Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 21


__ADS_3

...3.1 Bersama Anna di hari yang dingin...


Richard yang sangat senang itupun pun sangat kegirangan dan berkata dalam hati:


“Terima kasih ya tuhan, ini berkat dari tuhan.!”


“Terima kasih tuhan..! Saya akan rajin memberikan persepuluhan!” Sambungnya dalam hati sangat bersyukur.


Mungkin saja jika tempat yang di datangi oleh Richard ini penuh, maka dia harus memabwa Anna menonton pertunujukan tetater, tapi kalau pertunjukannya sudah dimuai dan mereka tidak bisa masuk. Mungkin saja akhirnya mereka akan berakhir di motel untuk melemaskan tubuh.


“Anda mengajak saya jalan untuk datang ke tempat ini?” Tanya Anna.


Sejujurnya Anna takut manajer Anna marah dan pergi begitu saja, karena itu dia sangat berhati-hati. Tapi Richard sendiri percaya bahwa motel bukanlah tempat yang tepat.


“Silahkan gunakan ruangan yang ini.” Tutur si pelayan mempersilahkan Richard dan Anna.


Ketika sudah berada di dalam ruangan itu Richard pun berkata dalam hati:


“Wah, ini bukanlah meja pasangan tapi sudh seperti ruangan untuk pasangan.” Ungkapnya dalam hati.


“Betul, ini yang aku pikirkan..! Nyaman, hangat, dan sepi..!” Sambungnya dalam hati, dan kemudian memuji sofa yang ia duduki.


“Sofanya empuk dan sendalnya juga nyaman.”


Selain itu, manajer Anna juga terlihat lebih santai sehingga Richard pun berpikir jika pilihan nya ke tempat itu adalah pilihan yang sangat tepat.


Di luar dugaan Richard, manajer Anna pun mulai membaca setumpuk buku yang berjudul ‘20TH Century Boy’. Sejujurnya awalnya Richard sempat bingung harus merekomendasikan buku apa, tapi setidaknya Anna cukup familiar dengan komik.


“Pak Richard.” Ujar Anna menegur Richard.


“Ya? Apa komiknya menarik? Apa anda perlu rekomendasi?” Ujar Richard bertanya.


“Tidak, anu.” Ucap Anna ragu-ragu dan kemudian kembali berkata:


“Apa saya boleh berbaring di pangkuan anda?” Sambungnya meminta izin.


Richard pun tercengang dan tak bisa berbuat apa-apa selain mengizinkan Anna berbaring di pangkuannya. Dengan perasaan tegang dan jantung yang berdetak cepat. Rasanya Richard ingin terbang dan melayang saat Anna sudah berbaring di pangkuannya.


“Hmm, terlalu silau.” Ucap Richard dalam hati dan lalu iapun melindungi wajah Anna dari paparan sinar matahari menggunakan tangannya dan Kemudian manajer Anna pun tertidur di pangkuannya.

__ADS_1


“Dia memang memerlukan saya.” Ucap Richard dalam hati kasihan melihat Anna.


“Ini hari yang sulit nbagi manajer Anna, semoga dia bisa tidur nyenyak walau hanya sebentar, semoga dia bisa kabur dari rasa sakit hari ini.”


“Dia tidak bisa tidur semalaman, dengan hati gelisahnya, dia membangunkan dan menitipkan anaknya lalau bertemu pengacara karena ada kata perceraian yang diucapkan.” Sambung Richard dalam hati.


“Dengan hati yang berat dia mencariku. Ah, semoga saja dia bisa melupakan segalanya.” Sambungnya lagi.


Manajer Anna pun tidur dengan pulas selama 3 jam, dan setelah itu iapun bangun.


“Tidur lagi saja.” Ucap Richard.


“Ah, sudah jam segini. Bagaimana ya?” Ucap Anna sambil melihat jam di ponselnya.


Setelah itu Anna pun menulis pesan yang cukup panjang, dan mungkin dia kirim pesan untuk orang tuanya.


Dan, tiba-tiba perut Anna pun mengorok sehingga Anna berdiri lalu pergi menuju ke tempat pelayan tadi.


“Bagaimana caranya untuk memesan makanan?” Tanya Anna kepada si pelayan.


