
Enam tahun kemudian....
Enam tahun sudah berlalu. Dan rahasia mengenai siapa Nawal masih aman terjaga. Belum sampai ke publik hingga detik ini. Masih tetap bersemayam utuh di dalam benak keluarga inti itu sendiri.
Pencarian Nawal juga mengenai ayah kandungnya sampai kini belum membuahkan hasil. Nawal sendiri menyadari, ia belum mencari sampai ke mancanegara. Ia hanya fokus mencari di kota kelahirannya, kota ia tinggal, negaranya tinggal saat ini.
Kelemahan dari sistem robot yang ia punya, belum sampai ke mancanegara jaringannya. Oleh karena itu ia masih terbatas dalam pencarian ayah kandungnya.
Akan tetapi ada satu hal yang saat ini sudah berkembang dengan pesat. Ya, sebuah perusahaan atas nama papa Arion telah berdiri tegak nyaris mencapai langit gedung itu. Gedung megah pencakar lagi yang sangat besar dengan ribuan karyawan dan karyawati. Bergerak di bidang perhiasan.
Satu lagi perusahaan atas nama Nawal sendiri, tetapi karena usianya yang masih muda, sehingga mempercayakan kepada seorang asisten pribadi, tentunya dengan pilihan yang ketat dari Nawal itu sendiri. Meski ia tetap andil dalam membuat suatu keputusan. Asisten hanya menjalankan apa yang dititahkan oleh nona muda kecilnya.
Persahabatan yang dijalin antara Nawal dan Nadim masih erat hingga detik ini. Bahkan semua yang ia capai Nawal pada saat ini, tak luput dari bantuan seorang Nadim dan juga sang daddy.
"Wa, gimana mengenai perusahaan yang di Australia, aku dengar lagi diujung tanduk ya?" tanya Nadim kala itu.
Pada saat ini Nadim datang berkunjung ke kantor Nawal usai mereka menerima pelajaran dari guru mereka tentunya.
"Iya, Nad. Huh." Nawal mengelak nafasnya.
__ADS_1
"Tapi gimana ya? Siapa yang harus kita utus kesana?" tanya Nawal bingung.
Hingga detik ini, satu-satunya tempat yang menjadi ruang keluh kesah Nawal adalah Nadim, bukan mama Fiya ataupun Arion, papanya. Dan satu-satunya orang yang dekat dengan Nawal adalah Nadim, begitupun sebaliknya.
"Gimana kalau kita aja yang pergi?" Nadim menawarkan.
Nawal mengerutkan keningnya mendengar tawaran Nadim.
"Kenapa kamu mikirnya gitu? Sekolah kita gimana? Katanya mau cepat lulus," tutur Nawal.
"Soal sekolah mah gampang. Kan ada daddy. Dia akan membereskan semuanya. Aman itu," sahut Nadim. Membuat Nawal menimang-nimang.
"Kau mengejekku," tukas Nawal.
"Eits, jangan marah gitu dong. Ntar cantiknya ilang loh," sahut Nadim. "Aku hanya salah ngomong. Sorry," ujarnya menambahkan.
"Gini... Gimana kalau kita melanjutkan misi kita itu nanti di sana. Kau bawa robot mini mu itu. Suruh dia untuk melacak eee...." Nadim tak melanjutkan kata-katanya. Ia takut akan menyinggung perasaan Nawal.
Sudah sekian tahun berlalu, Nawal pun belum juga menemukan siapa ayahnya. Ia merasa Nawal berubah walau sedikit. Lebih dingin dari biasanya. Ia merasa Nawal merendahkan dirinya karena tak kunjung berhasil pencarian mengenai ayahnya.
__ADS_1
"Kau benar juga. Kita bisa menemukan pria itu disana. Ide mu cemerlang. Tumben," ketus Nawal.
"Aku kan memang cerdas. Kau aja yang nggak sadar dari dulu," cibir Nadim.
Nawal tak merespon. Ia pun sibuk dengan pikirannya.
Tiba-tiba, sang asisten masuk ke dalam ruangan boss kecilnya itu.
"Bos kecil, tuan muda," sapa asisten Nawal pada Nawal dan Nadim. Sakti nama asisten Nawal itu. Seorang pria dengan tubuh atletis, tinggi dan putih. Mudah senyum kepada semua orang. Berbeda jauh dari Nawal, bos kecilnya.
"Ada apa?" tanya Nawal dan Nadim serentak. Nawal dengan sikap dingin tetapi tidak dengan Nadim. Ia membalas senyuman Sakti, asisten sahabat nya itu.
"Semua sudah menunggu di ruang rapat. Sebaiknya kita ..."
"Baik," kata Nawal. Tanpa membiarkan Sakti melanjutkan kata-katanya.
Nawal segera berlalu diikuti oleh Nadim menuju ruang rapat. Dimana semua sudah menunggu.
Meski tak seorang pun tau siapa Nawal dalam perusahaan itu, tetapi karena Sakti mengaku bahwa Nawal adalah sepupunya, jadi Nawal diperbolehkan berada di perusahaan itu. Dan membiarkan Nawal selalu ikut apabila ada rapat. Tentunya yang mereka tau, Saktilah yang memiliki perusahaan itu. Sakti pulalah yang menjabat sebagai CEO di perusahaan itu.
__ADS_1