
Selain pribadi yang dingin, Nawal juga bukan pribadi yang suka menceritakan segala sesuatu kepada orang lain. Walau sebenarnya Nadim sangatlah penasaran tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia menganggap telah membalas budi kepada Nawal dengan cara membantunya membawa sampel rambut kepada pamannya yang kebetulan berprofesi sebagai dokter.
Namun entah sampel rambut siapa itu, Nadim tidaklah tau. Makanya ia penasaran hingga menanyakannya pada Nawal, tapi sayang rasa penasarannya tak terjawab.
"Sekarang tugasku semakin banyak. Walau aku sudah ada kepastian, tetapi akan semakin banyak pekerjaan. Dasar orang dewasa, sukanya membuat yang muda banyak kerepotan," gerutu Nawal dalam hati.
"Coba saja aku anak kandung mama Fiya, aku nggak akan susah cari info sana sini," ucapnya lagi, tetapi dalam hati hingga Nadim tak tau.
"Pergi, yok," usul Nawal.
"Kemana?" tanya Nadim.
"Pergi Main," sahut Nawal singkat.
"Ayok. Siapa takut," sahut Nadim. Ia langsung mengedipkan matanya pada asistennya. Lalu asistennya mengirimkan pesan kepada sopir pribadi Nadim agar menyiapkan mobil.
"Tapi tumben ajak main disaat libur kayak gini? Biasanya kamu anak mami, Wa," kelakar Nadim. "Anak mami kan harus di rumah," sambungnya lagi. Ia tersenyum mengejek Nawal.
"Kepo, kau," cetus Nawal.
"Yok ah," ajak Nawal segera.
"Tungguin napa. Buru amat? Kayak dikejar nenek lampir aja."
"Makanya... jangan lelet," timpal Nawal. "Laki-laki kok lelet, buruan!"
"Lha, kalau kamu yang duluan, terus kamu naik apa? Sopir aku kan nggak akan bukain pintu tanpa perintah ku. Dan kamu nggak bisa jalan deh."
"GL."
"Apaan tuh GL?"
"Goyang Lutut," ujar Nawal tetapi dengan muka datar dan dinginnya.
Seketika Nadim tertawa dengan kelakar Nawal. Tetapi yang buat Nadim semakin ngakak adalah muka datar si Nawal. Sampai sakit perut Nadim gara-gara terlalu ngakak terbahak.
__ADS_1
****
"Kira-kira kemana ya Nawal perginya kak?" tanya Fiya kepada suaminya, Arion.
"Entahlah, Fi. Kakak cemas nih. Anak sekecil Nawal sudah berkeliaran sekarang. Kakak malah takut dengan penculikan yang sedang marak sekarang. Kalau dijual semua organ tubuhnya bisa kaya si penculik."
"Huss, kakak nggak boleh ngomong gitu."
"Ya kan memang sedang viral itu, sayang."
"Iya, kak. Fi tau, tapi seharusnya kakak doakan si Nawal supaya baik-baik saja. Omongan itu doa lho "
"Iya, ya. Semoga Nawal baik-baik di luaran sana. Dan cepat kembali."
"Iya, kak. Semoga "
Semua keluarga sedang khawatir dengan Nawal. Mereka tak tau sedang apa Nawal sekarang dengan teman bocahnya itu.
Ya, mereka sekarang sedang berada di markas. Mereka mempunyai markas yang dibangun oleh keluarga Nadim. Di dalam markas dijaga ketat oleh para pengawal yang handal dalam teknik beladiri dan juga pembunuh bayaran.
Saat ini, Nawal dan Nadim sedang belajar membidik dengan menggunakan anak panah. Mereka berdua di latih oleh guru besar yang tentunya yang sudah dipersiapkan oleh keluarga Nadim.
Lagi-lagi, Daddy Nadim tertarik dengan Nawal. Beliau adalah seorang Casanova yang berbaik hati yang mau membayar uang sekolah Nawal tanpa tau mama Fiya dan papa Arion.
Daddy Nadim meminta kepada kepala sekolah dan guru Nawal agar merahasiakan semuanya dari keluarga Nawal. Hanya Nawal seorang yang tau.
Ditawari bantuan biaya sekolah, siapa yang tidak mau. Begitu juga dengan Nawal. Impiannya ingin menjadi orang yang sukses, membahagiakan mama Fiya dan papa Arion sudah terbesit dalam cita-citanya sewaktu ia berumur dua tahun.
