
"Awal, ini tante, sayang. Bukain pintunya dong," seru wanita itu seraya mengetuk pintu kamar Nawal dengan lembut.
"Ini tante sayang. Ada yang mau tante omongin sama kamu," ujarnya lagi.
"Bukain pintunya! Please," ucap Ela memohon.
Seketika Nawal terfokus dengan suara yang sangat familiar baginya. Ya suara itu sangat tidak asing. Dan Nawal sudah tahu itu siapa.
Ia pun bergegas membuka pintu dan mempersilakan Ela masuk ke dalam kamar itu tetapi tidak dengan Arion, papanya.
"Papa di luar saja. Biar tante Ela saja yang masuk, papa di luar tunggu aja," ucapnya dingin. Ya, dia masih memperlakukan dingin kepada papanya itu. Tetapi tidak dengan tandanya Ela.
Nawal ingin hari ini semua tuntas. Nawal ingin semua tahu kebenaran yang disembunyikan oleh orang tuanya hari ini. Oleh karena itu ia memutuskan untuk berbicara empat mata dengan tantenya Ela.
Kedatangan Ela ke kamar Nawal adalah atas instruksi dari sang mama, mama Basagita. Entah mengapa mama Basagita meminta Ela untuk membujuk Nawal. ia berharap, kesalahpahaman yang terjadi antara Nawal, Arion, dan Fiya akan segera berakhir.
Ia tak ingin keluarga kecil itu terpecah belah hanya karena kesalahpahaman yang tidak ada berujung.
"Siapa yang suruh tante ke sini," tanya Nawal to the point. Ia tak ingin. Ia sudah tak sabar ingin mengetahui kebenaran yang disembunyikan selama ini.
"Tante sendiri yang ingin datang atau memang ada yang menyuruh?" tanya Nawal memperjelas pertanyaannya kepada Ela.
Ela sangat gemas dengan anak itu. Di umurnya yang masih 5 tahun, tetapi dia sungguh dewasa. Ia tak menyangka Nawal tumbuh menjadi anak yang sekuat ini, menjadi anak yang sebijak ini dan menjadi anak yang secerdas ini.
"Kalau memang tante disuruh seseorang ke sini, lebih baik tante keluar saja dari kamar ini. Nawal tidak ingin tante datang ke sini karena suruhan dari seseorang. Itu namanya sama saja tante nggak ikhlas membantu Nawal."
"Kamu kok ngomong gitu sih sama tante sayang? tante datang ke sini ingin membantu kamu. Kamu ingin tahu kan, kenapa kamu nggak mirip dengan mama dan papamu? Kamu mau tahu tidak?" tanya Ela dengan lembut. Sungguh ya pintar untuk membujuk. Entah karena nama anaknya atau entah karena memang sifat keibuan dari Ela yang membuat Nawal nurut kepadanya.
Terpaksa Ela berbohong kepada Nawal. Memang pada awalnya dia ingin membujuk putrinya itu. Tapi ia urungkan. Karena ia tak ingin Nawal semakin curiga kepadanya atau kepada orang tuanya. tetapi atas semua penjelasan dan keinginan mama Basagita ia pun memantapkan hati untuk mendekati kamar Nawal dan ingin membujuk putrinya itu.
"Sekarang tanya apa yang ingin kamu ketahui. Tante akan jawab sebisa tante."
__ADS_1
"Tante yakin bisa jujur?" tanya Nawal serius. Ia menatap Ela dengan tatapan intimidasi.
"Tante usahakan sayang. Tapi kamu harus janji, selesaikan dulu makan mu baru tante cerita. Setuju?"
Ela mencoba bernegosiasi dengan Nawal. Dan Nawal tak ingin Ela hanya membual saja.
"Hmm,'" jawab Nawal lirih nyaris tak terdengar di telinga Ela.
"Apa?" tanya Ela memancing. Ia ingin mendengar Nawal menjawab dengan lantang.
"Iya," jawab Nawal lagi. Kembali aura yang ia pancarkan dingin.
