
...3.3 Di Rumah Manajer Anna...
“Apa itu?” Sahut keponakannya yang satu lagi yang juga penasaran, dan kemudian keponakannya yang satu lagi berkata:
“Apa jangan-jangan itu hadiah untuk kami?” Ujarnya.
Dan begitulah Richard, meskipun ia tadi mengatakan kepada Anna jika dia sudah ada janji penting. Namun, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu Anna. Setelah menemani keponakan-keponakannya makan bersama. Richard pun bergegas pergi menemui Anna.
Setelah menerima pesan dari Anna, Richard pun pergi meninggalkan acara akhir tahun lalu beli wine dan hadiah untuk anak Anna.
“Ah, mainan untuk anak kecil kenapa semuanya besar dan mahal sekali?” Ungkap Richard ketika mencari mainan untuk anak Anna.
“Semuanya memang seperti itu, pelanggan.” Jawab si pelayan toko mainan.
Richard mengajak para keponakannya bertemu 1 jam lebih awal.
“Paman, nanti paman mau ketemu siapa?” Tanya keponakannya.
“Mau kencan? Ibu menyuruh kami untuk menanyaknnya kepada paman.” Sambung keponakannya dan kemudian disahuti oleh keponakannya yang lain.
“Memangnya kalian pernh melihat orang yang mau kencan bawa mainan anak-anak?”
Dan begitulah yang terjadi ketika ingin berkencan dengan wanita yang sudah memiliki anak.
Setelah 1 jam bersama keponakan-keponakannya, Richard pun meminta izin untuk pergi lebih dulu.
“Aku deluan ya, makan yang banyak.” Ujar Richard.
“Bertemu dengan tidak sengaja, tiba-tiba bertemu, bertemu dengan susah payah. Kali ini adalah kencan yang normal meskipun Anna sudah punya anak.
“Manajer Anna, apa anda suka hidangan ayam.” Ujar Richard mengirim pesan kepada Anna.
“Wah, saya suka sekali makan ayam.” Ucap Anna membalas pesan Richard, dan kemudian Richard pun kembali bertanya.
“Ayam? Hidangan ayam? Salad dada ayam? Steak dada ayam?” Balasnya melalui pesan telepon.
Meskipun An apernah mengatakan, silahkan bertemu kapan-kapan. Sungguh Richard tidak menyangka bahwa Anna akan benar-benar mengundang Richard ke rumahnya.
Bahkan tadi saja Richard kecewa dan sedih, tapi ternyata manusia itu sederhana menurut Richard.
“Kenapa dia baru menghubungiku sekarang ya? Memang sih aku juga tidak menghubunginya.” Ungkap Richard dalam hati.
“Mainan ini cukup untuk anaknya, dia juga akan menyukaiku.”
__ADS_1
“Betul, karen dia ada anaknya, ini bukan kencan tapi makan malam biasa. Jangan berpikir berlebihan.” Sambung Richard bebisik dalam hati kecilnya.
Di jalan menuju rumah Anna, Richard berusaha menenangkan dirinya dan berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa, dan itu ternyata sulit.
“Ah, manajer Anna.” Ucap Richard dalam hati ketika melihat pesan masuk dari Anna.
‘Oh iya. Anak saya ada di rumah orang tua saya.’
Tentu saja melihat pesan Anna yang mengatakan hal tersebut pun membuat Richard merasa senang dan tersenyum-senyum dan hati kecilnya pun berbisik.
“Di rumah! Manajer Anna sendirian di rumah!”
“Mengundang aku..!
Seketika Richard pun tanpa sadar membuka pintu mobil dan memilih untuk berlari ketimbang harus menunggu jalanan yang macet. Sontak, mode green light nya pun keluar, ia berlari dengan kencang tanpa merasa lelah sama sekali.
Ketika sampai di rumah Anna, Richard pun membunyikan rumah Anna dan tanpa menunggu lama Anna pun dengan cepat membukakan pintu untuknya.
“Pak Richard.” Tegur Anna sambil tersenyum.
“Silahkan masuk. Di luar dingin kan?” Ujar Anna mempersilahkan Richard untuk masuk ke rumahnya.
“Ah, iya. Iya tida. Ah maksudnya iya.” Jawab Richard dengan nada kaku.
