Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 7


__ADS_3

...1.7 Beban Hidup Seorang Single Mom...


“Anda terlihat sangat sibuk.” Ucap Richard.


“Minggu ini mau istirahat, harus tiduran karena sakit.” Pungkas Anna.


“Sepertinya anda tidak pernah bilang seperti itu sekali pun.”


“Wah, kok anda tahu?” Ujar Anna dan kemudian Richard pun berkata dalam hatinya:


“Betul juga. Mungkin karena aku menyukaimu?”


“Ah, apa sih yang aku pikirkan? Dia itu sudah menikah. Sudah menikah!” Sambung Richard mencoba menghilangkan pikiran itu.


“Kalender anda selalu penuh dan anda selalu berlari sambil lihat jam tangan. Anda tidak sadar dengan dunia luar, dan sibuk mengantar jemput anak anda.” Ujar Richard.


“Haa. Saya terlihat seperti itu ya?” Tanya Anna dan kemudian Richard pun melihat sorotan mata Anna yang penuh dengan kesedihan.


“Pak Richard, apa saya terlihat tidak mau bergaul karena saya selalu olahraga ketika makan siang dan tak mau makan dengan yang lain?” Tutur Anna bertanya dengan ekspresi sedih.


“Apa? Tidak.” Ujar Richard.


“Jarang bisa bertemu rekan kerja yang bisa diajak mengobrol dan bekerja dengan leluasa. Kebanyakan orang bekerja sendirian,”


“Tapi anda kok bisa rajin sekali olahraga?” Ungkap Richard bertanya.


“Tidak sopan kalau aku tanya apa dia punya penyakit.” Sambung Richard dalam hati.


“Hmm. Saya olahraga untuk keseharan.”


“Kalau saya kelelahan atau sakit. Tidak ada yang bisa mengurus anak saya.” Ucap Anna menjelaskan alasannya berolahraga.


“Saya selalu berhati-hati setiap saat. Saya sama sekali tidak boleh sakit, saya harus bertahan dan harus selalu sehat.”


Dari ekspresi wajah Anna yang terlihat di mta Richard, sepertinya Anna ini begitu banyak memikul beban dan kesedihan.

__ADS_1


“Anda pasti ingin tanya apa tidak ada orang lain yang bisa membantu dan kenapa saya terliht seperti seorang ibu yang kerja dan membesarkan anak sendirian?” Sambung Anna.


“Ah, iya. Tapi kan bisa saja seperti itu, jadi saya tidak perlu menanyakannya.” Ujar Richard.


“Saya dan suami saya hidup terpisah, dan orang tua saya juga tidak sedang dalam situasi yang membantu.” Ungkap Anna.


“Terpisah?” Ucap Richard dalam hat.


“Ah, karena itu dia selalu sibuk setiap hari.” Sambungnya dalam hati.


Dan kin Richard pun tahu ternyata Anna adalah seorang wanita yang selalu sendirian, kesepian. Setiap pagi mengantar anak ke tempat penitipan, lalu bergegas menjemputnya setelah pulang kerja. Di rumah mengurus anak sendiri. Mengganti lampu rumah sendiri, membawa mobil ke bengkel sendiri. Kehidupan single mom.


Karena tidak boleh terlambat menjemput anaknya di tempat penitipan, dia selalu bekerja dengan fokus supaya tidak harus lembur. Mungkin berkat itu dia bisa bekerja dengan cepat dan penilaiannya juga jadi lebih tepat. Dan, begitulah yang dipikirkan oleh Richard saat ini, dia turut merasakan penderitaan Anna tersebut.


“Ayah anaknya ada di mana ya?” Tutur Richard bertanya dalam hati.


“Karena apa mereka berpisah? Aku penasaran, tapi aku tidak bisa menanyakan hal itu.” Sambung Richard dalam hati.


Sungguh Anna adalah single mom yang hebat dan kuat menurut Richard, yang mana Anna harus mengurus semuanya seorang diri tanpa adanya pendamping. Walaupun terkadang bibinya bisa menjemput anaknya ketika dia harus lembur, tapi itu kedengarannya seperti kesempatan yang hanya bisa digunakan sekali saja. Karena itu juga dia tidak bisa makan malam bersama dengan yang lainnya.


