
Rasa pegal yang teramat sangat karena kelamaan berdiri tak menjadi alasan untuk Nawal untuk tak memikirkan sang mama. Bapak guru yang baik hati itu memberi tambahan hukuman pada Nawal karena tak menjawab pertanyaannya mengenai keterlambatannya hari ini.
Rasanya bapak guru itu sudah kehilangan akal untuk bertanya lagi. Sudah berbagai cara lakukan tapi tak ada satupun yang mampu membuat bibir Nawal berbicara. Ia geram dengan ke bungkaman murid cerdas istimewa nya itu.
Daripada ia marah, ia lebih memilih menambah durasi berdirinya Nawal.
Akan tetapi, belum selesai hukumannya, Nawal segera berlari dengan sangat kencang, meninggalkan kelas itu. Kelas yang sepertinya bagai neraka baginya sekarang. Rasanya menunggu waktu percuma. Ia merasa terbuang sia-sia waktu yang ada tanpa ia tau bagaimana kabar sang mama.
"Nawal, mau kemana kamu?" tanya bapak guru itu dengan memekik. Membuat seisi kelas menjadi kaget. Karena mereka sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sehingga mereka tak menyadari apa yang terjadi dengan Nawal serta bapak guru mereka.
Sontak, mereka semua menoleh ke depan secara serentak. Mencoba mencaritahu apa yang terjadi. Tetapi mereka tak tau apa yang sedang terjadi antara Nawal dengan bapak guru itu. Yang mereka tau pasti bahwa saat ini,
Nawal tak berada di posisi dia tadi berdiri. Mereka pun semua bingung.
"Ada apa, pak?"
"Nawal kemana, pak?"
"Bapak nggak apa-apa?"
"Tadi Nawal di sini dan....."
__ADS_1
Begitulah ocehan perhatian dari para siswa cilik itu.
Mendapati respon kebisuan dari sang guru, mereka pun juga ikut diam. Tak tau harus apa.
"Kok pada bengong? Cepat kejar!" tanya dan titah sang guru secara beruntun.
"Maksudnya, pak?" tanya salah seorang dari mereka. Mencoba memberanikan diri. Melihat ekspresi wajah sang guru, banyak murid yang merasa takut.
"Kejar si Nawal!" titah sang guru lagi dengan mata melotot. Guru itu belum sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan siapa sekarang.
"Kejar kemana, pak?" tanya siswa itu lagi.
"Ya kemana kek. Ke sana, ke situ, ke luar. Ahhh, banyak tanya," cecarnya. Ia menganggap bahwa dirinya sedang berbicara dengan orang dewasa yang akan membantunya mencari keberadaan Nawal.
"Kami..." gumam sang guru.
Seketika ia tersadar, ia telah memerintah orang yang salah untuk menemukan Nawal.
"Ma-maafkan bapak. Bapak kira tadi kamu sa-sa-satpam," ucap sang guru dengan gugup.
Menyadari kelalaian dan ketidak konsentrasinya, membuat sang guru menahan rasa malu. Merasa dipergoki oleh murid sendiri saat melakukan suatu kesalahan. Meski hanya masalah sepele, tapi guru itu merasa sangat malu.
__ADS_1
Huuuu
Seluruh kelas jadi riuh kembali. Mereka bersorak sorai menggoda sang guru.
"Diam!" bentaknya sembari menggebrak meja. Bapak guru itu mencoba menutupi rasa malunya dengan berteriak. Ia mencoba mengusir rasa malu itu dan berharap bisa.
Seketika kelas hening kembali.
"Bapak permisi sebentar," ujar sang guru. Lalu ia mengambil ancang-ancang meninggalkan kelas.
"Lalu bagaimana dengan tugas kami, pak? Saya sudah selesai?" tanya seorang siswi dengan suara keras. Berharap sang guru berbalik kembali dan menerima hasil tugas mereka.
Kelas ini lain dari yang lain. Akan lebih bersemangat kalau ada tugas, latihan dan PR. Akan lebih tak bergairah bila hanya libur, tak ada guru. Mereka gemar belajar belajar dan belajar.
Sang guru mengabaikan suara siswi itu dengan semakin cepat melangkah keluar dari kelas itu. Sampai akhirnya punggungnya menghilang di balik pintu. Anak-anak juga kecewa padanya.
Sementara Nawal di luar sana, tepatnya di luar kelas, berlari bak seseorang yang dikejar orang dengan gangguan jiwa. Nasib baik berpihak padanya. Satpam sekolah tak ada di posnya. Membuat Nawal mudah keluar lewat gerbang.
Nawal pun keluar dari sekolah itu dengan mulus, tanpa ada yang memarahi, tanpa ada yang menghalanginya.
"Mama," batinnya. Isi hatinya dan pikirannya hari ini hanya kepada sang mama.
__ADS_1
"Mama tenang. Awa akan datang segera. Awa akan segera berjumpa dengan mama. Kita selesaikan semuanya secara bersama-sama," batinnya dengan tekad kuat.