
"Nawal! Nawal!"
Terdengar suara teriakan Fiya yang memecah ruangan yang sepi itu. Sinar sang fajar menyapa pagi itu. Menyibak tirai warna ungu soft yang menghiasi jendela kamar minimalis itu.
Jam di dinding berdetak menunjukkan waktu masih pagi. Bahkan masih jam enam, tetapi matahari sudah muncul mengawali pagi. Tersenyum menyapa insan manusia di bumi ini.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya suaminya. Ia juga tersentak dari tidur lelapnya akibat mendengar suara jeritan sang istri.
Dilihatnya ke samping. Istrinya masih terlelap. Matanya terpejam. Ada yang aneh. Air mata wanita itu jatuh membasahi sudut matanya.
"Sayang," panggil Arion lembut. Ia pun duduk di samping sang istri. Ia mengusap pipi sang istri yang basah oleh air mata itu.
Perlahan ia menepuk pundaknya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya lembut.
"Nawal! Nawal!" pekik Fiya lagi. Ia tersentak dan tiba-tiba duduk.
Arion kebingungan dengan istrinya itu. Begitu banyak pertanyaan yang coba ia simpan di benaknya.
"Kak," panggilnya sambil terisak.
"Iya, sayang," sahut Arion lembut.
"Nawal, kak. Nawal Kecelakaan," ucapnya sambil menangis tergugu. "Dia .... dia....."
Bahunya bergetar hebat. Arion tak kuasa melihat istrinya itu. Rasanya hatinya ikut tersayat melihat sang istri menangis seperti itu.
Arion langsung merengkuh Fiya dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia mencoba menenangkan Nawal. Memberi kenyamanan dan kedamaian pada istri kecilnya itu. Istri cerewetnya itu. Istri cerianya itu.
Arion merasa terluka dengan kondisi Fiya sekarang. Biasanya suara Fiya dan Nawal lah yang membawa keributan di rumah ini. Keributan yang menjadi sebuah kenangan yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh Arion. Begitupun dengan Fiya.
"Coba kamu tenang dulu. Tarik napas pelan lalu keluarkan," titah Arion dengan sabar. Dan tentunya dengan kelembutannya.
Setelah beberapa saat, ia mengurai pelukannya dari sang istri. Ia usap kembali pipi sang istri yang kembali basah, bercampur dengan peluh.
"Anak kita baik-baik saja, sayang. Mungkin dia sedang siap-siap sekarang."
"Maksud kakak?" tanya Fiya. Ia mengerutkan keningnya.
"Iya. Nawal baik-baik saja. Dia tidak kecelakaan. Kamu mimpi ya?"
"Aku mimpi?" Fiya malah bertanya. Ia belum sadar dirinya bermimpi atau kejadian di mimpi itu memang nyata.
__ADS_1
"Iya, sayang. Sepertinya kamu mimpi."
"Jadi, aku nggak kecelakaan? Mama juga baik-baik aja? Nawal juga baik? Dan soal berita Viral Nawal itu nggak ada?" Pertanyaan Fiya beruntun. Sampai Arion tak tau menjawab apa.
"Kok banyak banget tanyanya?" ucap Arion heran.
"Memang kamu mimpi itu semua?" tanya Arion lagi. Ia benar-benar ingin tau apa yang terjadi dengan istrinya itu. Rasa penasarannya pun memuncak mendengar runtunnya mimpi yang baru saja Fiya sebutkan.
Fiya terdiam. Ia berpikir sejenak. Mencoba mencerna tentang semuanya.
"Jadi, aku hanya mimpi? Sebanyak ini?" batinnya bertanya.
"Sayang..." panggil Arion.
"Iya, kak." Fiya menyahutnya langsung. Takut sang suami semakin khawatir.
"Aku mimpi, kak. Aku mimpi mama sakit, Nawal kecelakaan dan aku kecelakaan. Dan yang buat semua kecelakaan itu karena aku dan Nawal sudah mendengar berita yang lagi viral tentang Nawal yang bukan anak kandung. Aku kepikiran dan Nawal kepikiran dan kami pun kecelakaan."
Fiya menjelaskan panjang kali lebar.
"Mama juga sakit mikirin aku karena kecelakaan dan kakiku harus diamputasi. Aku lumpuh kak dalam mimpi itu. Kaki aku membusuk, kak," terang Fiya. Ia membayangkan semua itu merasa ngeri sendiri.
"Dan .... Nawal juga kecelakaan. Parah banget. Ngeri banget mimpinya kak," timpalnya lagi.