Sementara Arion pergi dengan motornya, meninggalkan kediaman mama Basagita. Ia memilih pergi setelah Nawal menolak untuk berbicara dengannya Ia ingin menghindari pertengkaran dengan Fiya. Ia tak ingin emosinya meluap yang akhirnya membuatnya menyesal.
Arion menyadari, ini kali pertama ia bersikap seperti itu pada istrinya. Dan saat ini ja menyesal. Tetapi apa mau dikata? Perkataan tak bisa dikembalikan. Semua sudah terlanjur terucap.
Begitupun dengan Fiya. Saat ini ja sedang mengamuk di dalam kamarnya. Benda apa saja yang ia dapat ia lempar begitu saja. Terutama yang ada diatas meja belajar mereka dulu, ia campakkan begitu saja.
Usai ia melampiaskan amarahnya, ia terduduk lemas di atas lantai dingin itu. Ia tekuk lututnya hingga menyatu dengan kepalanya. Ia menangis tanpa suara.
Beberapa saat kemudian, ia sudah tenang. Ia pun berjalan mencari ponselnya. Ia ingin tau dimana sekarang Arion berada.
Lalu Fiya pun menghubungi nomornya Arion, tapi tak juga dijawab. Meski ia sudah mencoba lagi dan lagi sampai berulang kali.
"Kemana kakak? Apakah sebegitu marahnya kakak dengan Fiya?" gumam Fiya.
Kini Fiya Sanga berantakan. Ia merasa hancur banget sekarang. Orang yang paling ia sayangi, orang yang paling ia jadikan tempat bersandar, marah kepadanya. Apa ia tidak merasa hancur?
Sementara Arion, ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, seperti orang kesetanan. Tak peduli ia dengan kondisi jalanan yang begitu padat. Ia juga sangat menyesal, atas apa yang terjadi dengan dia dan Fiya hari ini.
Arion memilih menghindar, ia tak ingin Fiya semakin terluka.
__ADS_1
***
"Sudahlah, ma. Mama tenang saja. Mama harus percaya kepada mereka. Mereka sudah dewasa, ma. Mereka yang lebih tau bagaimana menyelesaikan masalah mereka. Kita bisa apa, ma? Kan mereka yang menjalani," tutur Elfan lembut.
Elfan terus menguatkan sang mama agar tetap tenang, jangan berpikir aneh-aneh. Bahkan saat ini ia sedang memijit bahu sang mama di dalam kamar itu.
"Semoga mereka cepat berdamai ya, nak."
"Iya, ma. Pasti. Sudah hal biasa sebuah pasangan ada waktunya pasang dan surut. Setiap pasangan pasti ada kalanya cekcok. Namanya hidup, ma."
Mama Basagita terpaku mendengar penuturan putra satu-satunya itu. Ia merasa terharu. Semakin lama Elfan semakin dewasa. Padahal seingatnya, Elfan itu masih kecil, masih suka main-main.
Tanpa sadar, mama pun meneteskan air matanya. Membuat Elfan keheranan.
"Lho, mama kenapa malah menangis?" Elfan salah ngomong sama mama?"
Mama Basagita menggeleng patah-patah.
"Ya terus, mama menangis karena apa? Hmm?"
"Mama baru sadar, nak. Ternyata kamu sudah dewasa sekarang. Mama jadi merasa papa kamu hidup kembali. Mirip banget cara berbicaranya sama kamu. Mama jadi .."
Reflek, Elfan memeluk sang mama. Kali ini ia melihat mamanya yang begitu rapuh. Selama ini yang ia lihat mama yang begitu tegar, diam bahkan tak bisa lagi berkata-kata apabila anak-anaknya berbuat sesuatu yang tak sesuai harapannya.
"Ma, mama adalah mama terbaik sedunia. Mana jangan pernah nyerah ya. Terus tegur kami pabila kamu di jalan yang salah. Walau bagaimanapun kamu tetaplah anak yang tak pernah luput dari salah.
Mama Basagita semakin terisak ketika Elfan berbicara seperti itu.
"Mama sudah sangat berhasil menjadi papa sekaligus mama untuk kami. Sekalipun mama diam, aku tau mama sering menangis, memikirkan kamu yang sering tak mendengar nasehatmu.
"Kamu sayang mama, sampai kapanpun."
__ADS_1