Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 31. Kotak Misterius


__ADS_3

"Sayang... "


Tok tok tok


Wanita itu mengetuk pintu kamar sang putri.


Tok tok tok


"Awal, ada paket boks untukmu, sayang," ujar sang mama lagi. Suaranya keras karena masih belum ada respon dari yang punya kamar.


Ceklek


Gadis mungil itu membuka pintu, tampaklah kepalanya. Hanya kepalanya saja.


"Mama masuk boleh?"


"Nggak."


"Lho, kenapa?"


"Awa sedang pakai baju "


"Iya kan nggak apa-apa, sayang. Mama kan pengen liat isi kamar kamu. Mama pengen rapiin. Siapa tau ada yang belum rapi dan kamu butuh bantuan mama."


"Tidak usah. Mana paketnya?" ujarnya to the point.


"Memangnya kenapa kalau mama masuk kamar putri mama sendiri? Nggak boleh?" Fiya masuk berusaha masuk ke dalam kamar putrinya itu.


"Malu, ma. Awa sedang pakai baju," ucap Nawal.


"Lho, kita kan sama-sama perempuan."


"Biarpun," sahutnya datar. "Mana paket Awa, ma?"

__ADS_1


"Tapi, nak." Fiya masih berusaha masuk ke dalam kamar Nawal, tapi pintu ditahan dari dalam oleh Nawal.


"Mana paketnya?" ucap Nawal kasar.


Fiya merasa tercubit oleh sikap putrinya itu. Ia merasa tersinggung.


"Ada apa denganku? Kenapa akhir-akhir ini aku mudah sakit hati, mudah tersinggung? Bukankah sudah biasa Awal bersikap seperti itu?" tanya Fiya dalam hati. "Tetapi kenapa sakit sekali rasanya," imbuhnya lagi.


Tanpa Fiya sadari, air matanya sudah menetes. Buru-buru ia menghapus air mata yang jatuh itu sebelum awal melihatnya. Tetapi sayang, sedari tadi Nawal telah melihatnya. Bahkan ia bisa mendengar jeritan hati sang mama.


"Awal, boleh mama minta satu hal?" ucapnya dengan suara rendah dan lembut.


"Apa, ma?"


"Bisa dikurangi sikap ketidaksopanan kamu? Sedikit saja, please."


Nawal terdiam.


"Jadi mama nangis karena aku nakal?" pekik Nawal di hati.


"Ingat mama nggak pernah ajarin Awal nggak sopan sama orang tua kan?" ucap Fiya dengan isak tangisnya.


Nawal langsung memeluk mamanya itu. Ia masih memakai handuk yang ia lilitkan di tubuhnya.


"Maafin Awa, ma. Awa nggak sengaja. Ayok masuk ke kamar Awa," ajaknya kepada sang mama. Ia melepas dekapannya lalu menarik lembut tangan sang mama.


"Mama duduk sini, Awa pakai baju dulu. Ingat, mama nggak boleh ngintip," ujarnya dengan nada manja. Membuat dirinya semakin menggemaskan di mata Fiya.


Segera ia menuju lemari pakaiannya dan mengambil bajunya.


"Jangan ngintip ya, mama liat kesana," ujarnya lagi. Ia ingin memastikan kalau sang mama tidak mengintip dirinya yang sedang memakai baju.


"Imut banget kamu, nak. Semakin nggak sanggup mama berpisah denganmu," batin Fiya. "Semoga kita seperti ini terus ya, nak. Bersama selalu tanpa ada yang memisahkan." Itu adalah harapan dan doa terbesar Fiya yang ia mohonkan kepada sang maha punya kehidupan.

__ADS_1


"Jangan pernah tinggalkan mama ya, nak. Mama nggak bisa kalau kamu pergi. Walau awalnya mama sulit menerima kamu dalam hidup mama. Tapi .... dengan adanya kamu, hidup mama sudah bahagia. Apalagi nanti jika yang kuasa berkehendak, akan adanya baby mungil dalam rahim mama. Semakin bahagia mama, nak," batin Fiya lagi.


Nawal mendengar semua ucapan batin sang mama.


"Aku harus mencari tau apa penyebab aku dibuang mama. Harus," ucap tekad Nawal di hatinya.


"Oh ya, ma. Tadi mama bawa paket apa untuk Nawal?" tanya Nawal. Ia ingin mengalihkan pikiran sang mama dari kepiluannya.


"Mama juga nggak tau, nak. Kita buka, yok!" usul sang mama.


Tap tap tap


"Dicariin ternyata disini." Suara bariton tiba-tiba memecahkan suasana kamar Nawal.


"Kak," ujar Fiya.


"Lagi apa sih? Kotak apa ini?" tanya Arion. Ia melirik kotak yang ada di pangkuan Fiya lamat-lamat.


"Ada apa kakak mencariku?" tanya Fiya. Ia ingin tau mengapa suaminya itu mencarinya bahkan ke kamar sang putri.


"Itu.... ada yang mau kakak bilang."


"Apa itu, kak?" Fiya mengerenyitkan keningnya.


"Kita ke kamar aja," bisik Arion.


Segera Fiya berdiri dan meletakkan boks tadi diatas ranjang Nawal.


"Mama keluar sebentar ya, nak. Nanti kita ngobrol lagi," pamit sang mama. Yang dibalas Nawal dengan senyuman.


Usai kepergian mama dan papanya, Nawal langsung menghampiri kotak itu dan membukanya.


Setelah kotak terbuka, ia mengernyitkan dahi. Karena di sana terdapat sebuah kertas warna pink bertuliskan "AKU TAU KAMU SIAPA SEBENARNYA."

__ADS_1


"Siapa yang mengirim paket ini?" batin Nawal.


Dari awal ia sudah curiga dengan datangnya paket itu. Ia merasa bahwa ia dengan Nadim tak ada janjian tentang paket-paketan. Nawal memeriksa setiap sisi kotak itu, tapi tak menemukan siapa pengirim dari kotak misterius itu.


__ADS_2