
...3.7 Sadar Akan Batasan...
‘Kalau kau punya hati yang baik dan kuat, kalau kau yakin kau bisa melewati cobaan-cobaan dunia, kau bisa menikah dengan siapa saja.’ Ucap ibunya pada waktu itu dan Richard pun terus memikirkan perkataan ibunya tersebut.
“Apa aku punya keberanian yang besar dama diriku?” Pungkasnya kembali berkata dalam hatinya setelah mengingat perkataan ibunya itu.
“Sekarang di rumahku ada konsul game dan majalah, baju dan selimutku pasti berantakan di mana-mana.” Sambungnya mulai merasa tidak percaya diri.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu bersama Anna. Richard pun pamit untuk pulang dan ketika ingin pulang Anna pun berkata padanya:
“Pakaian anda tinggalkan saja di sini, nanti saya cuci.” Ucap Anna, dan kemudian dibalas oleh Richard:
“Jangan! Saya akan kembalikan kaos yang saya pakai ini setelah saya cuci.”
“Kalau suka, anda boleh mengambilnya. Sepertinya cocok dengan anda, suami saya juga tidak akan mencarinya.” Jawab Anna.
“Tidak, saya tidak enak.” Balas Richard, dan kemudian iapun kembali berkata:
“Terima kasih untuk makan malamnya, rasanya seperti dibuatkan makan oleh kakak saya sendiri.” Ujarnya, sehingga Anna pun tercengang.
“Ah, aku salah bicara ya? Atau tidak?” Tutur Richard dalam hati panik.
Dan mungkin benar saja jika Anna merupakan office sister untuk Richard, dan mereka adalah office sibling, dan bukan office affair di mana mereka minum alcohol lalu pergi ke motel, tapi office sister di mana dia memanggil Ricard untuk makan bersama.
“Rasanya udara dingin ini membuat saya terbangun dai wine tadi.” Tutur Anna, dan kemudian bertanya:
“Apa anda bawa mobil?” Tanyanya.
“Tidak, saya akan naik subway. Udaranya dingin, cepatlah masuk.” Jawab Richard dan kemudian meminta anak untuk segera masuk ke dalam rumah.
Setelah itu Richard pun tersenyum lalu kembali berkata kepada Anna:
“Anda pasti sudah lama sekali tidak tidur di rumah sendirian seperti ini.”
“Ah, betul. Mungkin saya akan nonton film atau drama.” Jawab Anna.
“Malam yang seperti ini sangat langkah.” Sambungnya.
Kemudian Richard pun terlihat serius dan ingin mengatakan sesuatu kepada Anna, namun belum selesai ia berkata Anna pun tiba-tiba memotongnya.
“Saya…”
“Sebentar lagi tahun baru.” Potong Anna.
__ADS_1
“Kalau saya menulis autobiografi, bab tahun ini pasti sangat panjang.” Sambung Anna sambil menyodorkan tangan kepada Richard.
Richard pun tersenyum lalu menyambut tangan Anna tersebut, sehingga mereka pun bersalaman, dan kemudian Richard pun membalas:
“Saya juga.”
“Saya emm…” Ujar Anna dengan nada kaku, dan kemudian melanjutkan:
“Minta maaf.”
“Yang bisa saya lakukan hanyalah ini.” Ujarnya.
Seketika Richard pun teridam lalu menundukkan kepala dan berkata:
“Tidak, saya yang seharusnya minta maaf.” Ujarnya dengan nada penyesalan.
“Memangnya anda berniat melakukan apa?” Tanya Anna, namu Richard pun kembali teridam dan tidak menjawab pertanyaan Anna barusan. Sehingga, dengan tiba-tiba Anna pun memeluk Richard dan membuat Richard tak berdaya menerima pelukan Anna yang begitu hangat.
“Maaf, saya tidak punya keberanian.” Ucap Richard dalam hati.
“Kenapa?” Tegur Anna, dan kemudian kembali menanyakan:
“Kenapa kau minta maaf.” Tanyanya.
“Aku yang tidak bisa memberikan apa-apa, aku yang minta maaf. benar-benar minta maaf.” Sambung Anna.
“Pulang, pulang dulu.” Ungkapnya merasa malu dengan diri sendiri.