“Manajer Anna, anda sangat memukau saya.” Tutur Richard dalam hati.
“Pakaiannya tidak vulgar, tapi pakaiannya di rumah jauh lebih mempesona.” Sambungnya sambil menelan liru.
“Apa aku lebih baik mempersiapkan diriku dari awal. Kalau tidak sesuai harapan, hal yang terburuk hanyalah aku akan menyesal.” Ujar Ricard lagi terus berbisik dalam hatinya, dan kemudian iapun mencoba menghilangkan pikirannya itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ah, dasar mesum. Aku sedang memikirkan apa sih?” Tuturunya dalam hati mencoba menyadarkan dirinya.
Tetapi meskipun ia sudah berusaha meluruskan pikirannya, ia sudah membeli ****** di mini market sebelum ke rumah Anna dan menyimpannya di dalam sakunya. Selai itu di tangan kirinya ada sebotol wine dan juga bawa mainan anak-anak.
Tangan kanan Richard mulai berkeringat tapi dengan yakin, dan dengan sangat yakin ia menutup pintu rumah manajer Anna. dan akhirnya iapun berada di rumah manajer Anna.
“Berikan barang bawaan anda.” Ucap manajer Anna ketika Richard sudah berada di dalam rumahnya, dan Richard pun memberikan barang yang ia bawa.
“Apa ini?” Tanya Anna.
“Ah, itu.”
“Saya belum sempat memberikan hadiah natal.” Ujar Richard.
__ADS_1
“Astaga, anda tidak perlu repot-repot beli hadiah untuk anak saya.” Pungkas Anna, dan kemudian Richard pun berkata dalam hati:
“Dia pasti sangat senang.” Tuturnya berbisik dalam hati.
Suasananya rumah Anna sungguh berbeda dengan apa yang Richard bayangkan, tidak sama dengan studio apartemen yang biasa ditinggaki seorang wanita atau ruangan yang ditata seperti putri raja yang di rumah orang tuanya.
Setelah itu Richard pun melepaskan jaket yang ia kenakan, dan kemudian Anna pun berkata:
“Sini berikan jaket anda.”
Dan, dengan senang hati Richard pun memberikan jaketnya kepada Anna. Namun, tiba-tiba Richard pun terkejut ketika menyadari ternyata di saku jaketnya itu ada sebuah ****** yang ia simpan.
“Oh iya, di saku jaketku ada dompet yang berisi ****** di dalamnya.” Ujar Richard dalam hati.
“Apa aku ambil dompetku?”
“Konyol sekali kalau nanti tiba-tiba aku ambil, lebih baik aku ambil sekrarang saja.”
“Tidak, dasar mesum. Apa yang aku pikirkan? Tenang, tenang.” Tutur Richard terus berkata dalam hati.
“Lagian manajer Anna tidak akan menemukannya.” Sambungnya dalam hati.
Setelah menghilangkan pikiran mesumnya itu, Richard pun kemudian mengajak Anna untuk mengobrol.
“Sayang sekali anak anda tidak ada di sini. Pedahal saya ingin memberikan langsung paanya.” Ujar Richard basa-basi.
“Yang benar? Tapi kalau ada dia, mungkin saya tidak bisa mengundang anda.” Ucap Anna.
“Nanti saya akan sampaikan kalau ini pemberian anda.” Sambungnya, dan Richard pun tersenyum sambil berkata dalam hati.
“Betul, ceritakan saya pada anak anda. Karena mungkin saja suatu saat dia akan tinggal bersama saya.” Tuturnya dalam hati berharap hal itu akan terjadi.
Pikiran Ricard pun mulai melenceng kemana-mana sehingga iapun menepuk kedua pipinya untuk tidak membuat pikirannya itu terus berlanjut dan kemudian kembali berkata dalam hatinya:
“Apa sih yang aku pikirkan. Ah, dasar orang gila.”
Dan kemudian Richard pun berkata kepada Anna.
“Menu makan malamnya apa> Apa kita akan makan ayam goreng?” Ucapnya bertanya.
“Saya membuat sup ayam ginseng, saya ingin membuatkan anda makanan yang hangat di musim dingin.” Jawab Anna.
...Bersambung...
__ADS_1