Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 29


__ADS_3

...3.9 Semuanya Seakan Terjeda...


Namun sayangnya Richard pun harus berhenti berimpi karena kaget tiba-tiba saja rekan kerjanya datang menepuk bahunya sehingga iapun terbangun.


“Manajer Richard.” Ujar rekan kerjanya membangunkannya.


“Haa.” Kaget Richard.


“E-e, manajer Je?” Sambungnya.


“Aku lihat kau ketiduran, jangan terlalu memforsir diri. Nanti kau sakit.” Ucap rekannya itu.


“I-iya, terima kasih.” Balas Richard masih linglung.


Setelah rekan kerjanya itu pergi, Richard pun merenggangkan badannya sambil berkata:


“Uhh, aku lelah sekali. Mimpiku tadi sepertinya memalukan.” Ujar Richard seorang diri, dan kemudian melanjutkan dengan berkata:


“Tidak, bisa saja itu jadi kenyataan?” Sambungnya.


Proyek ini adalah proyek pertama di mana Richard mempertaruhkan namanya. Sebagai pemimpin, tentu saja dia tidak boleh bermalas-malasan dan harus bekerja ekstra untuk membuahkan hasil yang diinginkan.


Ia bekerja sangat keras karena ia tidak bisa minta tolong atau menyuruh orang lain melakukannya, dan memang selama hidupnya ia tidak pernah menghadapi tantangan besar, ujian masuk universitas dan mencari pekerjaan bukanlah hal yang bisa disebut sebagai sebuah tantangan.


Tiba-tiba pada saat Richard kembali menghadap computer, tiba-tiba saja ponselnya pun berbunyi dan itu adalah pesan dari wanita yang ia kencani beberapa hari yang lalu.


‘Aku punya 2 tiket bioskop gratis’ Ucap si wanita yang dikencani oleh Richard.


‘Kakak punya waktu weekend ini?’ Tanyanya lagi mengirim Richard pesan.


Namun Richard hanya membacanya dari notifikasi yang muncul saja tanpa membuka pesan tersebut, karena ia takut menghadapi tantangan. Ia tidak pernah mendorong dirinya. Untung saja ia tidak berakhir dengan pinjaman mahasiswa.


“Kerja, ayo kerja.” Ujar Richard menyamangati dirinya sendiri.


Richard beruntung bisa diterima di universitas dan perusahaan yang cukup baik. Soal kuliah tingkat lanjut juga dimulai karena manajer Anna.


Selama 30 tahun, rasanya ini pertama kalinya ia berusaha melakukan sesuatu dengan baik.


“Kalau saja waktu itu aku giat belajar seperti ini mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu, dalam hidup? Orang yang lebih cepat menjadi dewasalah yang akan sukses deluan.” Ungkapnya dalam hati.


Namun semua itu terasa sangat sulit dan berat bagi Richard, karena banyak sekali materi yang harus ia cari, dan banyak yang harus ia pelajari, dan ternyata memimpim para anggota tim itu sangat sulit.


Kadang-kdang ia dan manajer Anna bertukar pesan, tapi mereka sudah tidak pernah bertemu selama beberapa bulan.


Richard terus mendorong semangatnya agar giat belajar dan terus berusaha agar bisa berkonsentrasi dalam persiapan kompetisi itu.

__ADS_1


“Semangat. Kalau berhasil aku akan ke amerika, dan setelah itu aku akan jadi eksekutif. Mimpiku bisa jadi kenyataan.” Ungkapnya terus mendorong dirinya agar tetap bersemangat.


Richard pun sengaja membayangkan masa depannya yang cerah tanpa membawa-bawa manajer Anna sedikit pun. 5 bulan berlalu seperti itu, dan lalusuatu hari, kehidupannya yang seperti mimpi itu tiba-tiba terjeda pada saat menerima sebuah telepon.


“Apa?!” Ujar Richard dengan nada terkejut.


“Rumah sakit?!”


“Aku baik-baik saja, aku hanya jatuh, dan hanya perlu dioperasi. Jadi jangan khawatir.” Ujar orang yang menelpon Rihcard tersebut.


Richard pun terlihat begitu panik ketika menadapatkan kabar itu karena orang yang menelponnya tersebut adalah ibunya.


“Dokternya sudah datang. Ibu tutup dulu ya!” Ujar ibunya dan lalu menutup teleponnya tersebut.


“Tunggu…!


“Tung…” Ucap Richard namun telepon sudah berakhir.


