
43.1 Hanya Anna Yang Mengerti
“Apa aku ke night club saja?” Sambungnya sambil meneguk minumannya.
Rasanya Richard benar-benar membutuhkan teman untuk saat ini. Apa saja, ia ingin pesta dan melupakan segalanya.
“Apa aku hubungu kencan butaku waktu itu?” Ujarnya dalam hati.
“Atau mantanku?” Sambungnya dan kemudian masih melanjutkan.
“Gila ya, dia kan sudah menikah.” Tuturnya.
Richard benar-benar pikirannya sudah sempit sampai-sampai memikirkan mantannya barusan, ia benar-benar merasa kesal, tapi ia tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapinya.
Tiba-tiba ponsel Richard pun berbunyi dan pada saat ia melihat. Ternyata itu adalah balasan pesan dari Anna.
‘Ah, maaf. Saya baru lihat, saya sekarang tidak ada di kantor.’
‘Apa anda akan kembali lagi ke kantor? Apa kita bisa bertemu sebentar?’
‘Saya akan ke kantor untuk menjemput anak saya dan langsung pulang. Apa anda bisa tunggu sebentar? Saya akan telepon anda. Sebentar saja!’
Seketika Richard pun merasa terharu dengan balasan Anna tersebut. Karena mereka tidak pernah bertemu selama 3 bulan, dan melalui satu pesan itu Anna menyempatkan waktu untuk Richard.
Setelah beberapa menit berlalu, tiba-tiba Anna pun menelpon Richard, dan dengan sigap Richard pun mengangkat telepon masuk dari Anna itu.
“Pak Richard! Hasil kompetisinya sudah keluar? Atau anda hanya ingin menghubungi saya?” Tanya Anna dalam telepon.
“Proyeknya. Tidak sepenuhnya gagal.”
“Ah bukan, bisa dibilang gagal.” Jawab Richard bernada lesu.
“Ah…”
“Hmm, kita harus bertemu ya? Anda ingin membicarakan sesuatu?” Tanya Anna.
“Betul.” Jawab Richard dan kemudian melanjutkan dalam hati:
“Saya rindu anda.” Ucapnya dalam hati.
“Harusnya anda tanya ‘Apa anda rindu saya?’.” Sambungnya dalam hati.
“Anda tidak punya banyak waktu ya?” Ujar Richard bertanya pada Anna.
“Saya sudah menjemput anak saya dan sedang di jalan pulang.” Jawab Anna.
“Hmm.” Richard mendehem.
“Apa satu jam lagi anda bisa ke rumah?” Sambung Anna bertanya.
__ADS_1
Setelah itu, Richard pun bertemu dengan manajer Anna dan pada saat Richard melihat manajer Anna. Richard pun kembali terpesona akan kecantikan manajer Anna.
“Pak Richard!” Sapa Anna.
“Ah, manajer Anna.” Sahut Richard dalam hati dan kemudian melanjutkan:
“Dia selalu cantik.” Ungkapnya, sambil melirik sandal manajer Anna yang beda sebelah.
“Maaf, saya menghabiskan waktu anda di sore hari seperti ini.” Ujar Richard.
“Sendal yang tidak sesuai tapi imut sekali.” Sambungnya dalam hati.
“Tidak, saya malag yang terima kasih karena kita sudah lama tidak bertemu.” Jawab Anna tidak mempermasalahkan.
Lalu kemudian Richard pun tercengang ketika melihat rambut Anna, sehingga iapun berkata:
“Ah, anda potong rambut.” Ucapnya.
“Sudah lama kok.” Jawab Anna.
“Kita selama itu ya tidak bertemu?” Ujar Richard lagi.
“Hmm sudahlah. Anda kan kemari bukan untuk membicarakan tentang saya.” Ujar Anna.
“Ada masalah apa?” Sambung Anna bertanya.
Setelah itu Anna pun mengajak Richard pergi untuk berbelnja terlebih dahulu sehingga pada saat berada di sebuah mini market Richard pun berkata kepada Anna.
“Di rumah bibi saya. Saya bilang mau keluar beli sesuatu.” Jawab Anna.
“Saya sedikit tidak enak, tapi mari kita bicara sambil ke mini market di depan sini.” Sambung Anna.
