Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 19


__ADS_3

...2.9 Anna Yang Malang...


Seketika Richard pun mengambil ponselnya dan melihat ada dua pesan masuk, sehingga pada saat ia membuka pesan itu. Iapun terkejut, yang mana pesan tersebut adalah pesan dari Anna.


‘Pak Richard, anda tidak angkat telepon saya. Sepertinya anda sibuk.’ Ucap Anna dalam isi pesan yang dikirimkan kepada Richard itu.


“Apa? Manajer Anna menghubungiku di akhir pekan?! Ini pertama kalinya dia melakukan ini! Ada apa? Apa ada yang mendesak?” Tutur Richard dalam hati.


“Dia menghubungi aku 1 jam yang lalu.” Sambung Richard.


Sebetulnya Richard sudah mulai menebak mengapa manajer Anna menghubunginya, yang mana menurut Richard ada 2 alasan besar kenapa manajer Anna bisa menelpon dan mengirimkan pesan padanya, yaitu. Di saat dia memerlukan manajer Anna dan dia menjawab pesanku, dan di saat manajer Anna mau minta tolong padanya.


“Hmm sepertinya dugaan ku benar.” Ucap Richard dan lalu Richard pun menghubungi Anna kembali untuk memastikan.


“Halo manajer! Anda menelepon saya, ya? Maaf. Saya baru lihat hp.” Ucap Richard ketika Anna sudah menjawab telepon nya.


“Ah, anda sibuk?” Ujar Anna kembali bertanya, dan seketika Richard pun tercengang ketika mendengar suara Anna lalu berkata dalam hati.


“Dia terdengar ragu-ragu. Mirip dengan yang waktu itu. Dia mau minta tolong?” Ucap Richard dalam hati menebak, dan kemudian Richard pun menjawab:


“Tidak, sama sekali tidak sibuk! Mana mungkin saya sibuk di hari sabtu!” Jawabnya.


“Hmm, anu.”


“Katakan saja, saya tidak apa-apa!” Ujar Richard dan kemudian setelah Anna mengatakan, Richard pun terkejut dan tak menyangka jika Anna mengatakan:


“Apa anda bisa menghabiskan waktu bersama saya? Apa anda sedang di rumah?” Ujar Anna.


Tentu saja Richard pun kegirangan ketika mendengar Anna mengatakan itu sehingga iapun menjawab:


“Iya! Saya, emm. Ah.. tidak, saya sedang berada di rumah!” Jawab Richard.


“Ah, anda sedang di mana?” Sambung Richard bertanya, dan kemudian kembali bertanya:


“Ada mau bertemu di mana?”


“Saya sedang di sekitar kota pinggir, saya ada di sini.” Jawab Anna.


“Apa? Sekarang di kota pinggir?” Ujar Richard dan kemudian melanjutkan:


“Anda sedang bersama anda anda? Apa sebaiknya saya bawa mobil?” Sambungnya.


“Saya sendirian, ah.. emm mobil terserah. Saya akan sangat berterima kasih kalau anda datang.” Jawab Anna.


“Ramennya sudah jadi.”

__ADS_1


“Pak, saya tidak punya waktu untuk makan. Berikan saja pada orang lain.” Jawab Richard.


“Ha, mau berikan ke siapa?”


Setelah itu Richard pun membayar ramennya dan lalu buru-buru pergi untuk menemui Anna.


Seketik Richard pun berpikir jika kali ini juga sama persis akan terjadi seperti waktu dulu ketika Anna meminta Richard membelikannya barang-barang pada saat mens’s, sehingga Richard pun berpikir jika ia akan membelikan Anna barang-barang itu lagi.


“Apa aku harus pulang ke rumah dulu?” Ucap Richard dalam hati.


Dan akhirnya Richard pun tidak pulang, dengan menggunakan jaket piding dan celana training iapun lansung menuju ke kota pinggir untuk menemui Anna. Dan sesekali Richard pun kembali teringat ketika Anna memanggilnya ke tempat parkiran waktu itu.


“Manajer Anna, apa anda dekat stasiun kota pinggir?” Tanya Richard menelpon Anna.


“Ah, saya sedikit jauh dari stasiun, saya tidak tahu seberapa jauh saya berjalan.” Jawab Anna.


“Saya akan mengirimkan nama kafe nya.” Sambung Anna.


