Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 24


__ADS_3

...3.4 Bukan Kencan Seperi Biasanya...


Pikiran Richard yang kemana-mana langsung kembali menjadi normal, dan kemudian Richard pun berkata dalam hati.


“Ternyata dia hanya ingin membuatkanku makanan saja, sup ayam ginseng tidak cocok dengan wine. Bukan hidangan untuk orang kencan, hanya sup ayam ginseng.”


Meskipun bukan hidangan yang diharapkan oleh Richard, namun Richard tetap memperlihatkan wajah senang meskipun itu hanya berpura-pura saja.


“Wah, sup ayam ginseng.” Ucap Richard sambil mengajukan jempolnya.


“Anda pandai memasak ya!” Sambung Richard memuji Anna.


“Warna supnya aneh ya? Saya tidak punya ginseng, jadi saya tambahkan sari ginseng merah milik anak saya.” Ucap Anna.


“Sebenarnya saya pandai memasak.” Sambungnya.


“Iya, tolong masak makanan lain juga, tapi sup ayam ginseng memang paling lezat” Ujar Richard kembali memuji Anna.


“Maaf ya lauknya tidak banyak.” Ujar Anna dan kemudian kembali berkata:


“Silahkan buang tulangnya di mangkuk ini.” Sambungnya.


Richard pun kemudian menarik mangkuk yang sudah berisi sup aya, ginseng tersebut, dan ketika ingin menyantap sup ayam ginseng dari Anna itu. Seketika, hati Richard pun tersentak karena mengingat sesuatu ketika Anna berkata buang tulangnya di mangkuk ini.


“Tunggu. Ah, seperti ibuku.” Ucapnya dalam hati.


“Tunggu, dia kan memang seorang ibu. Bukan ibuku.” Sambungnya dalam hati.


Rasanya seperti kakak perempuan yang memanggil adiknya ke rumah untuk memberikan makanan, dengan suasana yang jauh dari kencan ini. Mereka berdua mulai menyantap sup ayam ginseng tersebut. Richard pun menaruh tulangnya di mangkuk lalu mencocol daging ayamnya dengan garam dan menghirup supnya, mereka berdua pun tidak banyak bicara. Mereka berdua tidak merasa harus bicara dan mereka pun makan sup ayam ginseng dengan perlahan-lahan.


Tapi entah kenapa ini adalah pertama kalinya mereka bertemu tanpa membicarakan apa-apa dan anehnya, Richard merasa suasananya melebihi suasana orang pacaran, seperti suasana keluarga.


Richard merasa mereka sudah kenal sejak dulu, dan masih ada banyak waktu untuk mereka habiskan bersama, waktu yang masih sangat lama. Itu yang Richard rasakan saat ini.


Setelah usai menikmati sup ayam ginseng, Anna pun kemudian membawa mangkuk dan peralatan makan yang lain ke wetafel pencuci piring. Sedangkan Richard, sibuk membersihakn meja makan dengan mengelap meja makan tersebut hingga bersih.


“Ah, saya padahal tidak meminta tolong pada anda. Siapa yang mengajarkan anda?” Ujar Anna ketika melihat Richard mengelap meja makannya.


“Saya selalu disuruh ibu saya setiap hari, soalnya saya tinggal sendirian. ini bukan hal yang luar biasa.” Jawab Richard, dan kemudian melanjutkan di dalam hati.

__ADS_1


“Sebenarnya ini supaya aku terlihat baik di depannya.” Ungkapnya dalam hati.


Anna pun kemudian mendekat padanya lalu berkata:


“Katanya sepasang suami istri sering bertengkar karena ini.”


“Semuanya menumpuk dari hal yang sepele.” Ujar Anna.


“Apa maksudnya menumpuk?” Tanya Richard, dan kemudian iapun kembali berkata dalam hati:


“Ah, harusnya aku tidak menanggapi hal itu.” Dan, setelah itu Anna pun menjawab pertanyaan nya tadi.


“Orang biang suami istri bertengkar karena pekerjaan rumah yang sepele seperti ini, tapi mereka bertengkar bukan karena tidak membantu pasangannya satu kali tapi karena kejadian itu berulang ratusan kali.”


“Saat itulah mereka bertengkar.” Sambung Anna.


“Ah.” Tutur Richard berekspresi paham dengan perkataan Anna barusan.


