Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 48. Sakit dan Perih


__ADS_3

Brakk


Terdengar bunyi serpihan kaca di dalam dapur minimalis di pagi hari itu. Bunyi itu berasal dari tangan seorang wanita paruh baya yang baru selesai membereskan piring dan gelas yang sedang ia tata ulang.


Menjadi ibu rumah tangga sudah menjadi rutinitas ibu Basagita selama puluhan tahun ini. Hari ini, ia tak bisa masuk kerja ke sekolah karena akhir-akhir ini ja merasa sering dilanda sakit kepala.


Sudah tiga hari ia istirahat di rumah. Dan pagi ini sudah mendingan. Karena bosan hanya berbaring terus, semakin dibaringkan semakin lelah, iapun mencari kesibukan. Mencoba menata ulang letak piring dan gelas bahkan mencucinya ulang yang di dalam lemari piring.


Tetapi tiba-tiba, sebuah gelas terjatuh dari tangannya. Ia tersentak dan menyebutkan nama ketiga anaknya. Pikirannya langsung melayang pada Ela, Fiya dan Elfan.


Ibu Basagita membereskan serpihan kaca yang berserakan di lantai. Mungkin, akibat sakit katarak mata yang ia terima, membuat pandangannya mengabur atau mungkin, bisa jadi karena kurang fokus, pikirannya melayang kemana-mana, sehingga secercah serpihan mengenai jari telunjuk ibu Basagita. Ia meringis menahan sakit dan perih.


Seketika darah segar mengalir deras dari jari telunjuk ibu Basagita. Ia masih berusaha menahan sakit itu dengan meringis pelan.


Lagi lagi, hatinya, pikirannya kini tertuju kepada ketiga anaknya. Entah apa yang terjadi kepada mereka sekarang. Begitulah tanya dalam hatinya.


Tiba-tiba, ia mendengar dering ponselnya berbunyi. Ia mencoba memfokuskan pikiran sambil mencari arah dimana letak ponselnya kini berada. Ia menghampiri meja makan. Seingatnya ia letakkan benda pipih itu disana tadi pagi sehabis sarapan.


Tetapi tak ada di sana benda persegi panjang itu. Sejenak ibu Basagita terpaku. Mencoba mengingat kembali dimana ia letakkan ponsel itu. Padahal masih berbunyi nyaring. Seharusnya ia tinggal menuju ke arah bunyi suara itu.


Namun karena pikiran tidak fokus, ditambah menahan rasa sakit dan perih, ia pun jadi tidak konsentrasi. Sementara ponsel itu tetap berdering.


Bukan. Bukannya ibu Basagita tidak diajak oleh Fiya untuk tinggal bersama mereka tetapi, ibu Basagita tidak mau. Ia lebih memilih sendirian, berteman sepi tanpa adanya cucu atau anak di dekatnya.


Elfan yang kini sudah tinggal bersama sang kakak dan kakak ipar juga sudah semakin berubah ke arah yang lebih baik. Bahkan sering ia menunjukkan sikap lebih dewasa di depan Fiya ataupun Arion.


Didikan yang keras dari Arion, cerewetnya Fiya dan banyak pelajaran hidup lainnya yang membuat Elfan berubah. Bahkan belum hitungan tahun dia tinggal bersama sang kakak.

__ADS_1


Awalnya Fiya tak setuju Elfan ikut bersamanya. Tetapi sang mama tetap dengan pendiriannya. Dengan harapan bisa merubah sang putra dengan jauhnya ia dari sang mama.


Dengan berjalan sempoyongan, tangan memegang jari yang tertutupi kapas, ibu Basagita akhirnya menyadari keberadaan ponsel itu di mana. Ya, tadi ia tak meletakkan ponselnya di meja makan. Tetapi di meja ruang tamu, di dekat pot bunga.


Ia mengambil ponsel yang sudah berhenti berdering itu. Dilihatnya banyak panggilan dari nomor gak di kenal. Tak ada di dalam kontak ponselnya nomor itu. Ia pun mengernyitkan dahinya.


"Nomor siapa ini?" batinnya bertanya. Ada lima panggilan tak terjawab dari nomor yang sama.


Ibu Basagita bukanlah orang yang suka kepo terhadap sesuatu. Ia pun mengabaikan panggilan itu, dan tak mencoba untuk mencari tahu atau menanyakan perihal tujuan menelpon ke ponselnya. Ia membawa ponselnya itu ke dalam kamar lalu meletakkannya di atas ranjang.


Mama Basagita kini kembali sibuk dengan tangannya yang masih ditutupi kapas. Ia pun membuang kapas bekas itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah.


Ibu Basagita mengoleskan Betadine cair di luka jari telunjuknya tadi.


Sedang serius membalut lukanya dengan perban, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring kembali.


"Hallo," sapanya akhirnya. Timbul rasa penasarannya pada penelpon misterius itu.


"Halo selamat pagi!"


"Pagi Dengan siapa ya?"


"Apa benar ini dengan ibu Basagita?"


"Ya, saya sendiri. Ini dengan siapa ya?"


"Saya perawat dari rumah sakit healthcare. Mengabarkan bahwa...."

__ADS_1


Mendengar ucapan dari sebrang, jantung ibu Basagita berpacu dengan sangat cepat. Entah apa saja yang sudah berkecamuk dalam benaknya. Ia semakin bingung. Mengaitkan antara setiap kejadian yang terjadi yang ia alami satu hari ini.


"Ka-kabar apa ya, Sus?" tanyanya gugup.


"Apa benar kalau gadis yang bernama Kaifiya adalah putri ibu?" tanya perawat dengan hati-hati.


"I-iya, benar," jawabnya pasti walau diiringi rasa gugup dan kwatir.


"Ada apa dengan putri saya, suster?" tanya ibu Basagita pada akhirnya. Ia tak sabar mendengarkan penjelasan sang perawat itu yang menurutnya terlalu lama mengulur waktu.


"Pasien yang bernama .."


"Apa? Pasien? Putri saya pasien? Nggak mungkin," sela ibu Basagita. Ia segera menyela ucapan perawat tersebut.


"Tenang, Bu. Tenang. Dengarkan dulu penjelasan saya," ucap perawat. ia masih berusaha sabar.


"Bagaimana saya bisa tenang kalau putri saya masuk rumah sakit?" cecar ibu Basagita.


"Kami menelpon untuk memberitahukan bahwa..."


"Cepatlah Suster! Jangan setengah - setengah ceritanya. Gimana sih?" Masih cerca ibu Basagita.


"Putri ibu, Kaifiya masuk rumah sakit. Dan sekarang sedang dirawat secara intensif akibat...."


Belum selesai perawat itu menjelaskan, ibu Basagita Sidan terjatuh ke lantai.


Bruk

__ADS_1


Dan.... Perawat itu mendengar dengan jelas sesuatu yang jatuh itu. Tapi ia tak tau itu apa. Si perawat mencoba memanggil-manggil nama ibu Basagita. Tetapi tetap tidak ada sahutan.


__ADS_2