"Segitunya mimpinya. Memangnya kamu nggak berdoa sebelum tidur," goda sang suami. Ia ingin mencairkan suasana. Merilekskan perasaan Fiya yang tadinya tegang.
"Bercanda, sayang. Jangan cemberut gitu dong. Tar manisnya ilang," ucap Arion lagi. Semakin menggoda istrinya. Membuat rona di pipi Fiya semakin memerah bagai buah tomat yang sudah matang, siap panen dan dijual.
"Dasar tukang gombel," sahut Fiya. Ia mencubit pelan pinggang sang suami.
"Gombal, sayang."
"Sama aja. Beda huruf doang."
"Iyalah, wanita memang selalu benar. Tak pernah terima bila diprotes walau seuprit pun.."
"Iya dong. Lagian aku kan nggak ada melakukan kesalahan. Aku kan anak baik."
"Iya deh anak baik," pungkas Arion. Ia menoel hidung minimalis Fiya dengan pelan.
Ceklek
"Mama nggak kerja?"
__ADS_1
Suara anak kecil yang baru saja tak mereka dengarkan karena asyiknya berguyon di pagi yang cerah ini.
Fiya merasa bersyukur, bahwa semua kejadian buruk yang terjadi akhir-akhir ini, ternyata hanyalah mimpi dalam tidur panjangnya. Ia bahagia orang - orang yang ia sayangi, ada di dekatnya dan dalam keadaan baik-baik saja.
Terutama Nawal. Tetapi ia belum merasa puas sebelum ia melihat sendiri wujud putri mungilnya itu.
"Kak, jam berapa?"
"Jam berapa ya... Hmmm....."
Arion berpura-pura menyusuri ruangan mencari dimana letak jam. Padahal ia sudah hapal betul letak jam itu.
"Jam tujuh. Mama nggak kerja?"
Terdengar suara bocah kecil yang sedari tadi Fiya ingin lihat secara langsung.
Sontak Fiya maupun Arion serentak menoleh ke sumber suara.
"Awa," pekik sang mama. Tetapi Arion hanya tersenyum menatap sang putri yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Syukurlah, putriku baik-baik saja," ucap Fiya dalam hati. Pemandangan indah di depan matanya membuatnya terharu. Semakin meyakinkan dirinya bahwa segala keburukan yang terjadi barusan itu hanyalah mimpi buruk belaka.
Ditatapnya lekat Nawal, di pandangnya dari atas hingga bawah. Inci demi inci ia tatap tubuh itu dengan seksama. Tak ada satupun yang kurang. Tak ada satupun yang janggal.
Fiya pun merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan kepada Nawal untuk memeluknya.
"Ih, lebay," seringai Nawal dalam batinnya.
"Mama kenapa tuh? Pagi-pagi minta peluk?" tanyanya dala hati, bingung.
Seumur hidupnya, tak pernah tertulis dalam sejarah Fiya ingin memeluknya di pagi hari begini.
"Mama senang kamu baik-baik saja, sayang," batin Fiya. Tetapi Nawal tak bisa mendengarnya. Entah kenapa, Nawal tak bisa mendengar suara hati sang mama. Ia juga bingung. Bahkan ia bertanya-tanya, dari mana ia dapat kemampuan membaca pikiran orang lain. Tetapi sang mama tidak bisa. Suatu keanehan yang belum dapat ia pecahkan hingga kini.
"No peluk peluk," ujar Nawal cepat. "Nanti bajuku berantakan," timpalnya lagi. Ia mundur beberapa langkah, menghindari sang mama maupun sang papa.
"Awa mau ke sekolah. Mama dan papa lanjut aja terus. Ketawa ketiwinya. Biarin aja mama telat," cibir Nawal.
"Kamu senang mama telat?" ujar Fiya protes.
"Siapa suruh mama main manja-manja sama papa. Kayak anak kecil aja," ledek Nawal lagi.
Walau ia mencibir, protes akan interaksi antara papa dan mamanya, tapi jujur ia senang. Tak pernah sekalipun ia melihat sang mama dan papanya bertengkar. Dan ia senang itu. Ia berharap kehadirannya memberikan sebuah hadiah yang tak kan pernah mereka lupakan selaku orang yang sudah berjasa kepadanya. Yang sudah membesarkan dia walau bukan anak kandung mereka.
__ADS_1
Nawal pun meninggalkan mama dan papanya itu setelah menyalam mereka secara bergantian.
Nadim telah menunggunya di ujung jalan. Dan Nawal tak ingin sang mama ataupun papanya tau itu. Biarlah nanti mereka tau dengan sendirinya.