
...2.2 Kesibukan Richard...
“Ah, saya tahu siapa ketua tim anda.” Ujar Anna.
“Pasti anda kesulitan.” Sambungnya.
“Saya masih belum terbiasa.” Jawab Richard lesu.
Di sela-sela menikmati makanan dan sambil mengobrol, sesekali Richard pun memperhatikan Anna dan sesekali memuji Anna dalam hati:
“Dia terlihat sama tapi juga berbeda dibandingkan dengan waktu ketika di tim TF.” Ucap Richard dalam hati.
Setelah itu kadang-kadang Richard minum kopi atau makan siang di kantin perusahaan bersama manajer Anna. Terkadang mereka bertemu di kantor, dan kadang-kadang juga bertemu di tempat gym.
Ketika bertemu mereka saling menyapa satu sama lain. Tapi karena mereka tidak bekerja bersama seperti waktu di masih di tim TF, perasaan Richard sudah tidak seperti dulu, dan sesekali Richard pun berpikir jika sekarang memang sudah benar-benar berakhir.
Rasanya perasaan itu datang dan pergi seperti angina musim semi. Tetapi meski begitu ia juga tidak bisa memastikan bagaimana perasaan menajer Anna, mungkin saja sifat manajer Anna kembali menjadi dingin seperti saat pertama kali bertemu. Jika bertemu mereka hanya membicarakan persoalan kantor.
“Pak Richard, tadi anda lihat saya kan? Besok mau makan siang bersama?” Ujar Anna.
“Boleh.” Jawab Richard singkat.
Dan sepertinya dugaan Richard itu memang benar, sekarang ini memang sudah selesai dan semuanya telah berkahir. Tapi semua itu bohong, di hari mereka akan bertemu, secara tidak sadar Richard berusaha untuk memakai pakaian yang bagus.
Richard menganggapnya sepeti bidadari, karena itu Richard sering cerita tentang kehidupan di perusahaan, tapi ada kalanya Richard berpura-pura kuat dan angkuh karena Richard ingin menunjukkan kelemahannya. Khususnya ketika dia sedang menceritakan teman-temannya yang memiliki latar belakang tinggi dan lulus dari universitas bagus. Richard juga tiba-tiba menjadi sombong karena ingin menyamakan diri dengannya. Seketika wajah Richard pun memerah ketika memikirkan hal itu lagi.
Sementara itu Richard mencoba kencan buta dan bertemu dengan beberapa wanita lain melalui layanan perjodohan, Berbagai wanita ia temui dalam kencan tersebut. Ada yang sama dengan yang di foto, ada yang sangat jauh dengan yang di foto, da nada yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan yang di foto.
(Pertemuan Alumni ke-7)
Di lain waktu dan tempat, kala itu Richard sedang menghadiri acara pertemuan alumni ke-7, dan salah satu senior Richard disitu pun mengajaknya untuk mengobrol dengan sedikit menyelipkan candaa di dalamnya.
__ADS_1
“Hei, gimana kehidupanmu di kantor?” Tanya senior Richard tersebut.
“Kak, menurut kakak memang aka nada yangmenarik? Sekarang rasanya mau mati kalau kerja di kantor.” Jawab Richard mengeluh.
“Hahahah”
“Dari wajahmu sudah kelihatan.”Ujar senior Richard menertawainya, dan kemudian Richard pun berbalik bertanya padanya:
“Kakak kenapa bisa sekolah di luar negeri? Katanya persiapan dan ujiannya sangat sulit ya?” Tanya Richard.
“Aku memulai persiapan karena ada senior yang merekomendasikanku.” Jawab senior Richard tersebut dan kemudian melanjutkan:
“Senior itu bekerja di kantor pusat JP Migran di new York, dan aku bertemu dengannya ketika sedang melakukan perjalanan bisnis.” Sambungnya.
“Wah JP Migran.” Tutur Richard takjub.
“Aku makan siang bersama dengan dia di kantin perusahaannya! Aku sampai deg-degan” Ujar senior Richard.
Tiba-tiba saja Richard pun seperti terpmotivasi ketika mendengar ucapan seniornya itu, dank arena itu iapun juga ingin coba ke amerika dan mendapatkan gaji tahunan ratusan juta, supaya dia bisa membanggakan gelar yang didapat dari sekolah bisnis Wharton atau Colombia.
