Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 32. Mandul


__ADS_3

"Kapan ya kamu hamil? Mama ingin sekali menimang cucu. Lima tahun lebih sudah kalian menikah. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kamu mengandung," keluh sang mertua kepada menantunya tersebut.


"Sabarlah, ma. Janganlah desak Ela seperti itu. Kasihan dia," sela Hanai.


Sudah berulang kali, bahkan ribuan kali sang mertua menyinggung mengenai anak kepada menantunya itu.


Sebagai anak yang paling besar, tentunya mama Heera mengharapkan cucu dari Hanai. Tetapi yang ia tau sampai sekarang, Ela tak kunjung juga mengandung.


"Tapi kan, Nai kamu anak paling besar. Mama dan papa sudah tua. Masa sampai sekarang mama dan papa belum juga menimang cucu dari kalian. Sudah lebih dari lima tahun lho," ujar sang mama.


Ia protes kepada anak sulungnya itu , karena ia merasa Hanai selalu membela sang istri.


"Ma, mungkin belum rezeki, ma. Kita sabar saja menunggu kehendak yang maha kuasa," jawab Hanai.


"Sabarnya sampai kapan? Sampai lebaran monyet?" ucap mama Heera sudah tak sabar.


Ela yang menjadi saksi perdebatan antara mama mertua dan suaminya itu hanya terdiam mendengarkan. Seandainya mereka tau, bahwa Ela memiliki seorang anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Entah apa yang akan mereka katakan.


Mungkinkah mereka menerima anak itu atau sebaliknya, tak menganggap kehadiran anak itu. Hanya waktu yang bisa menjawab.


"Nanti istri kamu yang nggak sehat. Coba periksa dulu," titah sang mama jutek.


"Ma, mama sudah tau kan kalau kita sudah pernah cek ke dokter dan hasilnya Ela..."


"Coba sekali lagi. Siapa tau waktu itu ada kekeliruan. Atau jangan-jangan..." sela mama Heera. Ia langsung menyela Hanai saat berbicara. Tak membiarkan anak sulungnya itu menyelesaikan ucapannya.


"Atau apa, ma?" tanya Hanai bingung. Ia juga penasaran apa yang akan sang mama ucapkan lagi.


"Atau jangan-jangan, istri kamu itu udah sekongkol sama tuh dokter. Menyuap sang dokter agar dokter itu membuat hasil yang baik tentang kandungannya supaya kita percaya bahwa ia sehat. Padahal nyatanya tidak."


"Husst, mama! Nggak boleh berburuk sangka begitu. Waktu itu ada Hanai kok ma. Jadi nggak mungkin Ela merekayasa hasil laporan itu." Hanai tetap pendirian membela sang istri.


"Ya ... bisa aja kan saat sebelum kalian kesana, mereka sudah calling-calling?"

__ADS_1


"Mama,, stop! Mama tidak berhak melebel atau menjudge Ela seperti itu. Belum tentu apa yang mama katakan itu benar!" ujar Hanai tak kalah emosi.


Ya, akhir -akhir ini mama Heera terlihat tidak senang dengan menantinya itu. Penyebabnya apa? Ya karena sampai saat ini Ela belum ada tanda-tanda mengandung calon cucunya. Padahal ia sangat merindukan hal itu.


Selama lima tahun ia sudah sabar menunggu, tapi ternyata penantiannya tak kunjung membuahkan hasil.


"Kalau begitu coba kalian berobat tradisional. Yang lebih alami gitu. Siapa tau hasilnya top. Mama udah tua lho. Sebentar lagi umur mama di dunia ini. Ya masa sih udah tua begini belum ada cucu. Kan nggak seru sama teman-teman arisan mama," celetuk sang mama enteng.


"Ma, memiliki anak tak semudah memiliki sekotak kue bolu gulung. Disitu ingin langsung dibuat. Nggak gitu, ma. Tapi kalau memang Tuhan belum berkehendak ya kita mau apa?" protes Hanai.


"Ya makanya usaha. Cek lagi Ela. Jangan pasrah aja. Kita nggak akan tau bisa atau tidak, mandul atau tidak kalau kita tidak mencoba," sungut sang mama.