Anna menceritakan masa-masa sulitnya seperti itu. Meskipun ada beberapa hal yang tidak bisa ia ceritakan kepada Richard, namun dengan itu saja Richard pun sudah bisa merasakan bagaimana penderitaan seorang single mom seperti Anna. Terlebih lagi jika Anna mencertitakan semua kepedihan dan kesulitan dalam hidupnya. Pasti Richard akan semakin merasakan keterpurukan yang dialami oleh Anna selama ini.


Sontak Anna pun tak bisa membendung air matanya, sehingga pada saat Anna mulai meneteskan air mata. Richard pun terlihat bingung dan tak tahu harus berbuat apa sehingga iapun hanya bisa berkata dalam hati:


“Ah, aduh kenapa saya seperti ini?”


“Wanita terkahir yang menangis di depanku adalah mantan yang putus denganku 10 tahun yang lalu.” Ungkap Richard dalam hati.


Anna tidak banyak menceritakan tentang suaminya kepada Richard. Sehingga itu membuat Richard semakin penasaran lagi. Banyak kata-kata yang tidak boleh diucapkan yang berusaha keluar dari mulut Richard seperti:


“Kenapa…”


“Kenapa anda setuju menkah dengannya?” Tanya Richard serius.


“Orang yang seperti anda, kenapa? Apa itu hanya keinginan naif? Atau pilihan yang ceroboh?? Atau situasi berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa diperkirakan seperti ini?” Sambung Richard.

__ADS_1


“Aku tidak tahu jawabannya.” Jawab Anna dan kemudian Anna pun sepertinya sadar jika tidak seharusnya ia menceritakan hal itu kepada Richard. Sehingga Anna pun dengan cepat mengusap air matanya.


“Ah, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak tahu kenapa saya menangis.” Tutur Anna mencoba merubah kesedihannya tadi menajdi tawa.


“Santai saja, saya tidak bisa menangis bersama karena saya tidak punya air mata. Tapi anda lupakan saja.” Ucap Richard.


“Haha, anda bicara apa sih?” Ucap Anna salah tingkah dihadapan Richard.


“Hahah…” Sambung Anna tertawa dengan airmata yag masih berlinang di pipinya.


Wanita yang lulus dari universitas bergengsi dan bekerja di perusahaan ternama sampai membuat orang lain iri menjalani kehidupan dengan sangat kejam di dunia ini. Ternyata beban kehidupan yang harus ditanggung wanita seperti Anna ini sangat besar.


“Ah saya kenapa begini sih.” Ujar Anna mengusap air matanya yang masih membasahi pipinya itu. Dan, tiba-tiba saja Richard pun menyosor tangan Anna.


“Aku khawatir tanganku akan menambah bebannya, tapi perlahan-lahan aku ingin meringankan bebannya.” Ungkap Richard dalam hati.


Richard menaruh tangannya di atas tangan Anna, hanya menyentuh tanpa memegangnya dengan erat. Hal ini mungkin berbeda dengan yang diharapakn dari kisah seorang pria dan wanita yang berada di ruangan tertutup. Tapi begitulah yang terjadi antara Richard dan Anna.


“Terima kasih sudah mendengarkan cerita saya” Tutur Anna.


“Saya tidak tidak ingat kapan terakhir saya menangis. Ah saya sangat aneh, ya? Hahahah” Sambung Anna dibarengi dengan tertawa untuk menutupi kesedihannya.


“Kenapa saya tiba-tiba cerita pada rekan kantor yang lebih muda dari…” Ucap Anna belum menyelesaikan perkataannya tiba-tiba dipotong oleh Richard.


“Tidak, terima kasih sudah mau cerita pada saya.”


Dan Anna pun kembali salah tingkah ketika Richard berkata seperti itu dan kemudian.


“Anu, mata saya bengkak ya?”


“Ehm, kalau keluar bersama sepertinya akan sedikit aneh.” Ucap Anna dan kemudian iapun berdiri lalu berkata:


Bagaimana kalau saya keluar deluan, setelah itu baru anda keluar?” Pungkasnya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2