
...1.9 Kenapa Harus Ada Batasan?...
Richard pun berhasil naik sampai ke ruangan kantornya hanya dengan mengenakan kaso dalam berwarna putih, dan untungnya para karyawan yang lain sudah pulang sehingga Richard pun tidak harus menanggung malu ketika memasuki kantor dengan penampilan seperti itu.
“Untung saja sekarang sudah lewat jam pulang.” Tutur Richard dalam hati.
Dan untungnya lagi. Richard punya kaos sisa di meja kerjanya, meskipun kaos itu adalah kaos yang dibagikan ketika sedang workshop. Setidaknya kaos itu bisa ia kenakan untuk sementara waktu sampai setibanya dirumah.
Meski begitu rasa malu juga masih terasa ketika dia berpapasan dengan orang di parkiran. Kaos lengan pendek berwarna biru dengan tulisan ‘We’ve Got This, Team! membuat Richard sedikit canggung ketika bertemu dengan orang lain. Namun Richard berusaha tenang meski kenyataannya baru terasa setelahnya.
Dan Richard pun melihat manajer Anna masih ada di parkiran dengan mendapati kemeja yang diberikan kepada Anna tadi dipakai menutupi bokongnya. Tapi apa boleh buat, pakaiannya sudah jdi seperti itu. Tapi manajer Anna tetap kelihatan keren di mata Richard.
“Ah, kemejaku. Sudahlah, sudah jadi seperti itu.” Ungkap Richard dalam hati tercengang melihat kemejanya kesayangannya dijadikan penutup bokong. Dan, kemudian Richard pun menyapa Anna.
“Manajer Anna…”
“Ah…”
“Ah, dia tidak sadar dengan kaos yang aku kenakan.” Tutur Richard dalam hati.
“Sepertinya dia sedang kebingungan?” Sambung Richard kembali berkata dalam hati ketika melihat ekspresi Anna yang terlihat cemas.
“Saya harus menjemput anak saya, gimana ya?” Ucap Anna.
“Dia telepon menanyakan kapan saya pulang.” Sambung Anna.
Richard pun memperhatikan wjah Anna yang terlihat penuh kecemasan itu. Sehingga Richard pun lagi dan lagi kali ini menjadi pahlawan untuk Anna.
“Manajer Anna…”
“Saya akan jemput anak anda. Saya juga tahu wajahnya, kami kan pernah bertemu sebelumnya.” Ucap Richard.
Manajer Anna hanya bisa menghentakkan kakinya karena dia tidak bisa menjemput anaknya dan dia terlihat tidak bisa membuat keputusan yang cepat.
“Ah…”
“Tidak, gurunya juga tidak akan membiarkan anda membawanya, dan anak saya juga pasti tidak mau pergi.” Jawab Anna ragu terhadap Richard.
“Mereka tidak akan mengizinkannya walaupun saya menelpon dulu.” Sambung Anna.
__ADS_1
“Kalau begiru biarkan saya pergi bersama anda.” Ujar Richard lagi.
“Kalau sudah terlambat sebaiknya kita ke sana sekarang.” Sambung Richard. Sehingga, manajer Anna pun kembali fokus setelah mendengar kata-kata Richard itu.
Anna pun menelpon tempat penitipan anak. Setelah itu mereka pun langsung ke sana.
Hampir jam 8 malam. Yang tersisa di tempat penitipan anak hanyalah anak manajer Anna. Sehingga anak Anna itupun langsung menangis ketika melihat ibunya.
Gurunya yang baik tidak menanyakan alasan kenapa manajer Anna terlambat. Tapi dia pasti merasa aneh karena manajer Anna mengenakan celana kerja dan memiliki kemeja bergaris di pinggangnya. Dan ditambah lagi ada pria yang mengenakan kaos kuning.
“Asata ibu minta maaf.” Tutur Anna sembari menggendong anaknya yang menangis itu.
“Sudah makan malam?”
“Mau beli cemilan di jalan pulang?”
Ekspresi Anna yang terlihat di mata Richard seketika berubah pada saat anaknya sudah di pelukannya. Pedahal tadi dia Anna terlihat begitu kebingungan dan panik, tapi sekarang ekspresinya penuh dengan rasa bersalah terhadap anaknya.
