Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 36. Bayi Gede


__ADS_3

"Kak, kok aku ngelihat Awal akhir-akhir ini beda, ya Lebih banyak ngurung diri di kamar. Atau nggak pergi keluar dengan dalih tugas kelompok. Aku merasa Awal beda, kak."


"Husst! Kamu ngomong apa sih, sayang? Beda gimana? Kan dia dari dulu suka ngurung diri di kamar."


"Tapi ini beda, kak. Seperti ada yang dia sembunyikan yang kita nggak tau."


"Itu menurut kamu aja, sayang. Menurut kakak mah biasa aja," timpal Arion.


"Kalau menurut kakak Nawal itu tipe seseorang yang introvert. Jadi kurang suka bergaul keluyuran nggak jelas," tambah Arion lagi.


"Tapi, kak...."


"Sudahlah, sayang. Sekarang tugas kita adalah mengawasinya, menjadi teman untuknya, memberi dukungan dan motivasi untuknya. Yakinlah, kalau Nawal itu baik-baik saja," nasehat Arion kepada istrinya itu.


"Sekarang kok kakak ngerasa ini semakin besar ya?" tanya Arion. Ia asyik saja memegang benda kenyal itu ternyata.


"Ya besarlah. Terus kakak sedot," ujar Fiya tanpa difilter.


Segeralah Arion tersenyum lebar dengan ucapan ceplos istrinya itu.


"Padahal belum punya anak, tapi udah besar aja. Kan nggak ada dedek bayi yang minumnya."


"Ada," sahut Fiya cepat.


"Siapa?" Arion langsung mengerutkan keningnya. Ia menghentikan sejenak aktifitasnya tetapi tangannya masih tetap disana. Di dua benda kembar itu. Benda itu sudah lama menjadi favoritnya.


"Kakak lah."


"Memangnya kakak bayi?"

__ADS_1


"Hooh. Bayi gede yang selalu manja minta mimik sama aku," ujar Fiya dengan manja. Arion tambah gemas dengan tingkah laku istrinya itu. Ia pun melanjutkan kembali kegiatan favoritnya itu.


"Aww, pelanin dikit, kak. Sakit," rintih Fiya manja.


"Katanya sakit, tapi kenapa semakin merapat. Bilang aja suka," sahut Arion.


"Nggak juga," kilah Fiya.


Arion pun melanjutkan kegiatan kegemarannya hingga mereka akhirnya sama-sama menikmati indahnya perseteruan itu. Perseteruan yang mengeluarkan keringat tapi sangat nikmat.


****


"Ayo, cepat!" bisik Nawal.


"Iya, sebentar!" sahut Nadim.


"Iya, bawel! Ngeyel banget jadi orang," ujar Nawal.


"Kalau ketahuan gimana?"


"Amaaaan. Takut banget."


"Ya bukan gitu, secarakan papa dan mama kamu nggak kenal aku. Nah gimana kalau tiba-tiba mereka lihat kita berteman. Gimana kalau ketahuan kita pasang ini? Ntar curiga lagi."


"Iih, banyak banget kalaunya. Udah, pasang aja!" titah Nawal. Ia sudah mulai sebal dengan bawelnya Nadim. "Kayak laki-laki aja," timpalnya lagi.


Ya, mereka berdua sedang bekerjasama memasang kamera tersembunyi. Kejadian-kejadian yang misterius akhir-akhir ini harus segera dituntaskan. Bukan hanya sekali dua kali Nawal merasa diteror. Tapi sudah berulangkali.


Nawal tak ingin kedua orang tuanya tau kalau dia selama ini diteror oleh seseorang yang misterius.

__ADS_1


Ada di beberapa kamera tersembunyi yang mereka pasang. Di depan teras, di dapur, di ruang tamu. Dan itu semua atas saran dari Nadim, tentunya telah disetujui oleh daddy-nya Nadim.


Mengingat biaya yang kurang bahkan tidak sampai kesana ide Nawal, tapi daddy-nya Nadim mendukung itu semua dan dengan sukarela membiayai pemasangan kamera tersembunyi itu untuk kebaikan Nawal.


Dan kamera tersembunyi itu terhubung dengan jam tangan yang dikenakan Nawal saat ini dan juga laptopnya yang tentunya yang selalu ia letakkan di dalam kamarnya. Bahkan lewat jam tangan itu Nawal bisa melakukan panggilan telepon ataupun video call. Atau chatting. Selain menggunakan handphone tentunya.


"Kayaknya udah semua," ujar Nadim.


Hanya dibalas anggukan kepala oleh Nawal. Sebenarnya Nadim ingin kamar Nawal juga dipasang kamera tersembunyi, tapi Nawal menolak. Dengan alasan sudah terlalu banyak ia menggunakan uang daddy-nya Nadim.


Nawal terlalu segan. Sebegitu pedulinya daddy-nya Nadim padanya. Sementara ibu kandungnya sendiri menyerahkan dia kepada orang lain, meski itu adalah tantenya sendiri.


Tak habis pikir Nawal dengan ulah ibu kandungnya itu. Satu tugas utama yang belum ia tuntaskan hingga saat ini. Nawal masih kesulitan menemukan siapa ayah kandungnya.


Pernah suatu ketika, baru-baru ini ia bertanya mengenai ayah kandungnya kepada Fiya, tetapi bukan jawaban yang ia dengar. Melainkan Isak tangis dari ibu yang sudah membesarkannya itu.


Nawal pun merasa heran dengan reaksi mama Fiya waktu itu. Karena kayak ingin membuat mama dia menangis lagi, akhirnya ia kubur dalam - dalam pertanyaan itu. Dan bertekad dengan kuat bahwa suatu saat ia akan mencari tau semuanya.


"Dorr!"


"Ah, bikin kaget aja," ujar Nawal. Ia terkejut saat Nadim tiba-tiba mengagetkan dirinya dengan berteriak di telinganya.


"Kalau aku tuli kamu tanggung jawab ya,"


"Ya elah serius banget. Bercanda kale."


"Bercanda nya garing. Nggak lucu," ujarnya. Ia mengepal tangan kanannya lalu menghembuskan nafas ke kepalan tangannya itu seolah kepalan tangan itu ada anginnya dan ia letakkan tepat di telinga yang dikagetkan Nadim tadi.


Nawal pun berlalu meninggalkan Nadim.

__ADS_1


__ADS_2