
"Permisi semua. Aku mau ke kamar. Agak sakit kepala sedikit," ucap Ela dengan lirih.
Tergesa-gesa ia berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Ia menunjukkan kepalanya. Tetapi tidak ada yang menyadari itu, baik Hanai sekalipun. Mereka masih sibuk dengan Nawal yang baru pulang.
"Mau kemana dia?" batin Nawal. Dialah satu-satunya yang sedari tadi memperhatikan Ela, sambil tersenyum tipis kepada semua orang agar tidak mencurigai pandangannya ke arah mana.
"Tuh kan, benar dia tak peduli aku. Dia tak sayang aku. Mungkin karena itulah, aku diambil oleh mama Fiya. Tega benar sebagai ibu," batin Nawal lagi.
"Aku harus caritau lebih detail lagi. Siapa sebenarnya ayah kandungku. Percuma juga aku bertanya kepada semua orang dewasa ini, karena tak seorangpun mau jujur padaku," ucap hatinya lagi.
Entah perasaan apa, Nawal tidak merasa bahwa hanai lah ayahnya. Perasaan itu begitu kuat. Bahkan ia tak merasakan getaran apapun saat bertemu Hanai. Lain halnya saat ia bertemu Ela.
Dulu memang, sewaktu Nawal pernah bertanya alasan Ela kenapa mirip wajah Ela dan wajahnya, sempat membuat Nawal goyah. Memang antara Ela dan Fiya ada kemiripan namun hanya sedikit. Tetapi saat Nawal tidur di Ela waktu itu, dengan cerdasnya ia mengambil sampel rambut Ela yang terjatuh di ranjang.
Ia memasukkan rambut itu ke dalam tisu yang sudah dia bentuk seperti dompet, agar bisa menampung rambut itu. Lalu ia mengirimkannya ke alamat rumah Nadim lewat ojek online. Agar tak ada yang mencurigainya.
Bahkan Ela sekalipun tak menyadari hal itu. Ia sangat lelap tidur ketika itu. Kelihaian Nawal bergerak hingga tak menimbulkan suara apapun, membuatnya lancar untuk menyelidiki yang sebenarnya.
Lalu Nawal meminta tolong kepada Nadim, agar memberikan sampel rambut itu kepada omnya yang kebetulan sebagai dokter di rumah sakit milik daddy-nya Nadim. Ya, Nadimlah yang Nawal telepon waktu itu.
"Awa mau istirahat, boleh?" tanyanya lembut kepada semua orang yang masih berkerumun di sekitarnya.
__ADS_1
"Awa capek tadi kerja kelompok," alibinya lagi.
Semua langsung terdiam. Dan tak bisa berbuat apa-apa mendengar alasan Nawal.
Mereka seperti terhipnotis oleh perkataan lembut Nawal. Seperti biasa, ia akan hangat dan lembut berbicara bila ada keinginan hatinya yang harus di turuti saat itu juga.
"Baiklah, sayang. Tidurlah. Tapi kiss dulu sama mama, tante dan juga nenek," sahut Fiya dengan lembut juga.
"No kiss. Awa sudah besar. Buat apa kiss kiss," sahutnya cepat. Kembali ke ekspresi dingin dan cara bicaranya datar.
"Good night, mam, pap, nenek, tante dan om," selanya cepat. Ia melakukan toss dengan semua orang dewasa itu. Tanpa ada yang di kiss atau hug olehnya.
"Permainan un-faedah," begitu komentarnya sewaktu Fiya pernah memainkan lato-lato di depannya. Kala itu Fiya ingin menunjukkan cara memainkan lato-lato kepada putranya itu.
Bukan maksud Nawal menghina lato-lato. Bukan. Tetapi memang ia tidak suka. Setiap orang berhak kan dengan pilihannya? Begitu pula dengan Nawal, si gadis mungil yang memiliki aura dingin dan datar di balik wajahnya yang cantik itu.
Seketika Fiya langsung ciut kala itu saat Nawala bilang kalau lato-lato adalah permainan un-faedah untuknya. Membuat sakit kepala mendengar suara bisingnya.
Fiya bisa apa? Ia tak bisa memaksa bila memang Nawal tak mau. Ia tak ingin putrinya itu terbeban mental hanya karena terpaksa menuruti keinginan orang tuanya.
Meski Fiya sering bertanya-tanya, sebenarnya putrinya ini se-cerdas apa sih? Se-dewasa apa sih?
__ADS_1
Semua orang ternganga atas jawaban Nawal yang mengatakan kalau dirinya bukan lagi anak kecil. Dan tak perlu kiss kiss. Dia masih lima tahun lho. Dan hal seperti itu wajar sekali diminta oleh ibunya kepada anak dengan usia se-dini itu.
"Baiklah, sayang. Good night. Mimpi indah, ya."
"Hmm," sahut Ela cuek kepada makanya itu.
Gegas Nawal berjalan menuju kamarnya. Masih beberapa langkah, tiba-tiba Arion memanggil namanya.
"Nawal..."
Nawal langsung menghentikan langkahnya.
"Iya, pap," sahutnya masih tanpa menoleh.
"Besok kita pulang. Gegaslah tidur agar esok lebih cepat bangun. Karena kita berangkat pagi," titah Arion.
"Yes yes yes. Akhirnya pulang juga," sorak Nawal dalam hati. Hal inilah yang sangat ia nantikan. Dai sudah rindu dengan semua alat-alat permainannya. Sampai ia tak sadar kalau senyumnya sudah mengembang.
"Baik, pap," jawabnya dengan full senyum.
Fiya sangat tau putrinya itu. Ia tau, ia tak betah lama-lama di luar, keluar dari kamar ternyamannya itu. Yang sering Nawal sebut sebagai istana kerajaan nya.
__ADS_1