
"Om ngapain ke sini?" tanya Nawal gugup.
Hanai bingung. Dahinya bahkan sampai berkerut mendengar pertanyaan Nawal.
"Lho, bukankah disini rumah om? Kok kamu nanya gitu? Harusnya om yang bertanya begitu," sahut Hanai.
Nawal salah tingkah. Ia berusaha mengusir kegugupannya dengan menggaruk kepalanya yang tentu saja tak gatal.
"Awal mau ke rumah om," jawabnya cepat. Untuk saat ini hanya itu ide yang ada di kepalanya.
"Terus kenapa nggak lanjut ke rumah? Kenapa disini aja berdiri?" tanya Hanai. Membuat Nawal semakin gugup.
"Ta-tadi AWal hanya....."
Hanai semakin bingung dengan tingkah Nawal.
"Awal...." ucapnya menggantung.
"Ya udah, yuk sama om aja ke rumah," ajak Hanai. Ia bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikan Nawal. Tetapi ia merasa kalau Nawal bukan orang yang gampang terbuka. Dan dia pun tak ingin memaksa Nawal.
Nawal merasa terjebak sendiri dengan rencananya. Awalnya ia datang ke sini untuk bertemu Ela dan bertanya banyak hal kepada tantenya itu. Tetapi ia malah terjebak dengan om Hanai, suami dari Ela.
Kalau sudah bersama dengan Hanai, maka kesempatan untuk berduaan menginterogasi Ela akan pupus untuk sekarang. Padahal tadi bagus banget view-nya. Karena Nawal seorang diri. Tentu setelah kepergian dokter Alya.
__ADS_1
Di satu sisi Nawal semakin banyak tau perihal dokter Alya.
Untuk sekarang, ia kubur dululah hasratnya untuk bertemu dan bercengkrama langsung dengan Ela secara empat mata.
Setelah mereka memasuki rumah, Hanai memanggil-manggil istrinya. Tetapi ia tak mendapati Ela di rumah ataupun di dalam kamar. Tangannya masih tetap menggenggam tangan Nawal. Membuat Nawal mau tak mau mengekor langkah Hanai.
"Kamu kenapa sih teriak-teriak? Kayak di hutan aja." Tiba-tiba seorang wanita paruh baya bersuara.
"Mama," sapa Hanai.
"Ela mana, ma?" tanya Hanai. Ia melihat mama dan papanya mendudukkan diri di sofa di ruang tamu itu.
"Tadi ada di rumah. Iya kan, pa?" Mama Heera menatap suaminya tajam.
Ada yang berbeda dengan mama Heera. Biasanya ia akan senang menyambut Nawal datang ke rumah mereka. Tetapi kali ini tidak. Ia malah diam saja, bahkan tak sedikit pun melirik ke arah Nawal.
Biasanya Nawal akan bergelayut manja pada Omanya itu, tetapi ia pun tak melakukannya. Apalagi ia melihat tatapan aneh Oma Heera padanya.
Terakhir kali mereka bertemu, Oma Heera tak sedingin atau secuek ini padanya.
"Nawal, sini, nak. Kenapa diam saja? Nggak mau peluk opa? Nggak mau cium tangan opa?" ujar opa Ghaffar.
Awalnya Nawal meragu. Apalagi melihat sikap Oma Heera padanya. Tetapi melihat anggukan dari om Hanai, ia pun segera berlari ke arah sang opa. Mencium tangan opanya itu lalu memeluknya.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya sang opa.
Nawal hanya mengangguk. Ia merasa nggak nyaman . Lagi-lagi karena sikap oma Heera yang sangat kontras perbedaannya dari biasanya.
Nawal memutuskan hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
"Nawal kok diam saja sekarang? Lagi sariawan ya?" goda sang opa. Lagi - lagi Nawal menjawab dengan gelengan kepala.
"Yok sama opa. Opa ada hadiah buatmu," ucap opa Ghaffar. Ia berdiri dan menarik tangan Nawal lembut. Membuat Nawal tak bisa menolak.
Tetapi Nawal merasa heran, kenapa sang opa ada hadiah untuknya. Hadiah apa? Iapun bingung.
"Hadiah apa, opa? Awal kan nggak ulang tahun."
"Kan nggak harus ulang tahun baru dikasih hadiah," sahut opa Ghaffar cepat.
Mereka berdua berjalan beriringan. Namun ada sesuatu yang Nawal dengar.
"Jadi dia putrinya Ela?"
"Apa ia? Tapi kenapa Ela tak mengakuinya?"
Begitu banyak pertanyaan yang ada di benak mama Heera dan Nawal bisa mendengar itu semua.
__ADS_1
Nawal takut terjadi sesuatu dengan sang mama.