Richard yang mendapat kabar dari sang ibu itupun buru-buru ke rumah sakit untuk menjenguk sang ibu, dan setibanya di sana sang ibupun berkata:


“Aku tidak apa-apa, kalau diterapi katanya akan cepat sembuh.” Ucap ibu Richard.


“Terapinya memakan waktu lama, mungkin sulit untuk bisa berjalan seperti dulu lagi.” Balas si dokter yang juga berada di situ.


Tentunya kini beban pikiran Richard pun semakin bertambah, hal itu terlihat ketika sedang berada di kantor. Ia terus memikirkan kondisi ibunya.


“Mungkin saja akan lebih baik kalau aku sementara tinggal bersama mereka, kalau aku mengatur jadwal kerja ku. Ah, tapi sekarang aku punya proyek.” Sambungnya dalam hati.


“Tapi sebentar lagi akan selesai.” Lanjutnya masih berkata dalam hati, dan tiba-tiba kepala departemen pun menegurnya:


“Manajer Richard, bagaimana perogresnya?” Tanya kepala departemen.


Richard pun kaget dan seketika seperti orang linglung, lalu kemudian berkata:


“Ah, iya pak.”


“Kau kelihatan sangat lesu, seperti 5 tahun lebih tua.” Ucap kepala departemen, dan kemudian kembali berkata:


“Ayo bicara sebentar.”


Richard pun pergi bersama kepala departemen, dan perbincangan antara mereka berdua pun berlangsung dengan santai.


“Aku dihubungi oleh tim strategi.” Ucap kepala departemen.


“Oh, iya?” Balas Richard singkat.

__ADS_1


“Kau tahu wakil manajer utama? Yang bertanggung jawab atas kompetisi ini?” Tanya kepala departemen.


“Iya pak.”


“Dia mengajak aku dank au rapat bersama.” Ucap kepala departemen melanjutkan.


“Kenapa dia tidak bilang pada saya?” Ujar Richard bertanya.


“Pedahal kami bicara setiap hari.” Sambungnya.


“Sepertinya ada yang ingin dia katakana lewat aku.” Ujar kepala departemen dan kemudian melanjutkan dengan berkata:


“Gimana kalau sekitar jam 4 sore, bisa kan?’ Tanya nya.


“Saya sih bisa.” Jawab Richard tidak keberatan, dan kemudian melanjutkan dengan berkata dalam hati:


“Ada apa ya?’ Ujarnya bertanya dalam hati.


Setelah pukul menunjukkan jam 4 sore, Richard pun bergegas menuju ke ruangan rapat. Dan, di ruangan rapat itu teryata sudah ada kepala departemen dan wakil manajer utama. Sehingga, pada saat Richard baru saja membuka pintu ruangan, kepala departeen pun langsung menegurnya:


“Ah, manajer Richard. Kau sudah datang?” Ujarnya dan kemudian melanjutkan:


“Kau pasti senang melihat mereka berdua?’ Tanya kepala departemen.


“Aku tidak perlu memperkenalkan mereka lagi kan?” Sambungnya bertanya.


“Iya, wakil manajer utama dan…” Jawab Richard yang belum selesai berkata wakil manajer utama pun memotongnya dengan menyapa dan berkata:


“Selamat siang, dia adalah manajer Leo.” Ujar wakil manajer utama sembari memperkenalkan rekannya.


Setelah itu rapat mereka pun dimulai, dan Richard pun berkata:


“Kalau ada materi yang perlu diperbaiki, anda bisa katakana langsung pada saya.”


“Ah, kau sudah bekerja dengan baik. Idemu cukup baik dan persiapannya juga kelihatan berjalan lancer.” Balas wakil manajer utama.


“Pa eksekutif juga mengharapkan banyak dari timmu. Merka bilang ide kalian bagus dan eksekusinya juga sangat baik.” Sambungnya.


“Terima kasih.” Ujar Richard.


“Tapi apa topik rapat kali ini? Kenapa tiba-tiba, kepala departemen juga ada di sini.” Sambungnya bertanya dalam hati sambil melirik-lirik.


“Ah, jadi manajer Richard.” Ucap kepala departemen dengan nada berhati-hati.


“Katanya proyekmu mirip dengn proyek milik tim lain.” Sambungnya, dan Richard pun tercengang.

__ADS_1


“Apa?” Kaget Richard, dan setelah itu kepala departemen pun kembali melanjutkan.


...Bersambung...


__ADS_2