Anakku, Bukan Anakku

Anakku, Bukan Anakku
Bab 34. Gaya Baru


__ADS_3

"Gimana? Masih mau?"


"Hmmm," jawab wanita itu dengan mata sayu. Ia sudah ngantuk berat.


"Enak kan gaya barunya?" tanya lelaki tampan itu.


"Hmmm," masih gumam wanita itu. Sudah mulai terpejam matanya.


"Kakak juga masih kurang," timpal lelaki itu lagi.


Ya, gaya baru yang diajarkan oleh seorang teman kepadanya, ia terapkan malam ini di tempat tidur yang menjadi tempat banyak hal buat mereka. Temannya memberi saran, dengan gaya baru itu bisa mempercepat adanya janin di dalam rahim Fiya.


Arion pun semangat sekali ingin mempraktekkannya. Sampai ia sudah menyiapkan makan malam sederhana, tapi romantis versi Fiya sudah ia sediakan. Untuk memberi kejutan kepada istri tercintanya itu.


Setelah makan malam itulah, Arion memulai jurus rayuan mautnya, memainkan melodi gitar hingga melodi-melodi lainnya, sampai berakhir di ranjang empuk itu. Meski sederhana, tapi keduanya sangat puas.


Tak seperti ranjang king size, empuk seperti bulu angsa, layaknya pada novel-novel romantis yang sering mereka baca. Tidak, ternyata kemewahan bukanlah suatu ukuran untuk seseorang merasa nyaman, senang, puas.


Tangan Arion sudah mulai mencari sesuatu yang menjadi favoritnya. Dan mungkin juga favorit kebanyakan pria di luaran sana. Arion masih teringat pergulatan yang baru saja selesai itu. Ia mengakui, benar bahwa gaya yang disarankan teman kantornya itu sangatlah top.


Arion berharap dengan gaya itu, bayi mungil akan segera hadir dalam rahim istrinya itu.


Tak ada reaksi sedikitpun dari wanita itu, wanita yang sudah lima tahun lebih menjadi istrinya saat ini. Semakin ia menggerayangi tubuh istrinya itu, tetapi tetap tak ada penolakan atau penerimaan dari tubuh itu.


Arion merasa Fiya agak berbeda malam ini. Biasanya bila mereka melakukan hubungan menyatukan sesuatu yang perlu disatukan, Fiya tahan sampai berapa ronde. Bahkan ia sering meminta lebih. Walau Arion sudah mengaku kalah.


Bukan hanya itu, Fiya juga sering jadi yang pertama meminta duluan pada suaminya itu. Toh sudah halal kan, jadi dia bebas meminta kapan saja dan dimana saja.


Tapi malam ini beda. Baru satu ronde saja olah raga itu, eh ia sudah. Badannya sudah lemas. Diawal ia memang semangat, penuh gairah, ketagihan, tapi saat sudah diujung dan sudah selesai, ia sudah tepar.


Sampai Arion meminta lagi tapi ditolak. Dengan alasan ngantuk, capek.


Berbagai hal dilakukan Arion, menoel-noel pipi Fiya, mencongkel lubang hidung Fiya, mengecup seluruh wajah dan tubuh Fiya. Tetapi tidak mempan. Bahkan Arion mendengar suara dengkuran halus dari mulut Fiya.


Sementara adik kecil di bawah sana sudah lancang depan. Padahal baru saja lemas.


Dengkuran halus itu membuktikan bahwa Fiya memang benar-benar lelah. Sangat jarang Fiya mendengkur, kecuali saat lelah sekali.

__ADS_1


Dengan putus asa, karena hasrat yang tak tersalurkan dan nggak mungkin bisa ditahan, iapun gegas ke kamar mandi.


****


Weak weak weak


Weak weak weak


Terdengar bunyi seseorang yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Suara itu membangunkan Arion yang masih terlelap. Ia mengerjakan matanya, menatap jam dinding yang berdetak.


"Masih jam lima pagi," gumamnya. Ia menatap ke sebelahnya tak ada Fiya disana.


Weak weak weak


Kembali ia mendengar suara orang muntah.


Gegas Arion menuju suara itu. Dan ternyata berasal dari kamar mandi. Kebetulan rumah yang mereka sewa, ada kamar mandi di dalam kamar.


"Sayang kenapa?" tanyanya lembut. Masih ada sisa rasa kantuk di mata sayu itu.