Dari suara Anna, kelihatannya Anna sangat memerlukan Richard, dan itu membuat Richard menjadi lebih tergesa-gesa.


Dan, setelah sampai di kafe tempat Anna berada. Richard pun menegur:


“Manajer Anna.” Anna pun menoleh.


Ketika sampai di temoat itu, Richard yang melihat Anna itu bukanlah Anna yang seperti biasanya. Manajer Anna yang ia kenal adalah wanita yang percaya diri, elegan, bersinar, dan memiliki tubuh yang luar biasa sampai membuatnya merasakan segala macam hal ketika bersamanya.


“Pak Richard.” Ucap Anna.


Tetaapi Anna yang dilihat oleh Richard kali ini terlihat sangat kecil dan malang dan sepertinya kehilangan cahayanya. Dia duduk sambil memegang secangkir kopi dan terlihat tertekan.


“Maaf, pedahal sekarang hari libur. Saya tidak tahu harus memanggil siapa, teman-teman saya semuanya punya anak atau mereka sedang di luar negeri.” Tutur Anna, dan Richad pun menjawab:


“Tidak, maaf saya terlambat.”


“Di mana anak anda?” Sambung Richard bertanya.


“Ah, dia sedang bersama orang tua saya, saya ke sini karena ada urusan.” Jawab Anna dan lalu melanjutkan:


“Tapi setelah itu saya rasanya tidak mau pulang ke rumah, dan saya sangat lelah.” Sambungnya dan dari nada bicaranya berbeda dari biasanya.


Orang yang selalu bicara dengan jelas dan tegas terdengar keraguan di setiap katanya.


“Apa yang terjadi?” Tanya Richard, dan Anna pun sejenak terdiam setelah itu menjawab:


“Pagi ini saya dapat telepon dari suami saya yang ada di amerika.”

__ADS_1


“Apa saya pernah cerita soal dia?” Ucapnya.


“Ah, sedikit. Waktu di mobil.” Jawab Richard.


“Jadi suami saya ada di amerika.”


“Anak saya sedang bersama orang tua saya, dan saya tadi bertemu dengan pengacara. Saya kenal pengacara itu dari sahabat saya.” Ungkap Anna.


“Pengacara?” Tanya Ricjard berekspresi penasaran.


“Kami sudah membicarakan soal penceraian dari dulu, tapi jujur saya masih berharap kami tidak bercerai” Tutur Anna melanjutkan ceritanya.


“Saya tidak bisa membuat keputusan dan hari ini tiba-tiba saya memutuskan untuk bertemu pengacara. Saya menghubunginya di hari sabtu dan dia harus ke kantor gara-gara saya.”


“Kantor pengacara itu ada di sekitar sini. Dia orang baik.” Terangnya


“Cerai? Ah.” Ujar Richard dalam hati, dan kemudian Anna pun kembali melanjutkan ceritanya tadi.


“Setelah saya bicara dengan suami saya, rasanya harapan saya hilang. Saya percaya jika saya bisa memperbaiki sesuatu, tapi itu semua lenyap begitu saja.”


“Ka;au anda bertemu pengacara, apa anda mau menuntutnya?” Tanya Richard.


“Saya tidak menuntutnya, tidak ada sengketa atau hak asuh atau pembagian harta.” Jawab Anna.


“Ah, sebenarnya saya sama sekali tidak memikirkan hal itu, dan saya menganjurkan sebisa mungkin untuk tidak menuntutnya.” Sambungnya Anna.


Tiba-tiba pembicaraan pun harus terhenti sebentar karena sang pelayn kafe datang bertanya kepada Richard:


“Pelanggan, anda mau pesan apa? Setiap orang harus pesan setidaknya 1 menu.” Ucap si pelayan kafe.


“Ah, saya pesan segelas Americano.”


“Baiklah, anda mau yang dingin atau yang hangat?”


“Yang hangat.” Jawab Richard, dan si pelayan pun kemudian menawarkan:


“Kebetulan kami sedang ada promosi. Kalau anda pesan cookie atau kue kami akan memberikan kupon minuman secara gratis dan langsung bisa dipakai.”


“Kopi saja. Saya pesan kopi saja.” Ujar Richard mulai kesal.


Setelah si pelayan pergi, Anna pun kembali melanjutkan ceritanya yang sempat terpotong tadi karena si pelayan tadi.


“Lalu?” Tanya Richard dan Anna pun melanjutkan ceritanya


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2