Setelah drama yang terjadi selama bersama Anna tadi, Richard dan Anna pun bermaksud pulang. Namun ketika dalam perjalanan orang-orang pun melirik Richard, mungkin karena semua orang tahu jika kaos yang dikenakan oleh Richard itu adalah kaos perusahaan.
Selain itu Richard juga membawa tas manajer Anna dan menjaga jarak dengannya supaya tidak ada yang mengira ada yang terjadi di antara manajer Anna yang melilitkan kemeja bergaris di pinggangnya dengan si pria berbaju kuning yang jalan dibelakangnya. Mereka harus lebih berhati-hati ketika berjalan di dalam gedung kantor.
“Anda bisa menyetir?” Tanya Anna ketika mereka sudah berada di parkiran.
“Bisa.” Jawab Richard.
“Terima kasih banyak.”
“Ah, kemejanya… bagaimana ya?” Sambung Anna tidak tega melihat kondisi kemjea Richard seperti itu.
“Sekarang masalahnya bukan kemeja itu.” Ungkap Richard tidak mempermasalahkan.
“Saya yang akan mengantar anda pulang, anda duduk saja di belakang bersama anak anak.” Sambung Richard.
“Ya sudah, maf ya sudah merepotkan.” Ujar Anna dan kemudian Anna pun membawa masuk anaknya ke dalam mobil sambil berkata:
“Hari ini ibu akan duduk di sebelahmu. Paman ini katanya mau mengantarkan kita pulang! Bagus kan? Ibu aka nada di sebelahmu!” Ucap Anna kepada sang anak.
Disela-sela perjalanan. Mereka pun mengisi waktu perjalanan mereka dengan mengajak anak Anna untuk bermain, dan terlihat wajah penuh kebahagiaan pun terpancar di wajah Anna sehingga itu membuat Richard turut merasa bahagia.
__ADS_1
Dan, seperti itulah Richard menjadi seperti supir bayaran, seperti supir taksi yang menyalakan dan mengendarai mobilnya. Dari mobilnya terdengar lagu anak-anak.
“Wah, zaman sekarang lagu anak-anak menarik juga ya?” Ujar Anna.
Dan menajer Anna berbincang dengan anaknya dengan suara kecil sambil memegang tangannya. Perbicincangan mereka hanya perbicangan biasa.
Richard bahkan tidak melihat kaca spion dan hanya melihat ke depan mengendarai mobil dengan berani seperti hidupnya bergantung pada itu semua. Dalam 20 menit, mereka pun tiba di apartemen manajer Anna.
“Terima kasih hari ini.” Ucap Anna dan kemudian kembali berkata:
“Sepertinya kita tidak bisa mengobrol terlalu lama karena ada anak saya, mari kita bicara nanti. Sekali lagi terima kasih.”
“Saya akan membelikan kemeja yang baru.” Sambung Anna.
“Anda tidak sakit kan?” Tanya Richard.
“Anda sudah makan malam? Mau saya belikan sesuatu?” Sambungnya.
“Tidak, hari ini sampai di sini saja.” Jawab Anna tidak ingin merepotkan Richard lagi.
Sampai di sini saja ungkapan itu seolah-olah menjadi batasan yang jelas di situasi yang canggung yang dirasakan oleh Richard. Dan Richard pun tidak bisa melewati batas itu, di saat penting seperti ini. Richard harus mengurangi waktu dbertemu dengan Anna.
Kini semua pikiran dan pertanyaan seakan-akan memenuhi kepala Richard di sepanjang perjalanan pulang.
“Kenapa…”
“Kenapa dia menghungi aku?” Tanya Richard dalam hati.
“Apa tadi situasinya sangat mendadak sampai harus meminta tolong pada seorang pria?”
“Aku baginya adalah pria seperti itu?” Sambung Richard terus menimbulkan pertanyaan dibenakknya.
Seorang wanita yang sudah punya anak, hidup terpisah dengan suaminya akan cerai dan lebih tua dari Richard itu berhasil mengaduk-aduk perasaan Richard. Tapi di atas segalanya, dia sangat menarik di mata Richard.
Bukan hanya karena Anna yang memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang indah serta mirip dengan actris korea. Namun karena ada sesuatu yang lebih dari itu.
Richard tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan sampai ia memikirkannya dalam waktu yang lama.
...Bersambung...
__ADS_1