Sambil berjalan di samping manajer Anna, Richard pun mulai menceritakan semua yang telah terjadi. MAsalah yang terjadi dengan tim strategi hari ini, masalah di saat proyek dimulai, semua yang berurusan dengan anggota timnya, bahkan soal ibunya yang sakit.
Percakapan mereka terputus karena suara music dan siaran yang keras, tapi manajer Anna tetap mendengarkan semua cerita Richard.
Sementara itu, dengan rajin manajer Anna memasukkan barang yang diperlukan ke dalam keranjang.
“Anda haus? Mau minum apa?” Tanya Anna.
“Saya mau beli the hijau.” Jawab Richard, dan Anna pun tersenyum lalu berkata:
“Kalau begitu mari kita bayar, saya sudah dapat semua yang diperlukan.” Ujar Anna, dan tiba-tiba Anna pun kembali berkata:
“Ah tunggu, saya mau ambil itu dulu sebentar.” Pungkasnya sambil melihat ke tempat buah-buahan.
Usai berbelanja di mini market, mereka pun duduk di sebuah kursi yang berada di sebuah taman dan Anna pun berkata:
“Anda bisa pejamkan mata sebentar?” Ucap Anna meminta Richard memejamkan matanya, sambil tangannya meraba-raba ke dalam plastic belanjaannya tadi.
__ADS_1
Richard pun dengan suka rela memejamkan matanya dan kemudian Anna pun mengusap wajahnya menggunakan tissue basah yang ia beli di mini market tadi.
“Uh, dingin.” Ujar Richard.
“Ah, maaf. Terlalu dingin ya? Anda terlihat kepanasan dan sedang kesal.” Pungkas Anna.
Dan Richard pun baru menyadari ternyata tadi ketika di mini market setelah Anna mengambil dua kantung plastic di bagian buah-buahan dia mengambil es batu yang didapat dari konter ikan dan menaruh beberapa lembar tissue basah.
Anna pun dengan lembutnya mengelap wajah Richard dengan penuh perasaan sambil berkata:
“Mungkin karena anda terlalu lama berada di luar, anda terlihat lelah.” Ucapnya, dan kemudian Anna pun mengambil tangan Richard dan kemudian membersihakan nya lalu berkata:
“Sebenarnya saya ingin membersihkan kaki anda juga, tapi saya tidak akan melakukannya.” Tuturnya.
Sungguh Richard pun sangat terharu akan perlakuan Anna tersebut sehingga hati kecilnya pun kembali berbisik:
“Kata-kata apa yang bisa aku ungkapkan saat ini?”
“Kehangatan?”
“Pengertian?”
“Perasaan kasihan?”
“Keibuan? Bijak?” Ungkapnya dalam hati terus menimbulkan pertanyaan yang membuat ia penasaran akan perlakuan Anna tersebut.
Sungguh Richard tidak bisa menemukan kata yang bisa menjelaskan perasaannya itu. Tapi ia mengagumi segala yang ada pada diri manajer Anna.
“Sekarang baru deh terlihat lebih segar.” Ucap Anna ketika sudah membersihkan wajah dan tangan Richard menggunakan tissue basah yang ia beli tadi.
“Tapi masih kelihatan lemas sekali.” Sambungnya.
Richard pun hanya bisa terdiam sambil berkata dalam hati:
“Kenapa anda melakukan ini untuk saya?”
“Pertanyaanku dibalas senyuman.”
Richard pun merasa bahwa Anna memanglah penyelamat baginya. Karena pikiran Richard kini sudah lebih tenang dan mereka pun mulai berbincang lagi.
“Manajer Je, waktu di tim TF dia kan bekerja dengan sangat baik.” Ujar Richard mulai menceritakan permasalahan yang terjadi padanya, dan terlihat Anna pun dengan seriusnya mendengarkan Richard.
“Kita tidak dalam satu tim yang sama, tapi saya sering iri dan banyak juga junior yang mengikutinya.”
“Menurut saya sih manajer Je orangnya terlalu keras. Saya tidak tahu kenapa proyek kami bisa jadi mirip seperti itu”
“Sangat aneh.” Sambungnya, dan Anna pun membalas dengan berkata:
“Mungkin saja anda berdua memiliki pemikiran yang sama karena bekerja di perusahaan yang sama.” Ucap Anna.
__ADS_1
“Tapi saya tambah kesal karena orangnya adalah manajer Je.” Ungkap Richard belum bisa menerima dengan apa yang sudah terjadi kepadanya.
...Bersambung...