
"Apakah hari ini semua akan terkuak? Lalu bagaimana nasib pernikahanku?" batin Ela risau.
Nawal yang bisa mendengar suara batin tantenya itu hanya bisa tersenyum menyeringai. Tetapi ia merasa tertantang. Rasa penasarannya semakin memuncak.
"Apa hubungan pernikahan tante Ela dengan semua ini," batin Nawal juga.
"Aku harus bisa menjawab semua pertanyaan Awal, kalau nggak bisa hancur aku. Rumah tangga yang sudah kubangun akan kandas. Aku nggak mau suamiku meninggalkan ku karena masalah ini. Aku nggak mau mertua ku sampai tau masalah ini," kata hati Ela panjang lebar.
Tentu semakin penasaran lah hati Nawal. Begitu banyak tanya yang ada di dalam benaknya. Dengan kecerdasan yang ia punya ia mencoba mengaitkan semua ucapan batin Ela dengan dirinya.
"Apa jangan-jangan.. *
"Awal, kamu mau tanya apa, tanyalah!" titah tante Ela. Membuyarkan lamunan Nawal yang sedang terbang, berharap bisa segera pulang demi bisa bertemu dengan robot dan laptopnya.
"Kenapa Awa sangat mirip sama tante?" tanya Nawal to the point.
Ela terdiam langsung saat mendengar Nawal bertanya seperti itu.
"Jadi ini yang membuat dia ngambek," batin Ela.
Lagi-lagi Nawal mendengar kata batin Ela.
"Hmm," gumam Nawal seraya tersenyum menyeringai.
"Ya miriplah. Tante kan kakaknya mama Fiya. Otomatis putra mama Fiya pun pasti ada mirip-miripnya dong sama tante," sahut Ela cepat. Ia tak ingin Nawal bertanya lebih panjang lagi. Ela berharap alibi yang ia sampaikan bisa mengelabui anak kecil itu, yang menurutnya masih lugu.
"Dasar, orang dewasa pintar banget bohongnya. Untung saja aku masih kecil," ucap Nawal dalam batin.
__ADS_1
"Hmm," gumam Awal pada akhirnya. Ia capek dijadikan alat bermain oleh orang dewasa itu.
Nawal semakin bertekad akan mencari kebenarannya.
Bukannya Nawal tak terima siapa ayah dan ibunya, bukan. Tapi ia hanya ingin tau bagaimana rasanya dirawat dan dibesarkan oleh orang tua sendiri. Yang ia tau, sebagai orang tua kandung, seharusnya mereka yang bertugas merawat dia mulai dari dalam kandungan sampai ia telah bisa memilih menentukan yang terbaik untuknya.
Nawal ingin tau alasan mengapa orang tuanya tak mau tinggal bersamanya. Mengapa orang tuanya tak merawatnya. Apakah karena dia anak yang tak diinginkan atau anak haram? Atau memang dia benar anak dari mama Fiya dan papa Arion.
***
"Mam, boleh ya malam ini Awa tidur bareng tante Ela dan om Hanai?" tanya bocah berusia lima tahun itu dengan gaya bocahnya.
Fiya yang mendengar keinginan Nawal tentu bertanya-tanya. Ada apa? Kenapa tiba-tiba Nawal ingin tidur dengan Ela. Apakah Ela telah menceritakan semuanya? Ia pun berpikir sejenak.
"Boleh ya, mam," pinta Nawal lagi.
"Memangnya nggak boleh?"
"Bukannya ga boleh tapi...." Fiya masih mencari alasan yang tepat.
Di dunia ini, masih hanya Fiyalah yang paham jika Nawal itu adalah seorang bocah cerdas. Yang akan tau jika kita menjawab asal-asalan. Yang akan kritis jika bertanya. Meski satu pertanyaan, tapi bisa beranak cucu meski dalam aura dinginnya.
Dan Fiya, orang yang tak bisa menolak semua tanya maupun permintaan Awal. Memang permintaan naw tak pernah yang aneh-aneh. Tetapi sering nggak kuat Fiya karena harganya.
"Tapi apa, ma?" tanya Nawal ingin tau jawaban sang mama.
"Kamu kan sudah besar. Kan sudah. Isa tidur sendiri. Kan biasanya memang begitu. Atau kalau memang ingin ditemani tidur, kenapa nggak tidur bareng mama atau papa saja?" Fiya masih mencoba menawarkan.
__ADS_1
"Kan udah pernah dulu, ma waktu Awa masih bayi."
"Darimana kamu tau kamu pernah tidur bareng mama dan papa padahal kamu masih bayi waktu itu?" tanya Fiya memancing jawaban apa yang akan diberikan Nawal.
"Nggak dari mana-mana. Memang begitu kan biasanya?" Fiya malah dicecar Awal dengan pertanyaan menohok.
"Siapa bilang? Nggak ah. Kamu sedari bayi sudah tidur sendirian. Tanpa mama maupun papa," terang Fiya. Ia ingin melihat reaksi Nawal.
"Jadi?" tanya Nawal. Ia malah menjawab pertanyaan Fiya dengan pertanyaan lagi.
"Dulu kamu itu...."
"Sedang bahas apa sih?" seru suara bariton memecah keseriusan mereka.
"Pap," panggil Nawal.
"Hmmm," sahut Arion dengan gumaman.
"Malam ini Awa boleh ya tidur bareng sama tante Ela?"
Seketika Arion kaget dengan tanya Nawal. Keningnya sampai berkerut. Sama terkejutnya dengan Fiya tadi.
Tetapi seorang Arion tidak akan bisa menolak permintaan Nawal. Kalau "tidak" kata Fiya dulu, maka bisa "ia" bagi Arion.
"Boleh ya, pap," punya Nawal. Ia memelas. Tentunya membuat Arion tak kuasa.
Tetapi Fiya seperti mencurigai sesuatu. Entah apa dia pun tak tau. Tapi dia merasa ada yang aneh dengan Nawal, putranya itu.
__ADS_1