"Kan udah, ma" sela Hanai.


"Sekali lagi. Dan mama harus ikut," ujar mama Heera tegas.


"Lho? Mama? Kenapa ngotot banget sih? Mama bisa ngerti kan gimana perasaan Ela sekarang? Mungkin belum waktunya ma. Mama jangan maksa gitu dong"


Perdebatan anak dan ibu itu selalu begitu tak ada ujungnya karena tidak ada yang mau mengalah. Hanai membela istrinya, mama Heera lebih menyudutkan Ela. Lama-lama Ela pusing juga menghadapi tingkah mama mertua dan juga suaminya itu.


"Mama tak boleh menghakimi Ela, ma. Dia juga tak pernah ingin seperti ini, ma. Sebagai seorang wanita, tentu ia juga ingin mengandung, melahirkan, dan merawat sang anak. Tapi ia bisa apa,a?" ucap Hanai lagi.


"Gimana kalau Ela dan bang Hanai cek secara bersamaan. Kan selama ini hanya Ela yang cek. Abang kan nggak," ucap Ela memberi saran.


"Maksud kamu anak saya mandul?" tanya mama Heera dengan suara meninggi. Ia tak terima anaknya dituduh mandul.


"Ela nggak ada bilang gitu, ma. Tapi...."


"Helleh, alasan. Sama saja. Kamu mau menyalahkan anak saya? Iya kan?" ujar mam Heera berapi-api.


"Kamu jangan nuduh sembarangan ya! Anak saya itu subur. Tak mungkin mandul. Lihat saja. Keturunan kami tidak ada yang mandul. Camkan itu!" ujar sang mertua masih berapi-api.


"Aku yakin kamu yang mandul. Kita lihat saja nanti."

__ADS_1


Segera ia meninggalkan Hanai dan Ela yang masih berdiam diri di rumah tamu. Bahkan pintu kamarnya pun ia hempaskan kuat - kuat saking marahnya.


Ela sampai terkaget-kaget dengan suara bantingan pintu itu.


***


"Iya, Dim. Aku dapat paket box dari orang misterius. Dan isinya ya itu. Hanya selembar kertas yang bertuliskan kalimat yang sudah aku share ke kamu tadi," ucap Nawal lewat telepon genggamnya.


Ya. Saat ini ia sedang curhat dengan Nadim, teman seperjuangannya, teman sepermainan, teman sefrekuensinya.


"Kira-kira siapa ya?" tanya Nadim penasaran.


"Aku juga nggak tau. Aku juga penasaran."


"Atau kau punya musuh? Masa dia tau rahasia pribadi mu? Coba kamu ingat-ingat!" ujar Nadim memberi usul.


"Sejauh ini aku nggak punya musuh lho, Dim."


"Siapa tau ada. Kamu nggak sadar kalau sikap dan perkataan kamu yang lalu menyinggungnya. Sehingga menganggap mu musuh. Jaman sekarang banyak uang begitu lho, Wa "


Nawal menimang-nimang ucapan Nadim itu. Ia sadar bahwa mungkin apa yang dikatakan Nadim ada benarnya juga.


"Coba kamu ingat-ingat di masa lalu. Pernah nggak menyakiti hati orang lain?" tanya Nadim.


"Ihhh, nggak ada lho, Dim. Siapa coba yang mau kasih pinjam kepada kita yang miskin dan papa ini."


"Mulai . mulai. Mulai mendramatisir keadaan. Hmmm," celoteh Nadim.


"Bantu aku ya, Dim," ucap Nawal memohon.


"Kalau bisa aku bantu. Tapi kalau nggak bisa aku stop ya "


"Iya. siap laksanakan!"

__ADS_1


Nadim ada Nawal sepakat untuk menyelidiki siapa pengirim paket itu dan apa motifnya.


"Kamu tenang saja, Wa. Sekuat tenagaku akan membantumu. Semoga apa yang kamu harapkan terwujud. Kalau nggak ya kan nggak mungkin dipaksa. Jatuhnya nanti malah sakit.


__ADS_2