“Silahkan berikan kartu meja yang anda miliki ketika memesan makanan, nanti bisa dibayar sebelum pergi.” Jawab si pelayan, dan kemudian Richard pun dari belakang datang memberikan Kartu tersebut.


“Apa dulu putri Denmark makan ramen seperti ini? Aku senang melihatnya.” Ungkap Richard dalam hati.


Anna memakan ramennya menggunakan sumpit dengan perlahan dan sangat hati-hati. Richard sesekali mencuri pandanga pada saat Anna menyeruput mie ramennya dan Anna yang sedang makan berbeda dengan wanita yang tadi siang sehingga Richard pun sangat lega melihatnya seperti itu.


Meskipun ekspresi Anna masih muram, tapi kali ini terluhat lebih hidup dari sebelumnya.


Setelah selesai makan mereka pun memutuskan untuk pulang dan Anna pun berkata:


“Saya harus ke rumah orang tua saya untuk jemput anak saya. Saya tidak tenang karena menitipkannya dengan tiba-tiba.” Pungkas Anna.


“Di mana rumahnya? Saya akan pergi bersama anda.” Ucap Richard.


Setelah itu mereka pun pergi, dan untuk ke rumah orang tua manajer Anna, mereka harus menyebrangi sungai dan jalanan yang macet. Tapi Richard tidak mau naik subway atau naik bus.


“Terima kasih saya sudah meminta tolong banyak hal hari ini.” Ujar Anna.


Yang paling penting adalah Richard tidak mau membiarkannya menghabiskan waktu di hari yang dingin sendirian.

__ADS_1


Kemudian mereka pun menyebrangi jembatan untuk menuju ke ruamh orang tua manajer Anna. Hari itu adalah hari sabtu terkahir sebelum hari natal dan lagu natal terdengar dari radio mobil. Dan, tiba-tiba saja Anna pun menyandarkan kepalanya di bahu Richard. Namu di dalam taksi itu, Richard tidak berani merangkul dan memeluknya karena itu Richard merasa bersalah dan menyesal.


Setelah sampai dan turun dari taksi, Anna pun berkata kepada Richard:


“Terima kasih untuk hari ini.”


“Ah, ini lebih dari sebatas terima kasih.” Sambungnya berekspresi malu dan kemudian melanjutkan:


“apa ya ungkapan yang tepat. Terima kasih banyak.” Ucap Anna melanjutkan.


“Kalau boleh jujur, saya sangat berterima kasih anda sudah mau menelepon saya.” Ujar Richard.


Seperti pada saat Richard memegang tangan Anna pertama kali, seperti ketika manajer Anna memeluknya. Richard berpikir ingin senderan, ingin menjadi orang yang penting baginya.


“Silahkan masuk, udaranya dingin.” Ucap Richard menyuruh Anna untuk masuk, dan kemudian Anna pun melemparkan senyum lalu berkata:


“Selamay beristirahat di hari minggu.”


“Anu…” Ucap Richard sambil berpikir dan kemudian berbisik dalam benaknya.


“Apa yang harus aku katakana untuk mengakhiri hari ini?”


“Yang ingin aku katakana, kata yang ingin aku dengar, kata yang tidak boleh aku katakana, kata yang tidak ada artinya.” Bisiknya dalam hati lalu kemudian iapun berkata kepada Anna.


“Hubungi saya.” Ucapnya sambil tersenyum.


Seketika kata-kata yang ada di pikiran Richard menjadi kusut, tapi ia tidak mau terlihat ragu-ragu dan muram di akhir percakapan mereka. Hari yang lebih dingin dari kemarin. Richard sengaja tidak memasukkan tangnnya ke saku dan hanya mengepalkan tangannya, berbeda dengan langkahnya yang lemas kemarin, Richard bisa merasakan trotoar yang ia pijak dan mulai memikirkan soal perasaan, keinginan, dan juga keberaniannya.


Setelah itu Richard pun mensimulasikan berbagai situasi di kepalanya.


“Bagaimana kalau aku hidup bersama manajer Anna?” Tuturnya dalam hati.


“orang tuanya? Anaknya? Tunggu, pacaran dulu sebelum menikah.” Lanjutnya.


“Tunggu, kami harus pacaran dengan tujuan untuk menikah.”


Dan kemudian Richard pun meminta pendapat ibunya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2