Apalagi sekarang, impian itu semakin menyala. Saat ia tau bahwa dirinya bukanlah anak kandung mama Fiya dan papa Arion, tetapi meski begitu mereka dengan rela merawat dan membesarkannya dengan tulus. Bahkan ia bisa merasakan kasih sayang dan cinta tulus dari mereka.
Meskipun Nawal adalah seorang perempuan, masih kecil pula, ia bermimpi, ia berharap, dengan bantuan biaya sekolah dari daddy Nadim, bisa membuatnya membangun sebuah perusahaan atas nama papa Arion.
Sudah cukup Nawal melihat sang papa bekerja di perusahaan orang. Disuruh-suruh sana sini, melakukan ini dan itu. Dibentak bila salah, sering terlambat mendapatkan gaji. Sudah cukup.
Nawal tau bagaimana nasib para karyawan yang bekerja di bawah pemerintahan bos sok killer. Dia tak ingin papanya dibentak-bentak. Tak sia-sia ia sering membaca artikel-artikel, buku-buku dan banyak lagi ilmu yang ia dapat yang tidak ia peroleh di sekolah.
__ADS_1
Nawal bukanlah anak yang hobinya main boneka, main masak-masakan, main lato-lato atau permainan lainnya. Bukan pula anak yang suka menonton film kartun dan lainnya.
Seorang Nawal lebih suka menghabiskan waktu membaca, memainkan gadget atau laptopnya. Semua hal ia pelajari. Dengan kecerdasan yang ia punya, dengan mudah ia bisa mengingat semua yang ia baca, memahami semua apa yang ia baca. Bahkan dengan mudah ia bisa menghubungkan sesuatu dari masa ke masa.
"Pulang yok. Udah kelamaan aku di luar," ucap Nawal.
"Cieee, anak mami," goda Nadim.
"Ya udah. Kita pulang. Nggak usah manyun gitu lah. Kan cantiknya hilang," goda Nadim lagi.
"Cihh." Nawal hanya mendesis dan mencibir.
Digoda oleh Nadim sudah hal biasa baginya. Karena hanya dialah teman satu-satunya yang paling dekat. Dan hanya Nadim lah satu-satunya yang betah dan tahan lama-lama berteman dengannya. Bahkan sudah kenal baik buruknya Nawal.
****
"Udah pulang, nak?" tanya nenek Basagita pada Nawal yang berjalan melewati selasar rumah itu.
"Ya, nek," jawab Nawal singkat. Ia hanya tersenyum tipis kepada semua orang yang sudah sangat khawatir menanti kedatangannya.
"Nawal, kamu kemana saja, sayang?" Wanita itu menatap lamat-lamat Nawal dari atas sampai bawah. "Ada yang luka? Ada yang sakit? Apa kamu baik-baik saja?" cecar Fiya beruntun.
Hati Nawal merasa tercubit. Sebegitu perhatiannya mama Fiya padanya. Bahkan ia begitu khawatir saat Nawal tak ada dalam jangkauan penglihatannya. Ya, Nawal bisa merasakan itu.
Lalu bagaimana dengan Ela, ibu kandungnya sendiri? Kenapa diam saja? Terbesit tanya dalam benak Nawal, apakah tante Elanya itu tak sayang kepadanya. Kenapa dia hanya bungkam saja.
"Iya, sayang. Kamu dari mana. Papa takut sekali kehilanganmu," timpal Arion. Suami dan istri itu langsung gegas mendekati Nawal.
"Papa takut terjadi apa-apa sama kamu, nak," imbuhnya. Ia memeluk Nawal dengan sayang seraya mengelus rambutnya yang panjang diikat cepol itu.
Semakin tersentuh sudah hati Nawal dengan ulah mereka berdua, yang kini berstatus sebagai mama dan papanya.
Nawal beralih lagi kepada Ela. Masih dengan ekspresi yang sama tadi tantenya itu. Entah apa isi hati Ela sekarang, Nawal tak tau. Karena memang Ela tak berbicara dalam batinnya.
Siapa yang tau isi hati Ela? Tak ada. Semuanya sibuk dengan Nawal yang baru saja tiba di rumah. Mereka semua sangat mengkhawatirkannya. Jadi fokus mereka hanya kepada Nawal. Tidak ada yang menyadari bagaimana eksepsi Ela sekarang.
__ADS_1
Mungkinkah dia tidak mengkhawatirkan anak yang dia kandung dalam rahimnya sendiri?