
"Bos kecil sudah siap?" tanya Sakti.
"Sebentar," sahut Nawal singkat.
Kini mereka telah berada di suatu negara, yang merupakan tempat salah satu cabang perusahaan yang Nawal rintis untuk sang papa.
Dengan sabar, Sakti menunggu bos kecilnya itu di depan kamar hotel Nawal.
Ceklek
"Kita berangkat!" titah Nawal dengan nada dingin.
Sakti pun mengikuti langkah kaki bos kecilnya itu.
"Mana laporan yang saya minta?" tanya Nawal pada sakti. Tentu saja tak lupa dengan ekspresi dinginnya itu.
"Ini, boss kecil," jawab Sakti sambil menunduk hormat.
Ya, meski seluruh penghuni perusahaan tau bahwa Sakti lah direktur utama di perusahaan itu, tetapi semua ide adalah cetusan dari Nawal. Sakti hanyalah sebagai asisten pribadi Nawal. Sebagai perpanjangan tangan Nawal kalau suatu saat dibutuhkan hal yang mendesak dan memang belum bisa Nawal mengatasi. Mengingat usia Nawal masih terlalu muda untuk memimpin suatu perusahaan.
__ADS_1
Nawal menerima laporan keuangan dari perusahaan cabang itu. Perusahaan yang kini katanya diambang batas kebangkrutan. Dimana orang yang dipercayai menghandle perusahaan cabang itu lari dan membawa sejumlah uang serta beberapa aset yang sudah dijualnya.
Itulah yang menyebabkan Nawal, Nadim juga Sakti maka berada di sini. Di negara ini. Negara yang tidak terlalu jauh dari negara kelahiran Nawal dulu.
"Siapa yang mau menanam saham di perusahaan ini namanya? Lupa saya, paman," kata Nawal pada Sakti.
"Tuan Daniel Hendarson, nona muda. Beliau sudah lama berkecimpung di dunia bisinis. Akan tetapi akhir-akhir ini, karirnya sedang di ujung tanduk. Bahkan perusahaan yang dia kelola kali ini diambil alih paksa oleh saudara tirinya. Oleh karena itu beliau hendak menanam saham di sini. Dan bahkan kala itu beliau menawarkan....." Sakti mengehentikan ucapannya.
"Apa?" tanya Nawal dingin.
"Beliau ingin membeli perusaan tuan ini. Katanya mau memulai semuanya dari awal. Tetapi saya belum bisa memberi jawaban. Karena semuanya nona muda yang memutuskan," tambah Sakti.
"Besok pagi, nona. Jam 9 pagi."
Sebagai orang kepercayaan dan paling mengerti Nawal, Sakti yang bertugas mengatur jadwal pertemuan antara Nawal dengan klien. Dan sakti tak pernah mengaturnya pada waktu malam hari.
Alasannya tentunya lagi lagi karena Nawal kecil, masih terlalu muda, masih butuh waktu belajar dan istirahat yang cukup.
"Majukan jadi jam 8!" titah Nawal dingin.
__ADS_1
"Tapi, nona bukankah....."
"Jam 8!" titah Nawal lagi tak ingin dibantah.
"Bukannya nona agak lama bangunnya? Kenapa dimajukan pertemuan dengan klien itu? Padahal saya sudah kabari kepada beliau," batin Sakti.
"Saya akan bangun cepat," ujar Nawal.
Sakti terkejut atas sahutan Nawal. Dia memang salah satu orang yang tidak tau kalau Nawal itu bisa membaca isi pikiran orang lain. Walau memang hampir semua orang tidak tau kalau Nawal itu bisa membaca isi pikiran orang. Hanya Nadim yang tau.
"Tapi harus paman yang bangunin saya," imbuh Nawal lagi.
Tadinya Sakti sudah tersenyum sumringah, senyum itu menyusut kembali saat ia yang dititahkan untuk membangunkan bos kecilnya itu. Auto dia pun akan cepat bangun.
"Ba-baik, nona muda. Saya akan membangunkan nona," ucapnya tergagap. "Walaupun saya nggak tau bisa bangun cepat atau tidak," imbuhnya dalam batin.
Nawal tersenyum nyengir mendengar isi pikiran Sakti.
Salah satu hal yang membuat Nawal ingin bertemu dengan Daniel Hendarson adalah karena mau membeli perusaan kecilnya yang saat ini sedang diambang kebangkrutan. Dia pun jadi penasaran. Seperti apa orangnya dan apa tujuan sebenarnya ingin membeli perusahaan kecilnya itu.
__ADS_1