
"Namanya ... siapa ya?" tanyanya kemudian. Ia berusaha mengingat-ingat nama anak yang dimaksud dalam berita yang ia tonton tadi pagi.
"Duh, lupa lagi," keluhnya.
"Siapa namanya, Bu?" Ia mencoba minta bantuan dari Nadia.
"Namanya Nawal Kahla. Dia sekolah disini juga. Kayaknya sekelas deh dengan anak - anak kita," terang Nadia pada yang lain.
Mereka tak menyadari bahwa di belakang mereka ada yang mendengar pembicaraan mereka saat ini.
"Ini nggak bisa dibiarkan. Mana boleh anak di luar nikah sekolah di sini. Sebaiknya kita laporin ke kepala sekolah. Kita minta ketegasan dari beliau," ucap ibu Sarah berapi-api.
"Eh, ibu-ibu. Nggak boleh begitu." Tiba-tiba seorang ibu mencoba mengingatkan mereka. Mencegah mereka.
"Anak itu kan tidak tau apa-apa. Yang salah kan ibu dan ayahnya. Kita nggak boleh main hakim sendiri," imbuhnya kemudian dengan nada lembut. Ia sadar, tidak semua manusia mau menerima apa yang kita ucapkan walau itu baik. Belum tentu baik untuk mereka juga.
Ibu-ibu yang lain, ada yang mengangguk-anggukkan kepalanya dan ada yang mencibir pula.
__ADS_1
Sementara ibu Nadia dan ibu Sarah jengkel dengan ucapan ibu Dea tadi, yang mencoba mencegah mereka. Menurut mereka ucapan Dea itu panjang lebar dan tidak masuk akal. Mereka berdua merasa, sesuatu yang salah tidak boleh dipertahankan.
Dan mereka sudah menjudge kalau kesalahan orang tua dari Nawal adalah kesalahan anaknya juga.
"Eh, Dea jangan asal ngomong kamu. Sudah jelas anaknya juga salah," bantah Sarah.
"Iya, betul," sahut ibu Nadia membenarkan ucapan ibu Sarah.
Ibu yang lain malah ada yang setuju dengan ucapan dari ibu Sarah tadi. Mereka mendukung sekali harus mengusir Nawal dari sekolah ini.
"Tapi, ibu-ibu, Nawal itu nggak ngerti apa-apa soal status dia. Dia masih kecil. Apa kalian tega sama anak kecil seperti dia? Aku tau kelakuan orang tuanya salah, tapi tetap itu bukan salah anaknya "
Sementara wanita yang mendengar semua obrolan mereka sudah sangat panik. Ia malah baru tau berita itu setelah mendengar obrolan para ibu-ibu itu. Menyesal ia tadi pagi karena tak menonton berita yang sedang viral itu sampai selesai.
Seandainya ia tonton, maka ia tak se panik itu. Maka ia tak se terkejut ini.
Tiba-tiba Fiya teringat dengan Nawal.
__ADS_1
"Apakah Nawal mendengar kabar ini?" batinnya bertanya-tanya.
Berharap penuh ia dalam hati agar berita ini tak sampai pada telinganya. Ia tak mau mental anaknya itu jadi drop. Dan yang paling utama, ia tak mau Nawal meninggalkannya karena telah mengetahui bahwa dia bukan anak kandung.
Perlahan, Fiya membelokkan motornya. Berniat ia ingin meninggalkan tempat itu. Tempat yang membuatnya mengingat luka yang sudah tertutup rapat, kini menganga kembali.
Kembali, kenangan pahit itu menghantui pikirannya. Kenangan saat mamanya menangis kelakukan Ela, yang hamil tanpa adanya suami. Yang melahirkan anak tanpa adanya ikatan pernikahan.
Tetapi ternyata, kehadirannya disadari oleh seorang ibu-ibu yang sedang berkumpul itu.
"Eh, eh, ibu-ibu, lihat kesana deh," ucapnya pada temannya. Ia menyenggol lengan teman yang ada di sampingnya.
Sontak merekapun menoleh, menatap ke arah yang ditunjuk ibu itu.
"Ibu bukannya....." ucap Nadia.
"Ibunya Nawal Kahla," sela Sarah.
__ADS_1
"Iya, itu anaknya anak itu. Anak haram itu," tekan Nadia.