Arion memijit lembut tengkuk Fiya. Ia mencoba membuat Fiya rileks.


Setelah menunggu beberapa saat dan Fiya tak muntah lagi, ia pun menuntun istrinya itu ke dalam kamar.


"Kita ke kamar, yuk!" ajak Arion. Ia memegang bahu istrinya itu. Lalu mendudukkannya di tepian ranjang mereka.


"Apa yang kamu rasakan, sayang?" tanyanya lagi. Ia masih berusaha terlihat tenang. Ia ingin tahu, apa yang terjadi dengan sang istri. Tak biasanya ia begitu soalnya. Posisi Arion berada di bawah, duduk bersila diatas lantai, sedangkan Fiya duduk dengan kaki menjuntai ke bawah diatas kasur.


"Boleh kakak tau kamu kenapa, sayang? Dari tadi diam aja kakak tanya."


"Aku nggak apa-apa, kak. Hanya mual saja. Mungkin aku masuk angin, kak," jawab Fiya. Ia mengelus pipi suaminya itu lembut. "Jangan khawatir, oke!"


"Nggak biasanya kamu begini lho, sayang. Jangan pernah menutupi apapun dari kakak."


"Iya lho, kak. Aku nggak apa-apa. Mungkin karena kecapean dan masuk angin."


"Kenapa? Banyak sekali pekerjaan di kantor? Ada yang mengganggu pikiranmu?"

__ADS_1


"Nggak sih, kak. Pekerjaan kayak biasanya, aku masih bisa handle. Dan masalah pun nggak ada. Tapi akhir-akhir ini aku merasa gampang lelah kak. Entahlah." Fiya berucap lesu.


"Kalau gitu kamu nggak usah kerja hari ini, istirahat dulu. Mungkin kamu butuh rileks."


"Jangan dong, kak. Aku mana bisa libur. Selagi aku masih bisa mengangkat kepala ini, bisa jalan, aku akan tahan, kak."


"Tapi sayang..."


"Kak, kalau aku nggak kerja, nanti gajiku akan dipotong. Kakak tau kan gimana aturannya? Terus kalau dipotong, kurang dong nanti yang belanja kita. Sementara kakak posisi sekarang masih diskors."


"Maaf ya, sayang. Gara-gara kakak kamu harus bekerja keras. Kamu jadi tulang punggung keluarga kita ini. Sementara kakak..."


"Ssssst, jangan bilang gitu, kak. Jangan putus asa. Kalau kakak putus asa, siapa yang dukung Fiya? Dan siapa yang akan dukung Nawal? Kakak harus bisa kasih kami berdua semangat, kasih kekuatan dan doa. Supaya kami tetap semangat dan sehat."


"Itu selalu, sayang. Tak pernah lupa untuk menyelipkan namamu dan Nawal dalam setiap doa kakak. Dan selalu berdoa agar kelak Tuhan menumbuhkan janin di rahim kamu."


"Amin," sahut Fiya. Ia memeluk suaminya itu.


"Sekarang aku ingin makan masakan kakak. Boleh ya? Setelah itu antar aku kerja nanti!"


"Siap Bu, boss. Mau makan apa pagi ini?"


"Ingin makan sup sayang ayam? Bisa?"


"Bentar, ya. Kakak cek dulu isi kulkas."


Fiya mengangguk.


"Jangan lupa sambel terasi ya, kak!" serunya dengan semangat.


"Iya," sahut Arion dengan berseru juga.


Ya, baru-baru ini Arion diskors dari kantor. Menurut pihak kantor Arion membuat kesalahan penghitungan terhadap keuangan kantor. Dalam presentasi, ia mengeluarkan uang tapi tak sesuai jumlahnya dengan hasil laporan.


Arion menduga ada yang menyabotase laporan itu. Tetapi ia tak punya bukti. Akhirnya iapun diskors. Bahkan gajinya dipotong setiap bulan untuk menutupi kekurangan itu.


Nawal tau kejadian itu. Diam-diam ia mendengar kala itu Arion bercerita pada Fiya, istrinya. Semakin kuat tekad Nawal untuk membangun sebuah perusahaan untuk papanya itu.

__ADS_1


Bahkan ia yang masih kecil itu belajar tentang bisnis, manajemen bisnis dan perusahaan. Ia merasa sakit, papanya diperlakukan tak adil.


__ADS_2