemuk, kulit putih dan surai panjang lurus. Namun lebih sering dia ikat tinggi.


Cinta telah membutakan Robin. Setelah ia rela memohon-mohon, bersujud di kaki Alya, sekarang ia rela melakukan apa saja demi bisa mendapatkan hati gadis itu.


"Lakukan sesuatu untukku. Lalu aku terima cintamu," ucap Alya tegas.


"Baik." Robin menjawab dengan lantang.


"Boleh tau apa?" tanya Robin penasaran.


"Nanti aku chatt," sahut Alya cepat.


Flashback off

__ADS_1


Nawal tersenyum sinis mendengar cerita Robin. Mereka yang ada disitu dengan seksama mendengar cerita Robin sampai selesai.


'Om ditipu sama perempuan itu," ujar Nawal.


"Bagaimana kamu tau?" tanya Robin keheranan.


Robin semakin bersemangat ingin mengetahui darimana Nawal tau bahwa ia sedang mengejar seorang gadis. Darimana dia tau?


Begitu banyak tanya yang ingin ia sampaikan kepada Nawal.


"Makanya, jadi cowok jangan lemah. Jangan terlalu percaya sama perempuan. Kena tipu kan?"


"Ta-tapi dari mana kamu tau semua tentang aku?"


Robin semakin penasaran. Ia sampai menggebu-gebu. Sekarang Robin sudah tidak terikat lagi. Sudah dilepas oleh para bodyguard sesuai perintah Nawal.


"Aku sudah lama mengawasi om. Di dalam mobilnya aku memasang kamera tanpa kamu sadari. Jadi semua aktivitas om, aku tau. Aku juga tau wanita itu. Dia bahkan sedang mengejar om ku. Adik dari mamaku," jelas Nawal panjang lebar.


Untuk pertama kali ini Nawal bicara panjang lebar menjelaskan sesuatu. Selama ini bisa dihitung berapa kaya yang keluar dari bibir mungilnya itu.


Nadim tersenyum mendengar cibiran Nawal. Entah kenapa dia bisa memutuskan untuk berteman dengan Nawal. Bahkan segala sesuatu tentang Nawal ia sudah tau. Keluarganya, sikap baik dan buruknya Nawal, makanan dan minuman kesukaannya, Nadim sudah tau semuanya.


"Dari mana...."


"Ayo pergi!" ajak Nawal. Ia menyela Robin bicara. Padahal masih banyak pertanyaan yang ingin Robin ajukan padanya. Robin jadi tertarik dengan gadis kecil itu. Ia begitu menggemaskan dengan segala kecerdasannya dan juga senyum dinginnya.


Robin suka itu. Dia yang terlahir sebagai anak tunggal, seketika merasa mempunyai seorang adik perempuan yang sangat mungil, ikut dan menggemaskan.


Robin merasa Nawal adalah anak yang unik dan berbeda dari anak seusia Nawal lainnya.


Mereka pun meninggalkan Nawal seorang diri.

__ADS_1


"Tunggu aku!" pekiknya. Ia pun bergegas setelah ia sadar bahwa semua orang telah meninggalkannya. Sedari tadi ia hanya terpaku melihat Nawal tanpa sadar ia telah ditinggalkan.


Sementara di tempat lain.


Tok tok tok


Tok tok tok


"Sebentar!" seru suara wanita dari dalam.


Ceklek


Ia pun membuka pintu itu setengah. Lalu menyembulkan kepalanya, mencaritahu siapa yang sudah mengetuk pintu dengan tidak sabaran.


"Dokter Alya?" pekik Ela. Segera ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menyadari kalau di rumah ada orang lain selain dia Ia takut ada orang yang tau bahwa dokter Alya berkunjung ke rumah mertuanya


"Ke-kesini mau apa?" tanya Ela gugup. Ela sangat terkejut dengan kedatangan Alya yang tiba-tiba.


Setelah sekian tahun ia dipertemukan kembali Dengan seorang wanita yang membantu persalinan Ela saat berjuang melahirkan Nawal dulu, beberapa tahun lalu.


"Aku mau bicara sama kamu. Penting," jawab Alya to the poin.


"Apa ya?" tanya Ela penasaran.


"Di luar. Jangan disini. Atau kamu mau masa lalu kamu terbongkar?" Suara Alya seperti suara mengancam.


"Ma-maksud dokter?" tanya Ela bingung. Masa saat ia bersalin langsung berputar dalam benaknya.


"Kamu mau mertua dan suamimu tau kalau kamu...."


"Stop dokter! Please, jangan. "

__ADS_1


"Makanya, ayok. Kita harus bicara!" jawab Alya tegas.


Ela pun menutup pintu rumah itu kembali, dimana tadi belum sempat Alya masuk ke dalam. Cepat - cepat Ela beranjak dari sana sebelum ada yang menyadari bahwa ada yang mengetuk pintu tadi.


__ADS_2