Apalagi ketika mengingat masa-masa sekolah dulu, Richard sangat tahu dan hafa jika seniornya itu dulu di masa kuliah terkenal suka bermain, dan kenapa tidak jika dia juga bisa seperti seniornya itu.
Dan, hati itupun Richard mulai mempersiapkan diri untuk kuliah di luar negeri. Richard mendaftar akademi dan belajar setiap akhir pekan untuk persiapan ujian penerimaan mahasiswa. Setiap selesai bekerja, Richard langsung pergi ke tempat itu dan belajar menulis essay dengan giat.
Di computer, Richard diam-diam membuka kosa kata dan sambil mendengarkan lagu, Richard berpura-pura bekerja dan belajar bahasa inggris. Meski Richard tidak suka bekerja keras dan sesaat Richard berhenti belajar. Keputusan untuk belajar di luar negeri adalah keputusan gegabah, dan Richard juga tidak tahu bagaimana ini semua bisa dimulai.
Seperti ada yang mengganjal di dalam benaknya, seperti ada yang kurang. Walaupun ia tahu itu, namun ia tetap melanjutkan persiapan ujiannya.
Di kantor ia hanya melakukan pekerjaan yang disuruh dan melakukannya seminimal mungkin, Richard menjauhkan diri dari kehidupan sosial dan tidak melakukan hobinya lagi. Tapi suatu hari sebuah pesan pun masuk dari manajer Anna.
‘Pak Richard, belakangan ini anda sangat sibuk ya? Sedang sibu dengan proyek A? Bos anda sangat menyusahkan ya?’ Tutur Anna dalam isi pesan yang dikirmkan untuk Richard tersebut.
__ADS_1
Setelah membaca pesan dari Anna itu, Richard pun buru-buru menuju ke ruangan Anna.
“Manajer Anna.” Tegur Richard dibalik pintu ruangan kerja Anna. Dan, Anna pun terlihat senang ketika melihat Richard datang menemuinya.
“Di sini.” Ujar Anna tersenyum sambil melambaikan tangan.
Setelah itu mereka pun mencari tepat untuk mengobrol dan kemudian Richard pun menceritakan tentang kesibukannya akhir-akhir ini.
“Saya sedang mempersiapkan kuliah saya.”
“Saya juga sedang mempersiapkan diri untuk ujian GMXT. Sepertinya sudah berjalan 2 bulan” Ungkap Rcihard menjelaskan kesibukannya itu kepada Anna.
“Bulan depan saya berniat untuk mencoba ujian yang pertama, kalau melakukan persiapan sekarang, saya sepertinya bisa daftar di semester musim gugur tahun depan.” Sambung Richard, dan Anna pun menoleh lalu berkata:
“Ah, bagus sekali. Sangat pas dengan umur anda sekarang.”
“Kalau 1-2 tahun lagi pasti sudah terlambat. Baguslah.” Sambung Anna, dan kemudian Anna pun kembali berkata:
“Saya masih punya materi yang saya pelajari dulu, mau saya pinjamkan?” Ucap Anna, dan seketika membuat Richard pun tercengang.
“Anda punya gelar itu? Saya tidak tahu!” Ucap Richard tak menyangka.
“Luar biasa.” Sambung Richard takjub.
“Bukan, saya hanya ikut ujiannya saja. Saya tidak bisa melanjutkannya.” Jawab Anna buru-buru mengklarifikasi.
“Sebenarnya saya sudah daftar, tapi kalau mau menceritakan sepertinya harus di hari lain.” Sambung Anna dengan nada lesu, dan kemudian Anna pun kembali berkata:
“Pokoknya katakana saja kalau anda perlu materi untuk belajar. Tapi sepertinya tidak perlu karena anda sudah belajar.”
“Hmm, sepertinya buku itu ada di rumah orang tua saya. Atau sudah dibuang ya? Saya tidak yakin.” Sambung Anna seakan-akan ingin mengalihkan pembicaraan dan tidak ingin membahas persoalan itu lagi.
__ADS_1
...Bersambung...