Richard merasa aneh ketika mendengar kata suami istri dari mulut Anna ketika mereka sedang berduaan seperti saat ini.


“Pasti ini topic yang sangat canggung bagi manajer Anna. Ganti topik, ganti topik.” Ujar Richard dalam hati sambil berpikir keras untuk mencari topik pembahasan yang tidak membuat manajer Anna merasa canggung.


“Boleh! Tapi kita minum dengan apa ya?” Tanya Anna dan kemudian melanjutkan:


“Saya hanya punya snack anak-anak, bukan untuk orang dewasa.” Sambungnya dan kemudian Anna pun kembali berkata:


“Ah! Keju.” Ucapnya dan dengan cepat iapun membuka lemari esnya untuk mengambil keju.


Setelah itu Anna pun memotong keju tersebut menjadi beberapa bagian dan memodelnya dengan bentuk yang unik. Sehingga, Richard pun berkata dalam hati:


“Wag, dia bisa membuat keju anak-anak menjadi seperti ini. Luar biasa.” Ungkap Richard dalam hati merasa takjub dengan keju yang telah Anna model itu.


“Mataku memang tidak salah lagi. Karena seperti ini, sekarang rasanya seperti kencan sungguhan.” Ungkapnya kembali berkata dalam hati.


Sesaat manajer Anna pun terlihat seperti sedang berpikir keras ketika menenguk segelas wine yang telah ia tuang ke dalam gelas, dan kemudian Richard pun berkata kepadanya:


“Hari ini anak anda ada di rumah orang tua anda ya? Sepertinya baru pertama kali saya lihat anda sendirian di rumah.” Tutur Richard dan Anna pun menjawab:


“Betul, saya di rumah sendirian seperti ini mungkin hanya satu kali dalam 3 bulan.” Jawabnya, dan kemudian melanjutkan:

__ADS_1


“Saya pernah sekaki cutii setengah hati karena tidak mau bekerja lalu malam harinya saya pergi ke kantor untuk menjemput anak saya.”


“Tapi meskipun begitu saya tidak bisa istirahat, dan saya malah beres-beres rumah sambil mendengarkan lagu.” Sambungnya mulai lepas bercerita.


“Anda terlalu memforsir diri.” Ujar Richard.


“Iya ya, saya tidak tahu sampai kapan saya akan seperti ini.” Jawab Anna.


Setelah itu Richard pun kembali bertanya dengan ekspresi serius:


“Apa yang anda lakukan di hari natal? Saya tidak melihat anda di kantor, dan katanya anda cuti.” Tanyanya kepada Anna, dan seketika Anna pun tertunduk lalu menjawab dengan ekspresi sedih.


“Saya sebenarnya sakit cukup berat.” Jawabnya.


“Saya pergi ke rumah orang tua saya setelah bertemu anda, dan malamnya saya panas dingin sampai subuh. Saya pusing dan mual.” Ungkapnya melanjutkan, dan Richard pun tercengang lalu berkata dalam hati:


“Ah, jangan-jangan karena aku. Karena sudah memaksanya berjalan di tengah musim dingin.”


“Saya berusaha bertahan tapi akhirnya saya masuk unit gawat darurat.” Ucap Anna melanjutkan.


“Saya diperkirakan terkena penyakit meningitis, karena itu saya harus cek cairan serebrospinal.” Sambung Anna, sehingga Richard pun terkejut dan berkata:


“Meringitis?!” Ucap Richard terkejut.


“Akhirnya saya menjalani tes. Tapi dokter bilang saya masih tidak apa-apa, jadi saya menginap semalam di rumah sakit.” Ucap Anna.


“Saya sangat takut sehingga telepon teman saya yang juga adalah dokter.” Sambungnya menjelaskan.


“Kenapa anda tidak bilang pada saya?” Ujar Rcihard berekspresi panik.


“Saya sama sekali tidak tahu, saya sedih anda tidak bilang pada saya.” Sambungnya mencemaskan Anna.


Richard pun merasa kesal karena hal itusehingga tanpa sadar tangnnya pun dengan sendirinya terkepal di atas meja sambil berkata dalam hati:


“Seharunya dia bilang padaku kalau sakit.”


Setelah itu Anna pun memberi penjelasan kepada Richard dengan berkata:


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2