“Lalu hapus semua video dewasa.” Sambungnya.
Dan begitulah yang terjadi, itu adalah musim dingin yang panjang dan sulit. Di mana mereka mengetahui batas yang jelas di antara mereka berdua.
Hari pun berlalu, dan setelah hari itu mereka menjalani hari seperti biasa lagi. Mereka tahu ada batas yang jelas di antara mereka berdua, dan mereka tidak bisa melewati batas itu.
Kadang-kadang mereka masih makan siang bersama, minum kopi bersama, dan sesekali bertukar pesan.
Pada saat Richard lembur, Anna pernah menelepon dan minta tolong bawakan laptopnya. Richard pergi buru-buru dan partner amerika mereka minta dokumen yang belum Richard selesaikan. Ketika berada di Ketika mengantarkan laptop ke rumah Anna, yang bagi Richard itu adalah apartemen yang familiar, tapi sekarang Richard tidak berharap atau ingin masuk.
“Manajer Anna.” Tegur Richard ketika sudah berada di rumah Anna pada saat mengantarkan laptop Anna tersebut.
Richard pun memberikan laptop itu di depan rumah Anna, dan Anna pun tidak menyuruhnya masuk karena di dalam rumahnya ada sang buah hati.
“Anak saya ada di rumah.” Balas Anna sambil melemparkan senyum.
__ADS_1
“Terima kasih.” Sambungnya.
Setelah itu Richard ke rumahnya lagi beberapa kali, dan Richard pernah masuk ke dalam rumahnya meskipun Anna hanya ingin menawarkannya minum jus, tapi dia tidak melebih-lebihkan sesuatu, dan Richard pun juga tidak berpikir apa-apa.
Betul, Richard tidak berharap apa-apa. Mereka karena menurutnya mereka hanyalah office siblings.
Setelah hari itu, tidak ada rasa canggung di antara mereka berdua, tapi juga tidak ada saat di mana Richard mau mencoba melebihi batas.
Di hari berikutnya, pada saat di kantor. Anna pun berpas-pas-an dengan Richard ketika hendak menaiki lip. Namun, karena penampilan Richard yang berbeda kali ini. Anna pun mengeurnya dengan berkata:
“Ah, pak Richard.”
“Hari ini anda pakai kacamata!” Ujar Anna, dan Richard pun membalas dengan senyuman.
“Sepertinya ini pertama kalinya saya melihat anda pakai kacamata. Hari ini penampilan anda sangat baik!” Ujar Anna melanjutkan.
“Ah, kadang-kadang saya pakai kacamata ke kantor.” Jawab Richard.
“Sepertinya anda ada janji hari ini? Cara berpakaian anda terlihat berbeda.” Ucap Anna.
“Ah, haha iya.” Balas Richard berekspresi malu-malu.
“Saya tidak akan banyak tanya, tapi nanti jangan lupa cerita ya.” Ujar Anna lagi, dan kemudian melanjutkan dengan memuji:
“Hari ini anda terlihat keren.”
“Saya deluan ya.” Sambungnya.
Anna pun pergi dan Richard hanya bisa memandangi Anna dari belakang dan berkata dalam hati:
“Anda sangat peka, pasti anda sudah tahu. Karena itu anda berkata seperti itu.” Ucapnya dalam hati.
Tebakan Anna barusan memanglah benar, karena hari ini Richard memang akan menemui seseorang. Ia akan kencan buta dengan junior yang dikenalkan oleh temannya.
“Parfumnya…”
“Hari ini mau bertemu siapa? Bertemu seorang wanita? Kalau dia tanya seperti itu, aku harus jawab apa?” Tanya Richard dalam hati.
“Bagaimana dengan perasaanku? Apa aku benar-benar terlihat keren?” Sambungnya sambil berkaca pada kaca jendela lalu kembali berkata:
“Aku, apa aku bisa melupakannya.” Ungkapnya dalam hati.
Dan, Richard pun bertemu dengan wanita yang dikenali oleh temannya itu. Pasangannya kali ini lebih muda 5 tahun, gadis muda dengan pakaian yang menarik, kulitnya putih dan hidupnya positif.
__ADS_1
“Boleh tidak saya panggil anda kakak?” Ujar si wanita yang dikencani oleh Richard.
...Bersambung...