Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 43. Kamu Menyembunyikan Sesutu


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut keluarga yang sedang bersiap memulai kegiatan masing-masing. Saat ini mereka sedang makan, menikmati sarapan pagi, nasi goreng spesial hasil karya tangan seorang wanita cantik, ibu rumah tangga yang menjabat sebagai wanita karir juga.


Mereka punya tempat favorit untuk makan. Rumah yang sederhana bukan lah rumah sultan yang lengkap dengan kitchen set. Mereka lebih suka lesehan. Sambil ditemani kopi dan teh manis tersaji di hadapan mereka. Tak lupa pula kerupuk sebagai aksesoris yang tak kan pernah bisa terlupakan.


Entah kenapa pagi ini mereka menikmati sarapan sambil menonton televisi. Dan televisi itu menayangkan yang katanya berita teraktual, viral dan terpercaya.


Keluarga kecil itu pun ikut hanyut menyaksikan berita yang ditayangkan.


"Kasian banget anaknya," ucap Fiya ketika beritanya menayangkan seorang wanita yang rela membuang anaknya demi menjaga nama baiknya. Kaifiya pun ikut terhanyut dalam berita itu.


Sementara Nawal, ia berpikir lain. Ia mengaitkan dirinya dengan berita yang sedang viral itu.


Arion juga ikut dengan seksama menonton tayangan yang disuguhkan itu. Ia juga turut iba dengan korban yaitu bayi yang masih merah itu yang katanya ditinggalkan oleh orang tua kandungnya.


Masih belum ada yang terjadi saat pembawa berita itu menjelaskan tragedi korban ditinggalkan orang tua kandungnya, siapa nama wanita yang tega menelantarkan bayinya.


Sungguh misterius beritanya sehingga membuat orang yang mendengar begitu penasaran alias kepo. Saking seriusnya menonton tayangan yang disuguhkan, Fiya sampai berhenti makan. Ia letakkan sendok nya begitu saja di dalam piring berisi nasi goreng itu.


Sementara di tempat lain, di rumah mama Heera dan papa Ghaffar.

__ADS_1


"Ela, jujur sama mama," titah mama Heera tiba-tiba.


Saat ini tinggal mereka berdua yang ada di rumah. Hanai dan papa Ghaffar sudah pergi bekerja. Baru saja dengan kendaraan masing-masing.


Macetnya jalanan ibukota membuat mereka harus lebih cepat memang jika bepergian. Apalagi untuk bekerja, mereka paling tidak suka terlambat.


"Jujur soal apa, ma?" tanya Ela bingung. Ia sempat menghentikan kegiatan mencuci piringnya saat mendengar titah sang mama. Walau sebenarnya ia juga penasaran apa yang ingin mama mertuanya ingin tau dari dirinya.


"Siapa Nawal sebenarnya?" tanya mama Heera to the point. Ia tak mampu lagi menahan rasa penasarannya yang sudah ia tahan dari kemarin-kemarin. Sejak ia mendengar pembicaraan antara Ela dan dokter Alya. Sehingga ia langsung to the poin tanpa perlu basa-basi lagi.


Deg


"Nawal ya Nawal, ma. Maksud mama gimana sih?" tanyanya berusaha bersikap tenang. Sekuat tenaga ia berusaha menahan jantungnya yang semakin berpacu dengan cepat.


"Mama rasa kamu pura-pura nggak tau. Mama bisa lihat dari matamu, kamu menyembunyikan sesuatu dari mama, dari papa bahkan dari Hanai suami kamu sendiri.


"Menyembunyikan apa, ma? Tak ada yang Ela sembunyikan," sahut Ela. Masih berusaha tenang. Tapi tak bisa ia elakkan tangannya dan kakinya sudah gemetaran. Dan mama Heera melihat itu dengan jelas.


Mama Heera semakin yakin bahwa dugaannya benar. Ia tak salah dengar kemarin. Nawal itu putrinya Ela, tapi tak tau siapa ayahnya. Ia sangatlah yakin kalau itu bukan anak dari Hanai dan Ela. Karena ia percaya, anaknya tak mungkin merusak kesucian seorang gadis. Ia tau betul bagaimana perangai Hanai.

__ADS_1


Pria sejati, setia, dan tak neko-neko.


"Menyembunyikan identitas Nawal yang sebenarnya," ucap mama Heera penuh penekanan.


"Maksud mama gimana sih? Menyembunyikan identitas? Ya, Na-nawal kan anaknya Fiya, ma. Ja-jadi identitasnya yang Nawal anaknya Fiya dan Arion, adik aku."


"Kamu nggak usah ngelak. Mama sudah tau semuanya. Bahwa ternyata kamu sudah pernah ...."


Sengaja mama Heera menggantung ucapannya. Ia bisa melihat ekspresi Ela yang ketakutan. Wajah pucat pasti, tangan dan kaki yang gemetaran.


"Bahwa Nawal itu adalah ..."


"Nawal kenapa, ma?"Tiba-tiba suara bariton muncul diantara percakapan mereka yang bagi Ela itu sangat menegangkan.


Sontak keduanya menoleh ke sumber suara yang mereka berdua tentu sudah sangat mengenalnya.


"Hanai? Kok kamu balik lagi?" tanya sang mama. Ia merasa kecewa dengan kedatangan hanai yang tiba-tiba. Ia merasa rencananya gagal untuk mengetahui Nawal siapa sebenarnya. Anak siapa. Ia belum ada bukti yang cukup untuk memberitahu kepada keluarga, kepada suami dan anaknya.


"Handphone Nai tinggal, ma," sahut Hanai.

__ADS_1


Sementara Ela, merasa lega sekali. Ia merasa terselamatkan dengan datangnya Hanai secara tiba-tiba. Membuat ia semakin banyak berpikir bagaimana menjawab tanya dari sang mama mertua nanti.


__ADS_2